Belajar Sebanyaknya dan Berbagi Kepada Siapapun

Diluar langit begitu bersahabat, angin sepoi-sepoi melambai agar aku tetap berada didalam kamar saja bersama kasur yang siap untuk mengajak tubuhku berbaring akibat lelah  yang ku rasakan selama minggu-minggu ini beraktivitas. Ya, mungkin akhir pekan aku akan istirahat total, sekarang semuanya jalankan saja dulu, tanggung.

Siang hari itu kota belimbing berasa kota kembang, sejuknya. Setelah selesai kuliah, mengajar privat, dan pulang ke kostan, aku harus pergi lagi, menambah pengalaman hidup. Yaa, aku diajak oleh Puput sahabat ku yang aku kenal sejak kita daftar di Perguruan Tinggi.

Aku sudah bertemu dengan Puput, kita segera naik kereta menuju Stasiun Bogor, sesampainya disana ternyata kita harus menunggu temannya Puput lagi yakni Inka dan Meimei. Langit mulai mendung, aku dan Puput pun mulai berdoa, “jangan hujan dulu ya Tuhan, kita belum sampai, tapi kalau sudah sampai juga jangan hujan, karena mereka belajar tak beratap”. Sedih, iya, tapi kita harus gembira, karena kita akan sama-sama belajar, mereka belajar ilmu, kita belajar berbagi.

Meimei sudah datang, sambil menunggu Inka, aku dan Puput solat ashar dulu karena memang sudah adzan, selesai solat ternyata Inka sudah datang. Kami lalu keluar Stasiun Bogor dan mencari angkot 06, sayang nya tidak ada dan sepertinya kita di bohongi hah tak apalah, sekalian berbagi rejeki kepada supir angkot, dan disini aku merasakan bahwa aku belajar lagi, belajar ikhlas meski telah di bodohi.

Harusnya kita jalan dulu kearah Balai Kota Bogor atau dekat SMAN 1 Bogor untuk dapat angkot 06, bukan naik dari pintu keluar Stasiun, tapi apa boleh buat, yang penting sampai.

Akhirnya kita naik angkot dua kali, dari Stasiun Bogor kita naik 03 sampai arah Universitas Pakuan (1500m lagi) habis itu kita naik 06 dan sampai di gerbang 1 Universitas Pakuan. Lumayan, pengalaman baru bisa tahu kampus lain dan daerah Bogor dengan naik umum.

Kita bertemu dengan kak Ervan, dia ini pendiri atau ketua Sakola Alit Bogor. Bersama teman-temannya sejak tahun 2011, mereka yang peduli dengan pendidikan dengan lingkungan sekitar kampusnya membangun sekolah dengan fasilitas yang ada, belajarnya di samping jalan tol jagorawi, luar biasa.

Dari gerbang 1 Universitas Pakuan, kita lurus saja terus sampai ada pintu masuk alias celah ke taman di sekitar tol, lumayan curam ya, karena aku pakai rok juga, dan dibawah tanah yang curam itu ada air yang mengalir. Seperti kali tapi sangat kecil, ya macam selokan tapi airnya tidak hitam, disampingnya juga banyak bebatuan. Meski cuaca semakin mendung kita tetap semangat melangkah, aku dan Inka jalan duluan, kita sampai duluan di samping tol jagorawi, menikmati angin sore dengan langit yang kelabu di pinggir tol itu rasanya, seperti sedang memaknai hidup.

Cuaca tak bisa ditebak, hanya bisa di prediksi, tapi sayangnya kita lebih menebak bahwa hujan akan turun jika kita belajar di samping tol. Semangat anak-anak untuk belajar sangat luar biasa, akhirnya para kakak pengajar meminjam mushola kecil untuk dijadikan tempat anak-anak Sakola Alit belajar. Aku dan Inka pun sedih karena kita sudah di pinggir tol tapi belajarnya tidak jadi disana, baiklah kita mengalah, kita naik lagi ke atas dan pindah ke mushola.

Jujur saja, aku ini orang nya baru percaya jika sudah melihat dengan kasat mata, dengan mataku sendiri, ternyata ada ya, anak-anak yang ingin belajar meski hidupnya sangat memprihatinkan. Disana, anak-anak Sakola Alit adalah anak-anak kalangan pemulung, pengamen, dan lainnya. Rumah-rumah mereka berisikan barang-barang rongsokan, kaleng-kaleng, serta botol-botol. Seperti di timpa rasa syukur yang harus segera di sebut, oh inikah hidup ? ku kira yang seperti ini hanya ada di TV, hanya sebuah cerita fiksi.

“kakak .. kakak .. aku pinter” seorang anak kecil berbaju biru panjang dan celana panjang kuning menghampiriku.

“oh ya pinter apa” balasku sambil mengusap kepalanya,

“pinter belajar kak” balasnya lagi, tangkapanku mungkin pinter belajar itu rajin. 

“siapa namanya” tanyaku,

 “Riski kak panggilnya iki” jawabnya seperti ingin dekat denganku.

 “oh Iki pinter belajar ya, sudah bisa nulis?” aku ingin tahu

“udah kak, nulis nama Iki” balasnya lucu, lalu dia kembali bermain bersama teman-temannya.

Lalu aku pun berkenalan dengan anak-anak lainnya, ada Lusi, Asifa, Ela dan Eli yang kembar, Adin, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam hatiku, ada ya seorang anak kecil yang berani berbicara pada orang yang belum dikenalnya, sekaligus menunjukan bahwa “aku pintar”. Padahal disini aku hanya ikut Puput mengerjakan tugasnya, tapi rasanya aku juga dapat tugas, tugas untuk diri sendiri, tugas untuk lebih mengerti bahwa hidup memang seperti ini, anak-anak diluar sana berpendidikan seperti ini.

“kakak kok lama sih kita gak belajar-belajar” tanya nya lagi pada ku

Waahhh kita para pengajar memang sedang meminta izin untuk bisa memakai musholanya, tapi ya sudah karena si Iki sudah ingin cepat belajar, maka kita langsung jalan saja ke mushola. Ya Tuhan, apalagi ini ?

Ternyata pemukiman mereka dekat sekali dengan makam, dan musholanya pun sangat kecil, air wudhunya menimba dari sumur. “Lalu kalau malam bagaimana ya disini ? “ aku bertanya pada diri sendiri. Kita semua memang akan mati, tapi aku tidak bisa hidup dengan dikelilingi tempat-tempat yang sudah mati, aku sangat penakut. Lagi-lagi aku belajar, belajar bersyukur atas apa yang sudah aku dapat selama ini di tempat tinggalku.

Belajar di mulai yeay !!!!!!!

“kakak kasih aku soal dong”, “aku juga kakak kasih soal dong”, “kakak aku mau baca, kasih bacaan”, “kakak kasih aku tulisan, aku mau nulis”. Kasih soal ?, baru kali ini rasanya aku mendengar anak kecil meminta di beri soal, mereka tidak tahu kalau diluar sana, aku dan teman-temanku bahkan mungkin kebanyakan orang selalu menolak jika diberi soal. Tapi mereka tidak, mereka ingin tahu, semoga mereka menjadi anak-anak yang haus akan ilmu.

Akhirnya aku mengajarkan Iki menulis huruf yang lebih banyak dan benar, meskipun dia hobi nya menggambar, selang sedikit setelah selesai menulis, ia menggambar sebuah mobil, dan sebagainya, tak apalah namanya juga anak-anak. Lalu Asifa yang ingin berhitung penjumlahan dan pengurangan, Adin ingin berhitung perkalian 6, 7, dan 8, ada Vira juga yang ingin berhitung matematikanya kelas 6 SD, Lusi ingin menulis dan membaca, haaaahhhhhh aku kewalahan, tapi aku bahagia, bahagia bisa berbagi apa yang aku punya, terutama kesabaran, ya, menghadapi anak-anak memang harus sabar. Disini sistem belajarnya di sesuaikan dengan apa yang mereka mau, sudah sampai mana bisanya. Jadi tidak di kelas-kelaskan. Senang juga mereka memilih aku sebagai pengajarnya hari itu, dan aku paham, anak-anak akan tahu siapa tempat ternyaman mereka.

Setelah 1 jam lebih kita belajar, akhirnya yang sudah boleh pulang, “beginilah Sakola Alit, kadang muridnya banyak, kadang sedikit” sahut kak Ervan. Untuk anak-anak yang sudah belajar, mereka dikasih makanan ringan, seruuuuuuuuuuuuu….

Akupun pulang dengan membawa sejuta harapan yang sudah aku tanam untuk dengan cepat terwujud. Aku merasa hidup kembali, dan selalu hidup untuk terus belajar, belajar apapun, dan semangatku untuk berbagi semakin menggebu. Kelak, aku ingin sekali, membuat sekolah, punya perpustakaan, menampung anak-anak kurang beruntung, serta punya butik, agar orang-orang yang hidup denganku bisa mendapatkan pakain yang layak, intinya menjadi manusia yang bermanfaat. Terimakasih untuk pelajaran yang aku dapat saat ini, aku akan terus belajar sebanyak-banyaknya dan berbagi kepada siapapun.

Kini aku teringat, mengerti dan sedang menerapkan hasil dari pola asuh ayah dan ibu, sejak kecil, ibu yang selalu menyuruhku untuk belajar ! belajar !, tiada hari tanpa belajar, belajar apapun, belajar pelajaran sekolah, belajar mencuci pakaian (agar mandiri), dan lainnya. Serta ayahku yang selalu mengajarkan berbagi, berbagilah karena dengan berbagi kita bisa merasakan bagaimana rasanya tidak punya. Ini bukan sebuah kebetulan, tapi takdir, motto Young On Top sesuai dengan apa yang orang tuaku ajarkan.

Semoga menjadi manusia yang bermanfaat, semoga sukses !

Muthi Ashriyanti Tarya

Mahasiswi Psikologi, Universitas Gunadarma

Young On Top Depok

  




By : @YoungOnTopDepok

Posted on October 18, 2015 read:261

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter