YOT Updates

Billy Boen Dari Komunitas Ubah Mindset Generasi Muda



Venue : Jakarta

Hari/Tanggal : 04/February/2016 - 04/February/2016


Lewat Young on Top, Billy Boen mengajak kaum muda bertransformasi mendobrak pemikiran konvesional tentang beragam hal terutama pendidikan. Baginya pembenahan mental akan kesuksesan jadi harga yang tak bisa ditawar. 

Billy begitu sapaannya, pada usia yang relatif muda mulai dikenal publik sebagai salah satu contoh yang memiliki karier cemerlang.  Beragam posisi penting di beberapa brand ternama seperti Nike, Oakley, dan Hard Rock pernah dirasakan pria kelahiran 13 Agustus 1978 ini.  Di usia 26 tahun Billy malah dinobatkan menjadi General Manager PT Oakley Indonesia. 

Tak sampai disitu, Desember 2006 Billy mendirikan Jakarta International Management (JIM) dan Jakarta International Consulting (JIC) pada Desember 2009. JIM bertujuan melayani semua kebutuhan di industri fashion. JIM sendiri memiliki beberapa divisi, yakni: agensi model (JIM Models), manajemen artis (JIM Artists), fashion event organizer (JIM Events), fotografi (JIM Photography), fashion consulting (JIM-DARE Fashion), dan JIM-F performing academy (bekerja sama dengan FashionTV Indonesia). Sedangkan, JIC merupakan konsultan di bidang pemasaran, khususnya pengembangan brand.

Brand, brand, brand. Yup kata itu memang punya makna istimewa bagi Billy.  Sejak menginjak pendidikan dasar, Billy mengungkapkan dirinya mulai jatuh cinta dengan brand.  Bahkan seiring berdendangnya waktu, Billy kian yakin bahwa passion-nya menyangkut brand manajemen.

“Jaman dulunya setiap naik kelas gue dikasih sepatu Nike. Habis itu gue mikir sepatu kok kalau ada lambang Nikenya jadi lebih mahal ya. Sepatu kan hanya alas kaki saja.  Nah dari kecil gue sudah mikir, lama-lama setiap melihat brand gue berpikir dan gue tertarik. Sampai akhirnya gue ambil kuliah yang menyangkut itu,” ujar Billy. 

Billy bercerita, passion itulah yang menjadi pegangan kompas kariernya.  Ketegasan akan pilihan itu yang membuat Billy sewaktu SMA memilih ‘turun’ kasta perihal penjurusan.  “Waktu SMA gue disarankan masuk IPA tapi saya milih IPS karena gue tahu saya mau jadi bussinesman. Sampai akhir kuliah gue ambil marketing dan S2-nya gue ambil brand management. Begitu lulus kuliah, gue tidak menyebar seribu resume, gue hanya menyebar empat resume, gue menyebar ke benar-benar brand.”

Ditarik mundur, mula karier Billy start pada usia 22 tahun seusai lulus dari pendidikannya di Amerika Serikat (S1 di Utah State University dan S2 di State University of West Georgia).  Kala itu, Billy bergabung dengan PT Berca Sportindo, distributor tunggal Nike di Indonesia. Posisi awalnya sebagai Asisten Manajer Lini Produk Divisi Footwear. Setahun kemudian, ia naik pangkat menjadi manajer di divisi yang sama. Setengah tahun berikutnya, ia dipromosikan menjadi manajer (yang lebih senior) untuk semua divisi: footwear, apparel, aksesori, dan perlengkapan. Setahun berselang, ia menempati pos Manajer Penjualan & Pemasaran Nike (korporat).

“Ketika gue tahu apa yang gue mau, apa passion gue, setiap hari day one sejak 2001 hingga detik ini saya tidak pernah merasa bekerja. 

 

 

Saya enjoy dengan apa yang saya lakuin.  Karena gue suka sama brand.  Gue bergerak ke arah situ, lulus cepat. Kenapa lulus cepat, karena gue mau cepat jadi bos.” 

Tahun 2005, Billy keluar dari Nike dan bergabung dengan Oakley Indonesia  dengan posisi sebagai General Manajer (GM). Kinerja Billy terbilang memuaskan karena menaikkan penjualan Oakley hingga tiga kali lipat.  Tiga tahun berikutnya, Billy digaet Grup MRA (Mugi Rekso Abadi) untuk mengisi Kadiv. F&B. saat itu, Billy membawahi tiga entitas bisnis milik Grup MRA, yakni Hard Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali, dan Haagen-Dazs.

“Kenapa saya di dalam empat setengah tahun kariernya naik terus? Karena saya tidak pernah berpikir sesuai dengan job description. Di dalam human resources juga penting, persepsi mengenai job description. ‘Semua’ karyawan berpikir bahwa kalau gue sudah melakukan job description gue, tahun depan gue pantas dipromosikan. Begitu tidak dipromosikan ngedumel. Padahal job description adalah pengharapan minimum perusahaan terhadap karyawannya. Jadi kalau lo gue bayar Rp10 juta untuk melakukan 1-5 ya sudah sewajarnya lo melakukan 1-5. Tapi kalau lo melakukan 1-7, lo akan dilihat oleh atasan dengan nilai tersendiri.”

Kendati dirinya berstatus sebagai pekerja, ia mengaku tetap memiliki kontrol atas apa yang ia yakini.  “Ketika saya menjadi GM-nya Oakley, saya kerja buat orangnya. Tapi kata siapa saya tidak bisa punya pemikiran saya harus tetap nurut mereka. Dari awal saya bilang, ‘You trust me untuk memimpin perusahaan ini. Kalau Anda tidak percaya saya, pecat saya saja, cari orang yang bisa lo percaya, kalau lo mau ikut campur.’  Sehingga shareholder bisa dengar dari satu pintu saja.  Tidak ada yang perlu ditutupi dalam satu tim. My managemet style adalah transparan.  Sense of belonging harus dimiliki. Yang itu tidak banyak dimiliki oleh karyawan di Indonesia.” 

Billy mengungkapkan peran keluarga sangat besar dalam pembentukan karakternya. Adalah sosok sang Ayah yang menjadi role model bagi Billy. Petuah bijak dari sang Ayah yang masih terus dipegangnya adalah mengenai networking. Dan benar, sejak kecil, hobi Billy adalah berteman  Baginya berteman dengan banyak orang sama artinya menciptkan banyak kesempatan.

“Hobi gue dari kecil ditanya adalah berteman. Banyak yang bilang aneh. Kenapa gue bilang itu. Karena kata My Dad bilang kalau mau sukses harus punya banyak teman. Jadi hobi gue berteman sajalah. Padahal kalau kata-kata itu mau dibedah, bagaimana caranya punya banyak teman. Kan harus punya attitude yang baik. Emang gampang? Lo harus open minded terhadap ide-ide orang. Lo harus tahu bagaimana cara bawa diri. Ketika berbeda pendapat lo nggak marah, nggak emosi, lo berusaha mengerti bagaimana pendapat orang lain, lo berusaha nolong orang, lo berusaha berbagi, itu nggak gampang karena harus menjadikan itu habit.”

“Tidak penting untuk menjadi yang terbaik diantara yang lain. Yang penting menjadi yang terbaik dari diri kita. Sekolah pakai rangking adalah salah satu sistem pendidikan di Indonesia yang salah. Rangking satu paling pintar, terus paling pintar so what? Paling sukses nggak? Siapa lo bisa menjudge seperti itu. So what rangking satu, gue pengen tahu teman-teman gue yang rangking satu dimana, gue malah nggak tahu dimana. Justru yang bandel dan punya banyak teman yang punya bisnis segala macam. Jadi mentalitas itu yang perlu dibenahi,” kata Billy bersemangat.

Bagi Billy, masih ada gap antara sistem pendidikan di Indonesia dengan dunia kerja.  Menurutnya, sistem pendidikan di Tanah Air masih mengedepankan teori semata, bukannya praktikal serta pengembangan soft skill yang nyata-nyata sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Berangkat dari itulah Billy melakukan gerakan perubahan melalui Young on Top (YOT).

“Ada gap antara sistem pendidikan kita dengan kenyataan di lapangan. Value-value dan mental yang penting. Karena ada gap itu ada pengembangan dari buku Young on Top menjadi sebuah gerakan seperti kampus road show, komunitas, dan banyak kegiatan lainnya.Gerakan ini harus berkembang berkesinambungan. Young on top Mengisi kekurangan oleh sistem pendidikan saat ini. Lebih bermitra, bukan revolusi pendidikan. Secara informal mengisi segala macam kekosongan yang tidak diajarkan pendidikan formal.”

Pada mulanya, Young on Top adalah buku karya Billy yang terbit pada April 2009. Secara umum, buku ini ditujukan kepada anak-anak muda untuk bisa meraih kesuksesan terutama di dalam pekerjaannya atau di dunia bisnis. Seiring waktu, YOT kemudian berkembang menjadi sebuah rangkaian YOT Campus Roadshow. Tak berhenti disitu, YOT meluas ke program radio nasional dan bentuk gerakan nyata lainnya yang bertujuan untuk berbagi.

“Saya punya mimpi kalau besok saya meninggal, gerakan Young on Top jalan terus. Untuk apa?  Saya berharap bisa berbagi value yang baik, sehingga pada akhirnya gerakan ini bisa berarti bagi Indonesia. Saya juga sekarang buat Young on Top merchandise t-shirt, untuk setiap 1 kaos yang dibeli ada 1 kaos dibagikan untuk orang tidak mampu. Semua harus ada benang merahnya untuk berbagi.”

“Saya sudah muak melihat negara ini yang anak mudanya tidak tahu arti sukses. Mereka selalu melihat sukses itu kaya raya tajir melintir. Padahal mana ada yang sukses instan. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita bisa sukses tapi yang penting sustainable. Bisa terus sukses berkelanjutan. Sehingga SDM sekarang karena tidak punya panutan jadi tidak tahu sebenarnya apa sih arti sukses, bagaimana mencapai sebuah kesuksesan yang sustainable. Tanpa adanya role model mereka seperti lose.”

Billy menekan untuk SDM Indonesia agar menjadikan attitude yang baik sebagai habit.  “Kalau mau sukses jadi orang yang punya attitude yang baik. That’s number one. Bukan jamannya lagi orang pintar sukses. Gue mending jadi orang yang nggak pintar tapi punya attitude yang baik ke semua orang,” ujarnya

    
  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter