Buku Favorit Saya? (Repost)

Sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Karena bagi saya, setiap buku memiliki kekhasan tersendiri dimana didalamnya pasti terdapat informasi baru yang bisa dipetik. FYI, ketika SMA, saya benar-benar anti dengan apapun yang berbau politik, termasuk buku. Saat itu, bagi saya politik adalah hal yang tak perlu dibahas karena berbagai kasus kecurangan di perpolitikan Indonesia. Namun, semenjak saya menjadi mahasiswa, gairah saya untuk lebih mendalami politik tumbuh. Saya berpikir kalau pemuda saja antipati terhadap politik, siapa lagi yang akan memperbaikinya?

Beralih ke pembahasan inti. Sekali lagi, sebenarnya tak ada buku yang jelek. Semua memiliki hal positif bagi pembacanya. Jika ada pertanyaan tentang buku favorit, jelas sulit bagi saya untuk menjawabnya secara detail. Tetapi, genre buku yang paling saya suka adalah tentang pendidikan, motivasi, politik, dan buku fiksi.

Membaca buku tentang pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi mahasiswa. Apalagi saya berada di jurusan keguruan di UNJ. Lebih dari itu, dengan banyak membaca buku tentang pendidikan, wawasan tentang segala hal dalam pendidikan akan semakin luas. Hal itu dapat bermanfaat untuk mengevaluasi sistem pendidikan Indonesia yang akhir-akhir ini sering mengalami perdebatan serius.

Buku tentang motivasi juga tak kalah penting. didalamnya terdapat hal-hal yang berhubungan dengan psikologi yang bisa memengaruhi psikis kita.

Namun jika disuruh untuk menyebut judul buku apa yang paling saya gandrungi, saya tak bisa menjawabnya. Dan jikapun saya jawab, bisa jadi itu bukan buku yang terfavorit bagi saya. Karena banyak sekali judul buku bagus yang saya sukai seperti Kaleidoskop Pendidikan Nasional karya H.A.R. Tilaar dan masih banyak lainnya.

Menulis buku adalah salah satu impian saya yang tertunda. Beberapa kali saya mencoba menulis buku, ada saja hambatan yang saya alami. Namun, itu bukan alasan bagi saya untuk terus berusaha berkarya. Jenis buku yang sangat ingin saya buat adalah buku fiksi berupa kumpulan cerpen dan novel yang didalamnya terkandung nilai sosial budaya masyarakat Indonesia. Hasrat itu begitu menggebu melihat banyaknya fenomena sosial di Indonesia yang sering diskriminatif terhadap rakyat (yang dianggap) jelata. Pun, dengan banyaknya buku fiksi yang lebih menyorot ke arah pergaulan remaja dan percintaan. Saya rasa itu klasik dan kurang penting jika dibandingkan dengan banyaknya fenomena ketidakadilan sosial di negeri ini.

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on May 19, 2014 read:220

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter