I'm (Not) Chinese..I'm Indonesian

Dear YOTers... dalam hitungan hari, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2013 kita akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia

dahulu waktu kecil, kita merayakannya dengan mengikuti pelbagai lomba, upacara bendera dan lain sebagainya.

 

gegap gempita terjadi dimana-mana, menikmati tanggal merah yang datang setahun sekali.

beberapa kali travelling ke negara orang lain, well..nggak usah jauh-jauh deh.. tetangga kita saja seperti Malaysia dan Singapura... saya jadi membandingkan kekayaan Indonesia... bayangkan untuk kuliner saja kita memiliki berpuluh-puluh macam jenis.

soto...ada berapa macam? soto sulung, soto lamongan, soto banjar, soto daging, dll

ayam...ayam penyet, ayam goreng, ayam balado , dll..

 

ketika saya travelling, saya selalu berdecak kagum betapa saya sangat bersyukur bisa menjadi warga negara Indonesia-yaitu negara kepulauan terbesar di dunia...

 

namun rasa bangga saya dengan Indonesia, (terkadang) tidak disertai dengan rasa bangga bbrp "oknum" teman-teman yang "notabene" pribumi.

 

sejak kecil saya tumbuh dan besar dilingkungan multikultural.. saking multikultural-nya bahkan saya tidak merasa sebagai seorang keturunan tiong hua  (walaupun papa saya asli orang sunda-jawa, sementara mama cina-betawi)

keluarga saya tidak hanya multikultural, tapi juga multibelief... jadi jangan kaget kalau saya punya saudara-saudara sepupu yang pergi ke mesjid, gereja dan vihara :)

papa kerap menanamkan "kamu itu bukan orang cina, kamu itu orang Indonesia"

sebagai anak kecil , saya selalu merasa sama dengan teman-teman saya...hingga suatu saat saya beranjak dewasa...

 

untuk pertama kalinya ketika SMP..ada seseorang yang memanggil saya "amoy..cina" , dan saya selalu bilang bahwa saya bukan cina (karena ucapan papa sudah mendarah daging)

beranjak lebih dewasa, saya baru menyadari bahwa kulit saya berbeda, mata saya sipit... dan saya sadar, bahwa ada darah keturunan tiong hua di dalam saya...

 

memasuki dunia kampus, dimana mayoritas mahasiswanya 90% adalah keturunan tiong hua, membuat saya berpikir mungkin saya akan lebih bisa diterima oleh mereka...tetapi justru saya merasa sangat asing karena tidak dibesarkan dengan pemahaman , apalagi kultur tionghua...

 

saya juga kerap mendengar orang mudah sekali menyebutkan sebuah label yang tak lepas dari ras seseorang contoh :

A : "kenal sama si stefanus gak?"

B : "stefanus mana? stefanus ambon?"

 

atau lain waktu :

A : Lo tetangganya si Mely?

B : Mely yang cina?"

 

Berbeda sekali dengan label yang ini...

A : Catetan lo di pinjem ya? sama siapa?

B : Sama si Andi kriting / Andi Item

 

sounds familiar?

cerita diatas hanya ilustrasi, tapi pernah dong mengalami atau sering mendengar percakapan tersebut.

 

mengapa kalau Mely harus dikenali dengan label "Mely cina" atau "Stefanus Ambon?", sementara si Andi yang kebetulan orang jawa, orang sunda atau orang bugis, disebut dengan ciri fisik "Andi kriting?"

Kenapa tidak disebut Mely yang putih?", atau stefanus yang jangkung?"

kenapa harus ada ras yang mengikuti "label" dibalik nama panggilan.

buat saya itu adalah bibit diskriminasi yang tidak disadari. Memang kecil, tetapi kita tahu bahwa semua hal besar dimulai dari hal kecil, bukan?

Saya lahir dan besar di Indonesia...saya boro-boro bisa bahasa mandarin (kalau nggak karena ngeles)

Saya tidak pernah meng-eksklusifkan diri saya dengan bermain hanya pada sesama keturunan tiong hua...

Saya hanya ingin diterima sebagai Bunga Mega yang berkarya, anak Indonesia yang punya segudang mimpi untuk membangun negara Indonesia...baik  untuk rakyat tiong hua maupun pribumi di dalamnya...

 

saya pernah membaca sebuah buku yang membahas asal mula penyebutan cina kepada etnis tionghua.  orang-orang keturunan, memang disebut dengan tionghua, sementara sebutan "cina" pada awalnya ditunjukkan untuk menghina. berawal dari kata "XINA" yang kemudian beralih menjadi CINA. 

sama seperti sebutan "BULE" bagi warga asing dari belahan dunia barat. karena bule sendiri berasal dari bahasa sansekerta/bahasa jawa lama (cmiiw) yang artinya adalah sapi putih.

jadi kalau ada yang bilang "eh..ada bule..ada bule" artinya ia sedang menyebut "eh ada sapi putih"

well...bersamaan dengan notes ini, saya hanya ingin mengajak para YOTers untuk mencintai keberagaman, perbedaan... karena sikap toleransi hanya dapat terbentuk dari kemampuanmu menerimanya.

saya sama dengan kalian... lahir dibawah bendera merah putih

saya tidak berbeda dengan kalian...karena saya menjejak langkah pertama saya,disini... di bumi Indonesia

etnis, suku, ras adalah hanyalah tautan biologis...

.tidak ada cina, tidak ada pribumi..yang ada hanya saya dan kamu...

orang Indonesia :)

 

 

 

 

 

 

 

 





By : Bunga Mega

Posted on August 13, 2013 read:1,755

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500



  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter