CINTA DALAM PERBEDAAN

Indonesia adalah negara yang khas dengan pluralismenya. Kemajemukan negara yang baru saja memiliki Joko Widodo sebagai pemimpin baru ini ditunjukkan dengan ragamnya suku, budaya, etnik, bahasa, agama, ras, dan sebagainya. Dari Sumatera sampai Papua, nampaknya kita tak kesulitan untuk menyebutkan keanekaragaman yang saya maksud, bukan?

            Baik, jika ditilik dari segi sosial budaya, keanekaragaman yang ada di Indonesia memiliki potensi konflik yang amat besar. Menengok sejarah, kita pasti pernah mendengar konflik yang dilatarbelakangi oleh kemajemukan, seperti konflik keyakinan Sunni-Syiah di Madura beberapa waktu lalu.

            Tak perlu khawatir. Konflik adalah sebuah keniscayaan bagi bangsa yang “kaya” ini. Kemajemukan mungkin memunculkan konflik yang bisa memecahbelah kesatuan. Namun, jika yang kita hanya takut dan khawatir, apakah bisa mencegah dan memecah masalah? Problem not solved yet!!

            Mari kita resapi salah satu iklan di televisi yang berbunyi, “minyak dan air sulit bersatu tapi bisa berdampingan”. Benar juga ya? Mereka bisa hidup berdampingan meski berbeda, seperti sepasang suami istri yang saling mencintai. Uhg. Kita tak boleh mengambinghitamkan perbedaan untuk sebuah konflik yang terjadi. Harusnya perbedaan itu menjadi sebuah warna dalam kehidupan yang dinikmati dengan rasa cinta.

            Tema yang diusung Asian Games Incheon 2014-pun berbunyi “Unity in Diversity” yang berarti persatuan dalam kemajemukan. Nah, itu yang harus kita renungkan dan lakukan. Bisa dibayangkan kan kalau kehidupan kita diisi oleh satu jenis? So flat, man! Perbedaan yang memberi warna. Perbedaan yang (harusnya) memunculkan kesetaraan. Yuk, menerima perbedaan. Yuk, saling mencintai di dalam perbedaan J

 

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan)

YOT Campus Ambassador Batch 5

Faculty of Economics, UNJ

 

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on November 04, 2014 read:136

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter