Haters Gonna Hate!!!

Kalau kita fokus sama orang yang nggak suka sama kita, mereka akan menjadi-jadi – Jonathan C. Susanto

Penggalan quote diatas dilontarkan mentor saya di Young On Top (YOT), beberapa hari lalu saat monthly meeting. Saya langsung sepakat! Saya adalah salah satu followers penyanyi Indonesia yang cukup terkenal. Personally, saya suka prinsip hidupnya. Makanya sampai sekarang saya masih ‘mengikutinya’.

Artis yang saya maksud ini memiliki banyak fans fanatik. Tak jarang sering terlibat fanwar (perang antar fansclub) yang dilakukan di media sosial. Beberapa kali saya juga menemukan haters dari si artis ini bertebaran di media sosial. Dengan gaya bahasa yang sarkastik, mereka terus mencemooh dan menjatuhkan si artis, seakan mereka paling benar seantero jagad.

Lucunya, semakin ditanggapi, mereka semakin menjadi-jadi. Mereka mencemooh A, kita jawab B, lalu mereka kembali menjawab C, D, E, bahkan sampai Z. Awalnya saya heran kenapa semasif itu mereka menilai orang. Apakah tak ada urusan lain bagi mereka selain hating people? Apakah memang ini hobinya? Atau ada orang yang rela membayar mahal si haters ini sampai seolah hidupnya hanya untuk membenci dan membenci?

Semakin lama, saya mengerti. Sesuai namanya, haters, tentu pekerjaannya hanyalah membenci dan terus membenci, tak peduli rebusan air di dapur hampir mengering. Menurut saya, dengan semakin bebasnya orang berpendapat, hal tersebut wajar saja. Namun, menjadi tidak wajar ketika cemoohan tersebut dibarengi dengan kata-kata kotor. Mulutmu harimaumu.

Founder YOT, Mas Billy Boen pernah bilang bahwa kita tak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Dalam hidup, pasti ada yang suka dan tidak suka dengan kita. Menurut saya, ini merupakan hal yang normal. Ketika kita berbuat sesuatu, pasti ada yang tidak suka. Namun, bukankah yang suka lebih banyak?

Saya jadi ingat petuah dari Kak Jojo, “Tuhan aja banyak yang benci. Kita yang jauh lebih kecil pasti lebih banyak yang membenci.” Lalu, apakah kita perlu mendengar celotehan tersebut? Bagi saya, kritik dan cemoohan berbeda. Berkritik adalah hal yang baik. Namun, bercemooh hanyalah membuang waktu saja. Ambil saja yang perlu diambil. Jangan lupa, perbaikan diri juga datang dari orang lain, berupa kritik.

Tak perlu ambil pusing dengan para haters yang giat membenci. Seperti halnya pelukis yang melukis, penyanyi yang menyanyi, penyair yang membawakan syair nan indah, serta pendidik yang mendidik siswa agar menjadi lebih baik, anggap saja pembenci sebagai orang yang pekerjaannya hanya membenci. Tak perlu kaget, toh itu merupakan pekerjaannya, seperti kata Taylor Swift, “Haters gonna hate hate hate hate hate hate....”.

Terakhir, membenci adalah perbuatan yang tidak baik. Dalam sebuah kisah, Rasulullah pernah dibenci sampai disiksa secara fisik, namun beliau tak sedikitpun membenci balik orang tersebut. Ketika kita dibenci, artinya kita diperhatikan oleh orang yang membenci tersebut. Biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Seperti kata Agnez Mo, haters berhak bicara apa saja tentang kita, tapi kita juga punya hak untuk tidak mendengarkan. Mari mencintai, bukan membenci.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on November 08, 2015 read:243

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter