Being Bold

Jika kita amati, orang-orang sukses yang bisa kita lihat saat ini adalah ‘lain dari yang lain’, terlebih dengan apa yang mereka lakukan. Bisa jadi kita tak akan mengenal Mas Billy Boen jika tak ada Young On Top. Pun, Andri Rizki Putra yang selalu memegang prinsipnya melalui Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Contoh lain, kecil kemungkinan kita mengenal Andrea Hirata tanpa Laskar Pelangi-nya.

Mereka semua memiliki satu persamaan yang (mungkin) belum dimiliki orang lain; do things. Mas Billy, yang dulunya cukup acuh, nyatanya bisa berguna bagi orang lain (at least, untuk saya) dengan komunitas yang ia dirikan. Mas Rizki, meski tindakannya yang menentang praktik contek-mencontek dianggap ‘kurang kerjaan’, namun ia tetap menjalankan segala hal dengan sebuah prinsip. Mas Andrea, selain menulis buku yang terkenal sampai ke seantero jagad, ia juga membuat museum (bisa juga perpustakaan) mini di kampungnya, Belitung.

Mereka melakukan sesuatu. Mereka tak berdiam diri. The most importantly, mereka melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Mereka tidak melakukan sesuatu yang membuat orang lain celaka.  Furthermore, mereka tak hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya, tapi mereka melakukan sesuatu secara extra miles. Kalau kata Agnez Mo, ini dinamakan being bold.

Apa sih being bold? Dalam hal ini, saya mendefinisikan dua kata dalam bahasa Inggris ini sebagai sebuah keinginan untuk menjadi lebih baik dari yang lainnya, terbaik dari yang terbaik lainnya; outstanding. Bolder adalah mereka yang berbeda dari yang lainnya dalam segi positif. Jika yang lain mendapat 6, dia mendapat 9. Jika yang lain mengeluh mengerjakan satu pekerjaan, dia akan amat senang dengan kesibukannya mengerjakan 10 pekerjaan.

Being bold amat penting, apalagi jika kita ingin berkontribusi. Dalam sebuah kelas di sekolah, orang yang aktif lebih cenderung disenangi oleh guru. Pun, dalam urusan pekerjaan, karyawan yang melakukan sesuatu dengan baik, dan melakukan tugas yang bahkan bukan bagiannya, pemimpin perusahaan tentu akan appreciate hal tersebut. Itu beberapa dari banyak manfaat menjadi ‘tebal’. Secara tak langsung, perusahaan bisa merasakan manfaat dari si karyawan tersebut.

Eits, namun being bold berbeda dengan penjilat. Being bold tidak bertujuan untuk membuat kita dipuja, disanjung, dan disembah. Being bold bukan tentang bagaimana membuat kita disegani, namun karena memang kita senang melakukannya. Kita ingin menjadi manusia outstanding yang bisa bermanfaat untuk lingkungan. Sekarang tinggal pilih, menjadi orang yang biasa-biasa aja atau luar biasa?

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on October 01, 2015 read:119

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter