First Time In Japan (Part I)

First Time in Japan

(Part I)

 

          Hai teman-teman. Ada ga sih diantara kalian yang mempunyai keinginan untuk pergi ke negeri Sakura ini? “Menginjakkan kaki di Tokyo, Japan” adalah salah satu dari list 100 mimpi saya. Dan mimpi saya ini tercapai pada bulan Mei tahun 2015 (4 bulan lalu). Sama seperti saat saya ke korea sebelumnya, kali ini pun saya berangkat dengan bantuan dari sponsor luar dan Universitas Indonesia. Saya bersama tim saya lolos sebagai presentan hasil paper kami di Yokohama, Japan dalam acara 12th Asian Congress of Nutrition. Selama lebih kurang satu minggu disana, selain ilmu yang banyak, pengalaman yang sangat berharga juga saya dapatkan. Selama acara berlangsung (4 hari), saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang datang dari berbagai negara. Selain itu, saya juga tidak lupa untuk menikmati indahnya kota Tokyo alias jalan-jalan gitu. Banyak hal yang berbeda yang saya temui di Jepang. Pertama perbedaan waktu. Pada saat saya ke Jepang, Jepang sedang memasuki awal musim panas, jadi waktu siangnya lebih lama daripada malamnya. Kalau di Jakarta, waktu subuh adalah pukul 5 pagi, sedangkan di Jepang waktu subuh adalah pukul 3 pagi. Jadi, pada waktu itu jam 4 pagi di Jepang sudah seperti jam 6 pagi di Indonesia, sedangkan matahari terbenam (malam) sekitar jam 7. Dan suhu disana pada waktu itu sangat sejuk karena masih awal pergantian musim dingin dengan musim panas, yaitu sekitar 240 C.

            Nah, sekarang saya akan melanjutkan ke bagian yang sangat penting dan merupakan perbedaan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia terutama di ibu kota Jakarta. Sama seperti di Korea juga, Jepang mempunyai transportasi bus, kereta dan taksi, sedangkan di Indonesia hanya memiliki transportasi tersebut di Jakarta saja. Mungkin saya tidak akan membahas lebih jauh masalah transportasi ini. Saya akan membahas lebih dalam mengenai “Gaya Hidup” di sana. Ketika pertama kali tiba di stasiun kereta, saya bersama teman-teman saya bingung karena kami melihat semua orang jalannya sangat cepat dan terburu-buru. Kemudian, ketika hendak memasuki kereta, semua berbaris sesuai dengan garis pintu kereta yang telah ditentukan. Barisannya sangat rapi (seperti upacara aja. Hehe). Ketika kereta datang, mereka memberi jalan yang luas (seperti membuka pintu, masing-masing berdiri menyamping agar memudahkan orang yang mau turun dari kereta). Setelah tidak ada lagi yang turun, barulah mereka naik/masuk secara berurutan sesuai dengan barisan/antrian pada saat mereka menunggu kereta. Dan yang membuat saya lebih kagetnya lagi adalah, ketika mereka merasa tidak ada space lagi di dalam kereta, mereka tidak akan masuk dan akan menunggu kereta yang selanjutnya. Jadi, sepadat-padatnya di dalam kereta, orang-orang di dalamnya tidak berdiri saling berhimpitan (masih ada space untuk menggerakkan badan). Padahal fenomena ini terjadi di pagi dan sore hari loh, di saat orang-orang pergi kerja/sekolah dan pulang kerja. Mereka tidak takut terlambat hanya karena menunggu kereta selanjtnya karena mereka sudah mengatur waktu mereka sedemikian rupa. Sungguh saya sangat terharu melihat fenomena ini. Dengan reflex saya langsung berkata kepada teman saya “Kapan ya Indonesia bisa seperti ini?” Mungkin bagi pekerja atau pengguna transportasi Commuter Line di Jabodetabek sudah sering merasakan padat dan susahnya masuk dan keluar kereta ketika pagi dan sore hari saat hari kerja.

            Kemudian, hal sangat berbeda adalah kedisiplinan di Jepang. Pada saat saya mengahdiri seminar-seminar disana, selalu dimulai tepat waktu dan selesai tepat waktu. Tidak pernah ngaret. Mungkin di Indonesia sudah terbiasa dengan “Jam Karet” yang bisa mencapai satu jam ngaretnya. Selain itu, kedispilinan ini juga ada pada transportasi kereta. Untuk datangnya kereta saja sudah ada jamnya masing-masing dan selalu tepat waktu tiba di stasiun. Sekitar 5 atau 10 menit sekali kereta pasti akan datang, sesuai dengan jadwal dan tergantung jenis keretanya. Untuk jenis kereta disana, ada Kereta Api Local (berhenti di setiap stasiun), Kereta Api Express (berhenti kurang lebih setiap 3 stasiun), dan Kereta Api Express Sangat Cepat (maaf lupa namanya) yang berhenti setiap kurang lebih setiap 5 stasiun (stasiun besar).  

            Budaya lainnya dari orang Jepang yang saya dan teman-teman saya lihat adalah berjalan kaki. Selama berada di Jepang, saya dan teman-teman saya menjadi terbiasa jalan kaki sejauh lebih kurang 3 km (40 menit). Ya, selama di Jepang saya tidak takut untuk menjadi gemuk, karena walaupun makan saya banyak, tapi energinya akan keluar lagi dengan berjalan cukup jauh. Nah, menyinggung tentang makanan, untuk bagi yang muslim, saya dan teman-teman saya sangat susah menemukan makanan Halal. Mungkin kalau di tempat conference kami diberikan makanan sesuai dengan permintaan kami. Untuk mencari makanan halal yang mempunyai sertifikat halal (walaupun harganya sangat mahal), saya dan teman saya harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 1 km karena memang tidak ada jalur transportasi umum (bus/kereta) kesana. Kalau naik taksi, biaya taksi disana sangat mahal. Atau ketika kami tidak ingin jalan jauh, kami mengambil alternatif lain yaitu makan buah. Karena memang sudah jelas kehalalannya. Mungkin, pada saat-saat kelaperan lah saya dan teman-teman saya selalu merindukan rumah (Indonesia), karena mengingat bahwa di sini bisa makan apa saja sepuasnya. Sepuasnya dalam artian bukan makan dipinggir jalan juga sih. Maksudnya walaupun makan ayam/daging, sudah jelas ayamnya dipotong sesuai syariat.

Nah, teman-teman. Sebenarnya masih banyak sekali nih yang mau saya ceritain selama saya di Jepang. Bagaimana kehidupan lainnya disana, bagaimana tempat-tempat disana, dan makanan-makanan apa aja sih yang udah kami makan disana yang menurut kami sangat inovatif baik bentuk dan rasanya. Tentunya halal. Tunggu cerita-cerita saya selanjutnya ya.

 

 

Qonitah Azzahra

Gizi-FKM Universitas Indonesia

  




By : Qonitah Azzahra

Posted on September 19, 2015 read:95

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter