BUNGKAM DENGAN PRESTASI

Banyak orang sukses bilang kalau jalan menuju kesuksesan begitu terjal. Di berbagai talkshow di televisi, mereka menjelaskan banyak hambatan untuk menjadi orang sukses. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan. Tak ada jalan kesuksesan sejati semulus kulit model-model yang lihai berlenggak-lenggok di atas catwalk.

Salah satu hambatan yang sering diutarakan adalah omongan miring masyarakat terhadap kita. “Lu bisa apa?” “Alah, anak kemarin sore sok-sokan,” “Sadar diri dong,” “Gausah mimpi deh, jatuhnya sakit loh,” serta berbagai macam komentar negatif pernah didengar oleh para orang sukses itu. Mungkin, kita juga pernah (bahkan sering) mendengar kata-kata nylekit itu dari teman, tetangga, atau bahkan keluarga kita.

Mungkin sebab mereka berlontar seperti itu karena anggapan bahwa kita tak mampu melakukan sesuatu. Mungkin keinginan kita untuk mewujudkan A terdengar tak mungkin bagi mereka. Mungkin mereka menganggap kita hanya seorang yang biasa-biasa saja seperti mereka. Tapi, bukankah kita dan Tuhan lebih tahu kemampuan kita?

Salah satu tokoh inspirator saya, Renald Kasali bernah bertutur dalam salah satu talkshow di siaran televisi, kita bebas memosisikan diri kita sebagai telur atau bola tenis. Telur, ketika jatuh, hampir seratus persen akan pecah; hancur. Berbeda dengan bola tenis, semakin tinggi dia jatuh, maka semakin tinggi pula ia memantul ke atas; bangkit kembali. Kalau kita mau jatuh, kita mau seperti apa?

Omongan miring orang-orang pesimis disekeliling kita tak jarang menjatuhkan kita. Sebagai makhluk yang dianugerahi emosi, wajar jika kita marah atas itu semua. Bahkan, lebih parah lagi jika kita terprovokasi dan berakhir dengan konflik, entah batin maupun lahir. Hal tersebut karena kita terlalu banyak menyediakan waktu untuk mendengarnya dan lupa dengan mimpi dan rencana kita.

Idola saya dalam bermusik, Agnez Mo, pernah melontarkan kata-kata menarik ketika diwawancara oleh media, “Mereka punya hak untuk berkata apa saja tentangku. Namun, aku juga punya hak untuk tidak mendengarkannya.” Makna dari perkataan tersebut adalah, lebih baik fokus pada mimpi-mimpi kita daripada sibuk mengurusi omongan-omongan pesimistis tersebut.

Namun, bukan berarti kita menjadi manusia yang antikritik. Masih banyak, kok, yang peduli dengan kita. Masih banyak orang yang rela menyisihkan waktunya untuk memberi motivasi melalui kritik-kritik membangun demi kebaikan kita. kritik-kritik yang seperti itu yang sangat kita perlukan, karena kita tak akan pernah menjadi yang sempurna!

Menanggapi omongan miring yang bukan kritik, all we have to do is focus! Fokus kepada karir adalah hal yang harus dilakukan. Jadikan omongan-omongan tak bermutu mereka itu menjadi sebuah berlian yang bermutu. Maksudnya, anggap saja sindiran-sindiran yang merendahkan itu menjadi motivasi yang meninggikan. Jika kita berpikir kita bisa, dan kita yakin disisi kita selalu ada Tuhan yang siaga 24 jam, tentu jalan kita akan semakin mudah. Tuhan tahu segalanya. Mereka hanya tahu tak lebih dari 0,0001 persennya saja.

Dengan begitu, kita tak perlu lagi terprovokasi. Kita tak usah lagi berkonflik dan menambah musuh dengan membalas omongan merendahkan dari mereka. Kita hanya perlu fokus, melakukan yang terbaik, percaya, berdoa, dan membungkam omongan mereka dengan pencapaian yang mungkin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya; kesuksesan.

 

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan)

Young On Top CA Batch 5, Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on August 07, 2014 read:193

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter