Baca buku itu bukan “kewajiban”

Kalau lo setuju bahwa baca buku itu bukan kewajiban, silahkan lupakan buku mata kuliah yang berhasil buat lo mumet itu untuk sejenak.

Pertama, siapa yang bilang kita berkewajiban untuk baca buku ? itu bukan kewajiban, itu HAK kita semua untuk ciptaan yang diberikan akal pikiran. Nah loh ? Coba bayangkan, zaman sekarang mana ada batasan untuk lo baca buku, apapun itu sampai yang alirannya kurang jelas juga lo mampu baca dengan cara “googling”. Trus, kenapa kita harus menggunakan hak kita ini ? balik lagi ke kalimat sebelumnya, “ciptaan yang diberikan akal pikiran”. Tuhan baru “memberikan” dan kita punya HAK untuk menggunakannya. Tapi, kenapa masih kurang minat baca kita ? Balik lagi ke kalimat sebelumnya, kita semua belum sadar sepenuhnya bahwa kita punya HAK tadi dan kita masih sibuk mencari jalan akselarasi lainnya.

Baca buku harus jadi habit, bukan karena hanya pelajaran perkuliahan atau dikejar bahan paper/makalah tapi karena kita haus akan pengetahuan alias kalau gue “pengen tahu”. Ada yang menyarankan bahwa membaca buku haruslah luas, tidak terbatas dengan major yang kita inginkan karena kembali lagi, perspektif, seberapa lo mampu mendalami suatu “case” ketika lo mampu mengkorelasikan dari satu fakta ke fakta lainnya dengan sisi yang berbeda. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika lo mampu menemukan titik-titik sebab akibat dengan membaca banyak referensi akan satu kasus, lo mampu menemukan kesimpulannya.

Tak terbatas bagaimana kita mampu mengakses info apapun dengan membaca buku, membuka cakrawala dan perspektif kita lebih luas. Ini yang menjadi salah satu pendorong gue untuk mulai kembali mengaktifkan aktifitas positif ini dalam keseharian gue. Di awal memang tidak mudah karena gue selalu merasa kekurangan waktu namun gue harus tetap meluangkan waktu minimal 3.5 jam untuk dapat membaca printed book (gue kurang pas dengan e-book).

Banyak referensi yang menyebutkan bahwa membaca buku dapat meningkatkan intelegensi (tentu saja) dan terutama mencegah penyakit Alzheimer tapi lebih dari itu, gue merasakan bahwa dengan membaca buku juga membantu menumbuhkan rasa empati yang lebih dalam di diri gue. Kenapa ? karena melalui buku yang saya baca, gue belajar untuk memahami situasi dan orang lain. Rasa empati ini juga membantu gue untuk mampu bersosialisasi dengan orang lain.

Gue sadar, bahwa satu-satunya potensi yang belum gue maksimalkan adalah hak gue untuk membaca buku seluas-luasnya dan ini menjadi tugas terbesar gue sekarang.

Jadi masih belum sadar atau tergerak untuk menggunakan HAK lo ?

Turning point gue ketika akhirnya gue sadar bahwa gue harus memupuk habit ini kembali adalah ketika mama gue memberikan nasehat seperti ini,

“Kamu harus banyak membaca, bukan mama atau papa yang menentukan kelak siapa dan seperti apa kamu di masa depan, pribadi kamu di masa depan bahkan kesuksesan sekalipun ditentukan oleh buku apa yang kamu baca hari ini dek, baca buku memang jendela saja tapi bagaimana kamu tahu mana yang benar dan bijak kalau kamu gak baca buku, bukunya jangan komik aja dek”

Deg.

Gue langsung inget bahwa gue semester 5, dan apa yang gue baca ? yaa almost masih buku seputar perkuliahan dan rasanya gue masih terbelunggu dengan rutinitas yang ada sehingga selalu punya alasan untuk menunda baca buku (sebenarnya gue rajin ke Gramed, beli buku dengan uang jajan but semua ketumpuk gitu aja di kamar dan bisa berhasil baca ampe selesai paling 1-2 buku dari total buku puluhan yang dibeli hehhehe). Sejak SD, memang gue suka baca buku dan pengunjung yang rajin ke perpus but setelah perkuliahan, kebiasaan ini berkurang karena gue keasyikan  dengan hal lain – organisasi.

Intinya, pas ortu bilang gitu dan mendadak (mungkin karena gak pernah liat anaknya lagi baca di rumah dan focus ke laptop mulu), gue langsung khawatir.. iyaa serius dah, gue sadar banget bahwa apa yang ada hari ini, diri gue hari ini, salah satunya dengan buku yang gue baca kemaren-kemaren pas masih bocah ?

Contohnya ? gini, zaman SD-SMP gue suka baca buku scientific dan fantasy, mau gue sebutin (?) dan secara gak sadar saat gue ke bioskop, gua akan langsung jatuh ke pilihan seputar 2 genre itu (mau gue kagak tahu pemainnya kek atau sinopsisnya gak seru-seru amat, gue tontong deh). Bener kan kata emak gue ? *ini dengan contoh simplenya ya

Contoh  yang lebih luas ? hmmm, gue pernah baca buku “How to Win Friends and Influence People” karya siapa ya Dale Carnegie, coba googling deh, banyak hal yang gue aplikasikan dalam hidup dan match bgt saat kita bersosialisasi, ridiculous ketika lu mampu memahami perspektif orang lain namun lu mampu membuat perspektif lu yang diterima dengan cara yang elegan. Highly recommended! Singkatnya, kemampuan ini memberikan gue kesempatan besar untuk lead suatu tim yang akhirnya menjadi batu pijakan ke kesempatan luar biasa lainnya.

Jadi, lewat artikel ini gua hanya ingin membantu ingatan teman-teman semua bahwa kita punya hak yang belum kita optimalkan, hak untuk membaca buku. Belum sadar juga ? hmm menarik, kembali baca buku kuliah yg tadi wkkwkw

  




By : Maria Elvani Situmorang

Posted on April 20, 2017 read:42

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter