FILM MARI LARI : MAIN VALUE

[SPOILER ALERT]

Sabtu kemarin, saya bersyukur, bisa jadi salah satu orang yang beruntung mendapatkan tiket nonton gratis film “Mari Lari” bersama Mas Billy Boen dan Young On Top di Setiabudi XXI. Acara nonton bareng itu dimulai pukul 9.30 pagi, dan saya bersama 2 orang teman sesama YOTCA yang juga beruntung mendapatkan tiket itu. Saya senang bisa berkesempatan kesana, karena di luar ekspektasi, film yang awalnya saya perkirakan sebagai sebuah kampanye kesehatan dengan olahraga lari, ternyata memberikan inspirasi jauh lebih besar daripada itu. Film ini penuh dengan nilai-nilai yang sangat perlu diterapkan dalam hidup kita sehari-hari, terutama tentang KELUARGA dan KESUKSESAN

FINISH WHAT YOU HAVE STARTED

Mungkin ini nilai utama yang ingin disampaikan oleh film Mari Lari : Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Diperlihatkan tokoh utama yang sejak kecil tidak pernah menyelesaikan apa yang dilakukannya. Berkali-kali ia berganti minat untuk les, bahkan sempat dikeluarkan dari bangku kuliah. Diakuinya, dia tidak menyelesaikan apa yang dilakukannya karena dia tidak menyukainya.

Teman, beberapa tahun terakhir telinga saya sangat familiar dengan kata ini : PASSION. Kamu juga? Saya rasa, ya, karena memang kata PASSION sedang sering digaungkan dimana-mana untuk mengajak kita melakukan hal yang kita sukai, cintai, yang kita merasa sangat berdaya ketika melakukannya, dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Dengan bertambahnya wawasan banyak orang tentang PASSION, maka sekarang semakin banyak orang yang sukses melalui bidang yang dicintainya. Ya, ini adalah sebuah dampak positif.

Namun ada satu hal yang menurut saya kerap terlewatkan oleh kita : dampak negatifnya. Bukan untuk mengajak kita berpikir negatif, hanya ingin mengajak untuk melihatnya dari sisi lain. Faktanya, seringkali kata PASSION ini menjadi excuse bagi kita ketika kita tidak menyelesaikan sesuatu. Berapa banyak orang yang sekarang dengan mudahnya bilang “gue ga bisa”, “gue ga suka”, “ini bukan passion gue”, sebagai dalih atau pembenaran atas kesalahan atau kekurangan yang dilakukan? Mungkin terkadang saya sendiri juga melakukan hal itu.

Padahal, suatu hal bisa diselesaikan dengan baik tidak hanya tergantung pada kecintaan atau kesukaan kita saat menjalaninya. Ada sebuah ungkapan : “You can’t control your feeling about something, but you can control your attitude to face it”. Ya, seberapa tingkat kecintaan kita terhadap sesuatu tidak bisa dijadikan alasan mutlak untuk tidak menyelesaikan sesuatu dengan baik. Hal lain yang juga punya pengaruh besar adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Kalau kita mampu mengontrol sikap kita, cara kita dalam menghadapinya, tentu kita bisa menyelesaikan hal tersebut dengan baik pula.

Dalam hidup, kita dihadapkan pada 2 pilihan : Do What You Love atau Love What You Do. Keduanya bisa berjalan dengan baik dengan attitude yang baik pula dari kita ketika menjalani dan menghadapinya. Terus berpikir bahwa semua hal akan bermanfaat bagi kita kalau kita menyikapinya dengan positif.

Sekarang, tinggal kita yang menentukan pilihan, apakah kita ingin dikenang sebagai “finisher” atau hanya sebagai peserta kehidupan yang tidak pernah menyelesaikan apapun dalam hidup.

See you on TOP, finisher!

Peka, Positif, Petik,
#InspiredEverywhere

T. Yuza Mulia (@yuzamulia)
Young On Top Campus Ambassador
Universitas Indonesia

 

Tulisan ini juga diterbitkan di blog saya di sini

  




By : Yuza Mulia

Posted on July 09, 2014 read:210

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter