Indahnya Saling Memaafkan Dalam Hidup

Begitu pertama kali mendengar kata maaf, mungkin bagi sebagian besar orang yang hidup di bumi ini akan berpendapat atau berkata bahwa maaf itu adalah sesuatu yang mudah untuk diteorikan, tetapi sangat sulit untuk dipraktekkan. Anggapan tersebut memang tidaklah salah, karena pada kenyataan-nya banyak orang sering berteori atau berkata bahwa dengan kita mau memaafkan atau meminta maaf kepada orang lain dengan tulus terlebih dahulu, maka hidup kita akan lebih tenang, hati kita lebih lega, dan kita bisa merasa puas dalam hidup. Cukup dengan mengucapkan 1 kata yang hanya terdiri dari 4 huruf, yaitu M-A-A-F (MAAF), maka kegelisahan atau ketidaktenangan kita dalam hidup akan hilang seperti debu yang tertiup oleh angin. Teori maaf itu memang betul dan benar terjadi, asalkan kita melakukannya dengan hati atau perasaan yang tulus, tetapi pada fakta atau praktek nyata yang terjadi, seringkali kita sulit untuk mengucapkannya atau susah membiarkan lidah kita untuk berkata maaf karena masih adanya sifat ego atau gengsi pada diri kita, yang membuat kita berpikir bahwa diri kitalah yang paling benar dan selalu berada di puncak atas, sifat iri yang membuat kita kadang benci kepada orang lain yang tidak bersalah kepada kita, rasa benci inilah yang akhirnya menimbulkan dendam pada diri kita yang membuat kita sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain. Padahal jika kita mau berpikir positif dan jernih, sebenernya kita bisa mengambil sisi positif dari sifat iri ini, dimana sifat iri ini akan memicu diri kita untuk bisa selalu berusaha selangkah lebih maju dan lebih baik dari orang lain, karena jika orang lain bisa melakukan atau mendapatkannya, kenapa kita tidak???. Kita hidup di jaman yang sama dan dengan kemampuan yang sama, hanya tekad-lah yang membedakan kita umat manusia, jadi pasti selalu ada jalan bagi kita semua untuk bisa jauh lebih baik dari orang-orang yang ada disekitar kita.

Memang sesungguhnya saya akui dan dapat katakan bahwa pada umumnya realitas yang terjadi adalah tidak semua orang mau atau sanggup memberikan maaf setulus-tulusnya. Bekas dari kesalahan itu biasanya sulit diobati. Apalagi kalau kesalahan itu sungguh-sungguh melukai hati seseorang, menjatuhkan harga dirinya, atau menimbulkan penderitaan batin yang panjang. Pada situasi seperti ini, seseorang akan sulit sekali mendapat maaf dari orang yang pernah dia sakiti. Perbuatan buruk memang sering menimbulkan dendam yang cukup sulit dihilangkan hanya dengan permintaan maaf tanpa hati yang tulus. Hal ini sangat manusiawi. Sementara itu, setiap kali kita berbuat buruk atau melakukan kesalahan terhadap orang lain, kita pun harus dengan berani mengakui kesalahan, lalu dengan tulus dan lapang dada meminta maaf. Lebih baik lagi jika kita berani berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan atau kesalahan tersebut, tetapi janji itu bukan hanya terjadi di mulut saja, melainkan harus dipraktekkan dan terjadi dalam hidup sehari-hari kita. Meminta maaf semacam ini adalah suatu perbuatan yang sangat terpuji dan bagi orang yang berani meminta maaf secara jujur adalah orang yang bijaksana.

Tetapi harus diingat juga bahwa meminta maaf saja tidak berarti menghilangkan dosa yang telah kita perbuat terhadap orang yang kita sakiti. Itu sebabnya kita mengenal adanya akibat atau hukuman atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Karena itulah, alangkah baiknya jika kita mau membangun kebiasaan untuk selalu menjaga cara berbicara, bersikap, dan bertindak dengan hati-hati dan bijaksana. Kebiasaan ini bisa dibangun di atas pengertian bahwa sesungguhnya semua orang tanpa kecuali, berhak mendapat perlakuan yang baik, diangkat harga diri dan martabatnya, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Terlepas dari apapun status sosialnya, suku atau rasnya, agama, latar belakang pendidikan, miskin atau kaya, semua orang harus diperlakukan dengan sebaik dan semanusiawi mungkin. Dengan keadaan atau kondisi yang seperti itu, maka akan tercipta suatu keharmonisan dan kedamaian dalam hidup. Hidup dengan penuh maaf tanpa pandang status akan membuat segala sesuatunya lebih manis, lebih indah, dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Seperti pepatah bijak yang mengatakan : “Punya satu musuh kebanyakan, punya seribu teman kekurangan”. Mari bersama, kita jaga ucapan, jaga hati dan pikiran, jaga sikap dan perilaku kita, dan jangan pernah jadikan itu semua sebagai duri-duri yang dapat melukai hati sesama kita. Sebaliknya mari jadikan hati, pikiran, sikap, perilaku, dan ucapan-ucapan kita sebagai berkat bagi sesama di sekeliling kita. Jika kita mampu melakukan hal ini, maka percaya atau tidak, kita akan dapat menjadi lilin –lilin penjaga perdamaian dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih indah untuk didiami atau dihuni bersama. Kehadiran kita akan membawa pembaharuan dan sukacita dalam hidup, bukan hanya bagi hidup kita sendiri saja, tetapi juga bagi hidup sesama kita, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan kita untuk bangkit bersama menuju titik damai yang terang di dunia.

Selain itu, sifat-sifat buruk seperti egois, gengsi, iri hati, dendam, benci,dll-lah yang harus kita coba untuk hilangkan dari dalam diri atau pribadi kita sepenuhnya, karena sifat-sifat buruk inilah yang memperlambat jalan kita untuk bisa memaafkan atau minta maaf terlebih dahulu kepada orang lain. Perihal maaf memang tidak mudah untuk dilakukan, tetapi seiring berjalan-nya waktu dan kita mau belajar untuk mempraktekkan hal “MAAF” dalam hidup secara perlahan-lahan, maka pasti suatu saat nanti kita akan dapat mengucapkan kata maaf dengan hati tulus dan disertai dengan senyuman yang manis, karena pada dasarnya proses pembelajaran hidup yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk pribadi kita secara bertahap untuk menjadi lebih baik kedepannya.





By : wilsonchandra

Posted on August 17, 2013 read:152

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500