Belajar dari Perjuangan Sabari untuk Marlena

Tuhan selalu menghitung. Suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung – Ayah Sabari dalam buku Ayah karya Andrea Hirata

Tanpa membaca novelnya secara langsung, membaca sepenggal kalimat di atas akan semakin membuat kita bingung. Tuhan selalu menghitung,  tapi menghitung apa? Menghitung dosa atau menghitung kebaikan manusia? Atau bahkan menghitung jumlah penduduk alam semesta? Okey, abaikan spekulasi yang terakhir. Lalu, kapan Tuhan akan berhenti menghitung sesuatu yang belum jelas tersebut?

Well, saya telah membaca novel karya anak negeri, Andrea Hirata berjudul Ayah. Melihat judulnya saja, saya sudah melankolis dahulu; kangen bapak di kampung. Anyway, saya tak akan menceritakan betapa rindunya saya dengan bapak di kampung. Leptop saya terlalu mahal untuk menerima tetes air mata rindu. Biarkan mereka mengendap mesra di pelupuk mata dan biarkan saya melanjutkan artikel ini secara fokus.

Buku ini bercerita tentang kisah inspiratif yang menarik. Namun, ada satu hal yang membuat saya selalu ingat dengan buku ini; kalimat “Tuhan selalu menghitung dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung”. Seperti pertanyaan awal, apa yang Tuhan hitung? Sekali lagi, apakah dosa-dosa manusia? Kebaikan yang dilakukan semasa hidup? Atau yang lainnya?

Mari kita bahas tentang Sabari dulu. Sabari adalah tokoh utama di buku tersebut. Ceritanya, Sabari menyukai seorang gadis yang ia temui ketika ujian masuk SMA bernama Marlena. Sabari adalah pria buruk rupa, berbeda 180 derajat dengan Marlena yang memiliki mata nan memesona. Meski begitu, ia tak gentar memerjuangkan cintanya kepada Marlena, anak juragan Batako yang terkenal keras.

Segala perjuangan selalu ia lakukan mulai menulis puisi terindah untuk Marlena sampai bekerja di tempat Markoni, ayah Marlena, hanya untuk melihat paras ayu Marlena. Namun, Marlena terlalu keras untuk ditaklukkan. Ia menolak mentah-mentah untuk menerimanya. Sabari memiliki ayah yang sangat baik. Ayahnya pernah berpetuah bahwa Tuhan selalu menghitung dan suatu saat Tuhan akan berhenti menghitung. Teringat nasihat ayahnya, Sabari semakin gencar beraksi demi mendapatkan cinta Marlena.

The day comes. Berkat perjuangan pantang menyerah disertai perilaku Sabari yang jujur dan apa adanya, akhirnya ia bisa menikahi Marlena. Saat itu, Marlena mengalami kehamilan di luar nikah yang membuat ayahnya mau tak mau harus menikahkannya dengan orang lain untuk menjaga reputasinya tetap baik. Sabari rela menjadi ‘tumbal’ kejadian itu karena ia memang menyukai Lena, meski bukan dia yang menghamilinya. Akhirnya, Tuhan berhenti menghitung, Sabari menikahi Marlena.

Sampai sini, sudah paham apa yang dihitung Tuhan? Yaks, perjuangan. Dari awal SMA sampai usia berkepala tiga, ia tetap berusaha untuk mendapatkan Marlena dengan berbagai cara yang baik, menulis puisi untuk Lena, request lagu di radio lokal hanya untuk Lena, sampai bekerja keras menjadi kuli juga hanya untuk Lena. Sabari selalu berusaha untuk mendapatkan Marlena tak peduli langit terbelah dan air laut habis ditelan bumi. Meski cerita kehidupan mereka masih berlanjut, akhirnya Tuhan berhenti menghitung perjuangan-perjuangan Sabari dengan mempersatukan mereka dalam sebuah tali pernikahan.

Meski pada akhirnya mereka berdua bercerai, namun sejatinya hati mereka berdua telah bertaut satu sama lain. Hanya karena ego Marlena yang tinggi, ia tak tetap bersikukuh membenci Sabari. Namun, di akhir hayat mereka, nyatanya cinta mereka disaksikan oleh tanah kubur yang suci. Sekali lagi, Tuhan telah berhenti menghitung setiap perjuangan Sabari ibarat mengumpulkan setiap receh uang logam di tabungan dan membelikannya sebuah hal yang telah lama dinanti.

Secara pribadi, kisah Sabari untuk mendapatkan Lena menjadi inspirasi tersendiri bagi saya, tak hanya untuk mendapatkan kekasih, namun untuk segala aspek. Jika ingin meraih cita-cita, perlu perjuangan. Ingin mendapatkan nilai bagus (yang bermanfaat), juga perlu perjuangan. Untuk mendapatkan jiwa raga yang sehat, perlu usaha dengan berolahraga. Bahkan, untuk ke kampus dan ke kantor, kita juga memerlukan usaha.

Proses berjuang itulah yang dihitung oleh Tuhan, tentunya tidak seperti cara manusia menghitung angka matematika. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk menghitung setiap usaha kita memerjuangkan kebaikan. Kita tak akan pernah tahu bagaimana Tuhan menghitung perjuangan kita karena kita bukan Tuhan. Namun, selama kita yakin usaha-usaha kita selama ini tak sia-sia, pasti suatu saat Tuhan akan berhenti menghitung, dan kita akan mendapatkan kebaikan yang kita inginkan. Semoga.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

Mari berkawan di azulfiyan27@gmail.com

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on September 29, 2015 read:198

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter