Hal Yang Ikhlas Berbuah Rezeki

Pagi yang sejuk namun tak secerah pagi biasanya, saat itu seorang tukang rujak numpang berteduh di teras rumah saya, masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al-Qur’an. Beliau tekun dengan Al-Qur’an nya. Sampai jam 12, hujan belum berhenti. Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang. Saya keluar memberikan air minum

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak…”

“Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya mba... Mudah-mudahan ada rejekinya…” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?” tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko, mba… kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. Kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah mba… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoanya…” Katanya sambil tersenyum.

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, mba…” lanjutnya.

“Lah pak kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, mba… Allah yang ngatur rejeki, Saya bergantung sama Allah… Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan. Saya pernah gak dapat uang sama sekali, taunya tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa mba yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Al-Qur’an nya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik dan saya masih kuat bisa jalan… Makasih yaa, mba saya diizinkan berteduh di depan teras ini…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata. Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh… jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan.

 

Seperti seorang MANUSIA dan BOTOL

1. Kalau diisi air mineral, harganya Rp3.000,-

2. Kalau diisi jus buah, harganya Rp10.000,-

3. Kalau diisi madu, harganya ratusan ribu

4. Kalau diisi minyak wangi chanel harganya bisa jutaan

5. Kalau diisi air got, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena langsung tiada harganya dan tidak ada. Siapa yang suka botol yang sama tetapi harganya berbeda sebab apa yang terisi di dalamnya adalah berbeda… Begitu juga kita, kita semua sama,kita semua manusia.yang membedakan kita antara satu sama lainnya adalah TAQWA, IMAN & AMAL yang ada dalam diri kita, yang akan menyebabkan kita berharga di sisi sang Maha Pencipta atau kita dipandang hina oleh-NYA lalu dibuang ke dalam neraka.

"Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Banyak pelajaran yang di dapat dalam setiap harinya, segala yang di berikan, segala yang di lakukan, selama ikhlas dalam segala sesuatunya rezeki akan datang darimana adanya.

 

 

Nafisha Shafa,

Mahasiswi Manajemen Universitas Gunadarma

Young On Top Depok

  




By : Young On Top Depok

Posted on November 18, 2015 read:1,386

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter