HOMO HOMINI SOCIUS

 

          Manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Pernah mendengar atau membaca kalimat ini sebelumnya? Itu tak penting. Yang jelas, kalimat tersebut nampaknya sudah tak asing di telinga kita. Apakah manusia memang makhluk yang tak pernah puas? Mungkin kita bisa menjawabnya dengan melihat fenomena kehidupan di sekitar kita, atau bahkan dari pengalaman kita sendiri.

          Mungkin ada benarnya. Dari sudut pandang saya secara personal, manusia memang tak pernah puas. Saya sebagai manusia merasakan itu. misalnya, ketika kita menginginkan sepatu merk A. Kita tahu merk tersebut bagus, dan kita membelinya. Kemudian ketika melihat teman kita memberli merk B, kita merasa tergoda untuk memilikinya. Then, kita membelinya juga. Lalu, sepatu merk B itu memiliki varian keluaran terbaru yang desainnya amat kita suka. Singkat kata, kita membelinya juga, padahal dua sepatu sebelumnya masih bagus dan masih layak dipakai.

          Hal itu sejalan dengan pendapat Abraham Maslow yang menyebut kebutuhan pada diri manusia selalu menuntut pemenuhan. Maslow menamainya dengan teori kebutuhan. Namun, apakah kita akan selalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan diri yang tak pernah puas, lantas melupakan orang lain yang mungkin saja lebih membutuhkan?

          Terkadang, kesibukan kita untuk memenuhi kebutuhan personal membuat kita lupa akan hakikat kita sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, kita harusnya mengingat homo homini socius yang berarti bisa berguna bagi orang lain. Bukan homo homini lupus; manusia “pemakan” manusia lain.

          Di dalam ajaran agama sekalipun dijelaskan bahwa apa yang kita punya di dunia hanyalah titipan dari Tuhan. Semua kepunyaan kita di dunia tak akan kita bawa mati. Agar menjadi manfaat, hendaknya kita memilih berbagi dengan orang lain, yang kehidupannya masih jauh lebih memprihatinkan daripada kita.

          Berguna disini memiliki cakupan makna yang sangat luas. Ada banyak jalan menuju Roma. Pun, banyak cara untuk berbagi. Apalagi di era media seperti sekarang, kita amat gampang menemukan informasi tentang kegiatan sosial, program berbagi dan sebagainya. Lantas, apakah kita masih egois dengan diri sendiri dan pelit berbagi dengan orang lain, padahal kita sudah mampu untuk berbagi?

Oleh:

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan),

YOT CA Batch 5 Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on October 09, 2014 read:150

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter