Cita-cita ooh CIta-cita

Awal kuliah saya ingin masuk Matematika tapi sayang saya bukan anak IPA malah sebaliknya saya IPS, saya juga pernah teriak pas di papan tulis remedial Fisika "wow lulus" padahal saya bukan anak IPA, setelah melihat lihat sekitar, lalu saya memutuskan untuk mengambil yang lain, setelah saya lihat lagi ada jurusan yang namanya Sastra yang selalu dianggap remeh orang dan juga ada HI yang bidang pelajarannya juga lumayan luas, apa daya tidak masuk saringan tes, akhirnya supaya tidak jauh-jauh sama HI saya memilih Komunikasi dan Psikologi, karena saya yakin kondisi Psikologis seseorang akan mempengaruhi gaya berbicaranya, saya punya 2 hal yang nantinya akan berguna bagi saya kedepannya, Psikologi gak masuk akhirnya saya terjebak di Komunikasi. Itu bukan cita-cita saya sebenarnya.

Itu sebenarnya hanya basa-basi, tapi jika ditanya saya punya cita-cita atau tidak saya akan menjawab tidak, saya dari kecil tidak punya cita-cita, karena menurut saya sendiri cita-cita itu adalah sebuah proses dinamis, sama seperti teori-teori di Komunikasi, Psikologi, Antropologi, semua teori dapat berubah tidak itu-itu saja, sama halnya dengan cita-cita tidak mungkin kita punya 1 cita-cita itu terus, mungkin beberapa dari kita diberikan sebuah kelebihan dari berbagai segi jadi dia bisa bertahan dengan cita-citanya, tapi akan tiba masanya nanti dia akan membuka dirinya, saya bukan ahli di cita-cita, tapi belajar dari pengalaman yang harus kita percayai itu diri sendiri yang nantinya akan membentuk siapa kita.

Kalau mau lebih mendalam, kenapa dari kecil kita disodorkan bahwa cita-cita itu harus Dokter, Pilot dan Polisi, dulu teman saya ada yang bercita-cita ingin jadi tukang Ojek, lalu diketawain satu kelas, hanya saya yang melihat bingung, segitu dangkalnyakah kita? Cita-cita terlalu dinilai sebagai tolak ukur kesuksesan seseorang, jika dia ingin berprofesi itu apa hak kita untuk melarangnya? Toh bukan kita hakim kehidupannya, sekarang jadi tukang Ojek digandrungi oleh warga ibukota, untuk menaikan kelas sosialnya dengan pendapatan yang tetap, tanpa harus kasih iming-iming datang lagi yah seperti Dokter, tanpa harus berlagak mengayomi masyarakat, mereka hanya membantu apa adanya, banyak yang ingin menjadi Kang Ojek hijau sekarang dengan pendapatan yang lebih tinggi dari karyawan S-1.

Siapa pencipta kata cita-cita? Kenapa dia begitu seenaknya membuat kata itu, tanpa dia sadari yang akan membunuh karakter anak-anak SD, yang kalau punya cita-cita aneh dijauhin, mungkin dia kebanyakan baca komik mau jadi pembela negara, sekarang ada Bela Negara, dia bisa masuk membela negara kita, tidak ada yang bisa menghalangi seseorang untuk bercita-cita, jangan menjadi pembunuh cita-cita seseorang, tidak ada dasar hukumnya bahwa cita-cita itu harus sama entah apa yang terjadi di masyarakat kita, tapi selalu ingat kita manusia dengan otak yang sama, tapi kita akan merespon sesuatu hal secara berbeda dan itu yang membuat kita disebut Manusia, karena kita berbeda, walaupun secara fisik ada kesamaan dalam organ tubuh, tapi cara berfikir seseorang tidaklah sama satu dengan lainnya.

Jadi, jangan menjadikan cita-cita segalanya, kerja keras dan berbuat baiklah, itu juga cita-cita di muka bumi ini, karena sudah jarang orang yang mau bekerja keras dan rendah hati karena termakan cita-cita itu sendiri.

  




By : Kelvin Stanley

Posted on October 22, 2015 read:85

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter