Ikhlas

“Peserta didik yang duduk di belakang cenderung bodoh, tidak ikhlas, dan bandel” – Wahyu Saidi, Dosen Manajemen Penjualan

Perkataan yang mirip sindiran itu dilontarkan Wahyu Saidi, dosen mata kuliah Manajemen Penjualan ketika mengajar di kelas saya. Perkataan beliau beralasan karena di Indonesia, masih banyak peserta didik yang bandel dan tidak lebih pintar dari temannya yang lain memilih duduk di bangku paling akhir di sebuah kelas.

Tentunya, hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, seperti tidak adanya kepercayaan diri untuk duduk di bangku terdepan. Bagi sebagian peserta didik, duduk paling depan memiliki potensi besar untuk diberi pertanyaan oleh pendidik. Mereka yang memilih duduk di bangku paling belakang kemungkinan tak merasa bisa menjawab pertanyaan pendidik jika mereka duduk terdepan.

Faktor lain yang juga memengaruhi kasus tersebut adalah masih kuatnya pandangan bahwa peserta didik yang pantas duduk di depan adalah orang-orang yang pandai, begitupun sebaliknya.

Namun, ada hal yang patut direnungi di dalam kasus ini. Dosen saya, seperti yang sudah saya gambarkan sekilas di pembuka artikel ini, “menghakimi” mereka yang duduk di belakang sebagai orang yang tidak ikhlas.

Masuk akal Pak Wahyu berbicara seperti itu. Pada umumnya, orang yang tidak ikhlas akan melakukan sesuatu pekerjaan dengan kurang maksimal. Karyawan yang antipanas, ketika bosnya menyuruh memfotokopi beberapa dokumen di tengah teriknya Jakarta, kemudia ia mengeluh meski tetap melakukannya. Itu tidak ikhlas.

Begitupula dengan peserta didik. Siswa yang duduk di depan pasti memiliki kemauan belajar yang tinggi. Mereka cenderung optimis untuk menjadi lebih baik karena ketika mereka duduk paling depan, asupan ilmu yang mereka dapatkan akan semakin banyak.

Mereka yang dibelakang, cenderung terpaksa masuk kelas. Tanpa berniat menghakimi, memang seperti itu kecenderungan yang terjadi. Banyak contoh peserta duduk di belakang malah tak memperhatikan penjelasan guru dan temannya yang sedang presentasi dan bahkan tanpa dosa membuka telepon genggam dan membuka beberapa fitur seperti game dan media sosial.

Kenapa? Karena mereka tidak ikhlas. Tak hanya terjadi di sekolah, ketika seminar atau pertemuan lainnya, mungkin mereka yang duduk di belakang adalah orang-orang yang serbaterpaksa, meski di beberapa kasus disebabkan oleh faktor teknis lain.

Dari sini kita bisa belajar bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan ikhlas; tidak terpaksa. Kalau kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, percayalah, pekerjaan kita tak akan bermanfaat dan hasilnya tak sebagus ketika kita melakukannya dengan senang hati; dengan passion.

Pekerjaan yang dilakukan dengan paksaan cenderung tak permanen. Mungkin di suatu saat kita akan merasa bosan melakukannya lagi dan....... berakhir! Artikel ini merupakan sebuah refleksi bagi penulis dan para pembaca agar senantiasa melakukan kegiatan dengan senang hati dan tanpa paksaan. Kalau tak suka? Cari kegiatan lain yang lebih kamu suka. See you on top!

Ahmad ZULFIYAN, YOT Campus Ambassador Batch 5, UNJ

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on October 06, 2014 read:137

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter