Agama & Marital Status TIDAK PERLU Dicantumkan di CV

Terinspirasi dari insiden yang terjadi beberapa waktu lalu, dan yang terjadi kembali hari ini (meski  insiden hari ini belum diketahui siapa pelakunya dan apa motifnya)…tadi siang saya me-tweet di @BillyBoen :

-          Interesting fact: Do U know Indonesia satu2nya (atau klpun ada yg lain, hanya segelintir negara) yg menuliskan agama di ID (KTP)?

-          Agama, salah satu dr bbrp info pribadi yg TIDAK sy lihat ketika mensortir CV/Resume. Agama TIDAK PERLU dicantumkan dalam CV/Resume

-          KTP dulu dpaksa ada agama sbg ‘prsyaratan’ km bkn PKI. Skg kbiasaan nulis agama d CV bs djadikan sumber diskriminasi oleh oknum2 interviewer

-          Di CV saya, TIDAK PERNAH ADA agama & TIDAK PERNAH ADA marital status. Saya TIDAK PERNAH ada problem dptin kerjaan yg sy ingini

4 tweet yg otomatis terposting di wall facebook.com/billyboen mendapatkan 32 total comments. Ada yang ‘nerima’ ada juga yang ngga setuju dengan pendapat-pendapat saya itu. Beberapa kali saya coba untuk memberikan pemikiran saya lebih dalam daripada 140 characters yang bisa saya tulis di twitter dan beberapa paragraph di comment FB. Susah rasanya, and that’s why saya tulis artikel ini.

Di ‘akhir masa’ diskusi, saya mendapatkan 1 tweet yang ditujukan ke saya: “@BillyBoen yg td mnrt sy bukn diskusi,krn kalo sy prhatikan smua pndpt tmn2 dibabad hbs sama mas@BillyBoen..just coment.  :)”

Jujur, bukan maksud ‘membabad habis’ pendapat teman-teman. Seperti yang saya bilang di atas, saya hanya mencoba berargumentasi dengan mereka yang tidak setuju dengan pemikiran saya. I respect their thoughts, and I would expect the same from them. Ingat tentang chapter “Open Minded” dan “Respect” di buku “Young On Top”?

Anyway, balik ke topik artikel ini. Apa yang saya mau sampaikan di sini begini…

Saya sudah mereview ribuan CV,membuang ribuan CV, dan meloloskan ratusan CV untuk ke proses selanjutnya, yaitu interview. Perlu digarisbawahi bahwa ketika saya membuang ribuan CV, dengan saya sadari, saya berusaha 1,000% untuk tidak melakukannya dengan mempertimbangan agama dan marital status mereka.

Yes, hampir rata-rata semua menuliskan agama dan marital status bersama dengan informasi personal mereka: nama, alamat, umur, nomor hp, dan alamat email. Seperti di salah satu tweet saya, saya tidak melihat agama dan marital status sebagai suatu pertimbangan dalam proses penyeleksian untuk kelanjutan proses berikutnya.

Sekadar untuk meluruskan apa yang sering menjadi salah persepsi yang ada di benak kebanyakan orang di Indonesia: CV itu BUKAN untuk mendapatkan pekerjaan tapi CV itu untuk mendapatkan kesempatan dipanggil interview. Interviewlah (dan dibeberapa perusahaan psikotes juga) yang akan menentukan apakah kamu akan mendapatkan pekerjaan tersebut atau tidak.

Dengan demikian, apapun yang kamu tulis di CV, BUKAN untuk mendapatkan pekerjaan, tapi untuk mendapatkan kesempatan dipanggil interview. Beberapa komentar di facebook saya pada intinya bilang bahwa informasi agama dan marital status dibutuhkan untuk supaya perusahaan bisa menentukan THR, tunjangan kesehatan individual/keluarga, dan sebagainya. Menurut saya, agama dan marital status sah dan sangat wajar ditanyakan oleh HRD kepada karyawan yang TELAH SUKSES melewati semua tahap perekrutan. Kenapa ini seharusnya tidak perlu dicantumkan di CV? Karena kedua hal ini (dan juga tanggal lahir) bisa dijadikan sumber diskriminasi oleh oknum-oknum yang in charge diproses penyeleksian awal.

Ingat, kalaupun kamu menjadi korban diskriminasi oleh oknum-oknum ini, kamu tidak akan pernah tahu. Yang kamu tahu, kamu tidak dipanggil interview! Tapi, inipun tidak bisa kamu pastikan karena mungkin juga kamu tidak dipanggil interview karena kualifikasi kamu yang tidak mencukupi. Jadi, dengan kata lain, kalau kamu mencantumkan kedua hal ini, kamu telah memberikan kesempatan dirimu untuk menjadi korban diskriminasi tanpa kamu akan pernah ketahui. Menyedihkan? Yes!

Saya tidak pernah menulis agama, marital status, dan tanggal lahir di CV saya, dan saya tidak pernah mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan kesempatan interview bahkan sampai ke pekerjaan yang saya ingini. Kenapa kamu tidak mencoba saran saya untuk tidak menuliskan kedua (atau ketiga) hal ini? Dengan kata lain, perbesar kesempatanmu untuk dipanggil interview.  Kalau kamu dipanggil interview, berarti kamu sudah satu langkah lebih dekat ke yang namanya menjadi seorang karyawan alias tidak jobless.

Kalau ketika diinterview ditanyakan apa agama dan marital statusmu (saya pernah), jawablah dengan sopan, “Maaf Pak/Ibu, apakah jawaban saya akan mempengaruhi hasil interview ini?” atau “Maaf Pak/Ibu, apakah yang ditanyakan ini berhubungan dengan posisi yang saya lamar?” Yes, saya pernah ditanya seperti ini, dan kedua pertanyaan inilah yang saya tanyakan balik ke yang menginterview saya. Hey, kalau sampai kamu tidak mendapatkan pekerjaan karena kamu menanyakan kedua pertanyaan ini ke si interviewer, saya rasa kamu tidak perlu kecewa dan sedih…kamu harusnya senang untuk tidak bekerja di perusahaan yang diskriminatif terhadap agama dan marital status seperti itu!

Masih di facebook saya, ada yang berpendapat…boleh-boleh saja idealis dengan tidak mencantumkan agama dan marital status di CV, tapi kita harus ingat bahwa ini Indonesia, bukan Amerika. Saya selalu respect pendapat orang lain, meski pendapatnya berseberangan dengan pendapat saya. Namun, saya jujur sedih kalau ada yang berpendapat seperti demikian.

Sama halnya seperti ON TIME, mau sampai kapan Bangsa ini bilang, “Aaaaah ngga usah idealis, on time itu perlu tapi inikan Indonesia, bukan Amerika?” Pertanyaan saya simple, ”Mau sampai kapan kita terus menerus ‘membenarkan’ semua tindakan kita yang salah dan menyalahkan Bangsa kita?” Kalau pendapat tentang menulis agama dan marital status di CV masih ngga apa-apa karena ini Indonesia dan seperti inilah yang ada di Indonesia sekarang ini, silahkan jawab list pertanyaan-pertanyaan saya berikut:

-          Kita ngga usah on time, karena kultur di Indonesia orang-orangnya ngga pada on time?

-          Kita boleh buang sampah sembarangan, yang buat kali kita jorok dan kota kita banjir, inikan Indonesia?

-          Ngga apa-apa terobos lampu merah karena inikan Indonesia?

-          Ngga apa-apa korupsi, inikan Indonesia bukan Amerika?

-          Ngga apa-apa umat beragama saling bunuh, ini kan Indonesia?

… masih ada ribuan pertanyaan yang bisa saya tulis disini.

Please baca tulisan ini dengan “Open Minded”. Ingat, wherever you stand on this issue, I respect you.

Akhir kata, jangan biarkan dirimu dijadikan korban diskriminasi oleh oknum-oknum tertentu (tanpa kamu ketahui).

Thanks,

BB

PS: Di dalam memberikan contoh, saya selalu memberikan contoh yang ekstrim, tujuannya supaya mudah dicerna…supaya yang membaca bilang dalam hatinya, “O iya ya…”

  




By : Billy Boen

Posted on September 12, 2010 read:13,799

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter