Bagaimana Bertanggung Jawab atas Nikmat?

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kita? – Tere Liye

Tuhan menciptakan manusia saling berpasangan. Tuhan juga memberikan banyak sekali nikmat kepada manusia dalam bentuk fisik, finansial, pemikiran, dan banyak lainnya. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa semua itu tidak benar-benar milik kita? Rasanya perlu merenungi kalimat yang ditulis Bang Tere Liye di novel inspiratif “Rindu”, yang saya pajang di awal note ini.

Apalah arti memiliki jika diri kita saja bukan milik kita? Mayoritas manusia percaya bahwa kita milik Tuhan, setidaknya itu yang diajarkan agama kepada kita. “Kita” meliputi kepala, mata, hidung, telinga, badang, dan semua di dalamnya, termasuk hal penting dalam kehidupan, napas. Nyatanya, semua itu bukan milik kita, namun milik Tuhan.

Begitupula dengan berbagai embel-embel duniawi seperti jabatan, pangkat, gelar akademik, prestasi, sampai kekayaan finansial juga bukan semata milik kita. Tuhanlah yang memilikinya. Tidak ada yang benar-benar milik kita. Berdasar keyakinan saya, semuanya hanya titipan. Nah, kalau titipan, kenapa perlu disombongkan?

Lalu, kenapa Tuhan menitipkan itu semua? Jika bisa dihitung, semua titipan tersebut tentu memiliki nilai yang sangat besar untuk dipertanggungjawabkan. Bisakah kita bertanggung jawab atas itu semua bahkan ketika kita tidak bisa menghitung berapa nilai dari masing-masing titipan Tuhan tersebut?

Saya memang bukan ustadz ataupun pendeta. Saya juga bukan seorang yang amat paham tentang agama. Namun, note ini bukan tentang seberapa besar pemahaman saya tentang agama, melainkan bagaimana kita memanfaatkan semua titipan tersebut sehingga menjadi (lebih) berkah, based on my point of view.

Menurut saya, semua tanggung jawab tersebut memang tidak akan pernah bisa dihitung. Yang perlu kita lakukan adalah memanfaatkan semua titipan tersebut dalam hal-hal yang baik. Misalkan, ketika kita memiliki banyak kekayaan finansial, alangkah baiknya tidak hanya ditumpuk di dalam brangkas. Bukankah kita bisa menyumbangkannya ke pihak yang membutuhkan? Ketika kita kaya dalam hal pengetahuan, saya yakin sharing dengan orang-orang yang belum tentu sepandai kita tidak akan membuat kita bodoh.

Begitupula ketika kita memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Sharing kepada orang lain tidak membuat kita kehilangan keahlian tersebut kok, bahkan keahlian kita semakin terasah karena terlatih, dalam hal ini karena proses sharing itu tadi. Kemudian, apa gunanya jabatan tinggi, gelar segunung, dan pangkat agung jika tidak dapat bermanfaat bagi orang lain? Saya kira bahagia bukan tentang memenuhi keinginan diri sendiri.

Ihwal apakah perbuatan baik kita dihitung sebuah tanggung jawab atau tidak, serahkan semuanya pada Tuhan, karena Dia punya hak penuh atas itu semua. Cukup berbuat baik dan selalu patuh melaksanakan perintah agama. Selamat berbagi dengan titipan yang luar biasa dari Tuhan.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on December 03, 2015 read:216

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter