Insiden Karena 'Emosi' & 'Setengah2'

Sabtu pagi, ketika saya sedang menonton pertandingan sepak bola anak saya, saya dikejutkan dengan sebuah bbm (pesan singkat lewat blackberry messenger) yang menanyakan “Bro, ini benar?” lengkap dengan link suatu blog di internet. Saya pun membaca tulisan tersebut tentang tindakan seorang public figure. Setelah selesai membaca, saya membalas bbm teman saya yang pada intinya, saya kasih tau dia bahwa saya tidak tahu menahu kebenaran isi ‘berita’ tersebut dan enggan berkomentar lebih lanjut.

Pada note saya ini, saya ngga bermaksud untuk mengambil sikap siapa yang benar dan siapa yang salah: si penulis blog yang ‘curhat’ atau si public figure yang telah memberikan klarifikasinya lewat website resminya. Tapi,…

Dalam kesempatan ini, saya mau sharing ke teman-teman akan 2 hal. Kedua hal ini penting untuk diingat dan dijalani oleh semua orang. Terutama oleh seorang pemimpin. Berikut kedua hal tersebut:

1. Jangan pernah mengambil sikap, mengambil keputusan, dan menulis email, blog, sms, bbm, twitter, facebook… ketika sedang emosi.

Ini ajaran yang sudah saya dapatkan dari my Dad sejak saya masih duduk di bangku SD. Selalu saya ingat, dan meskipun ini merupakan sebuah advice yang sangat sederhana, tapi hasilnya sangat powerful.

Penyampaiannya my Dad ke saya, “Kalau kamu mau me-reply email yang memojokkan kamu, coba deh ‘dibawa tidur semalam’. Jangan langsung direply, simpan di draft. Jangan kebawa emosi. Besoknya, coba kamu baca lagi apa yang telah kamu tulis, Daddy yakin kamu akan bersyukur kamu tidak mengirimkan email tersebut kemarin, ketika kamu masih emosi.”

Kenapa? Secara psikologis, ada aksi dan reaksi. Sangat wajar untuk kita bereaksi terhadap suatu aksi. Kalau hal yang menyenangkan, kita akan tersenyum, ketawa, dan sebagainya. Kalau hal yang menjengkelkan, kita akan kesal, sedih, marah! Hal yang wajar. Tapi, apakah kemarahan itu harus kita tunjukkan saat itu juga? Sebaiknya tidak. Karena reaksi seketika lebih didasari oleh perasaan (emosional) bukan pikiran (rasional).

Di twitter @Billyboen tadi pagi, saya bilang “Menarik kmbali sikap/keputusan yg dbuat krn salah mnilai bkn mslh bsr; tp kl krn tergesa2, km tlh mmbuat mslh baru” #YOT

Jadi, semua masalah yang kamu hadapi, coba deh ‘dibawa tidur semalam.’

2. Jangan pernah mengambil sikap, apalagi mengambil keputusan ketika kamu baru mendengarkan dari satu sudut pandang.

Di buku “Young On Top”, saya menulis pentingnya untuk menjadi orang yang ‘Open Minded’. Kenapa? Karena, semua hal bisa dilihat lebih dari satu sudut pandang. Untuk yang sudah membaca buku itu, masih ingat ilustrasi yang saya berikan tentang sebuah telepon genggam (lengkap dengan gambar sebuah telepon genggam tersebut)?

Dalam mendescribe telepon genggam yang sama, Si A bilang telepon genggam tersebut ada layarnya, ada abjad dari A-Z, dll. Tapi si B, yang melihat dari sudut pandang lain akan bilang bahwa telepon itu tidak ada abjadnya sama sekali, tapi hanya lingkaran kecil (lubang kamera).

Siapa yang salah dalam mendescribe telepon genggam tersebut? Tidak ada yang salah, alias dua-duanya betul. Hanya kedua orang tersebut melihat telepon genggam itu dari dua sudut pandang yang berbeda. Yang satu dari depan, yang satu dari belakang.

Apa yang saya sampaikan ini jelas sangat related dengan ‘insiden’ yang masih hangat dibahas di dunia maya ini. Jelas ketika saya ditanya teman saya kemarin, saya tidak mau mengambil sikap sama sekali. Kenapa? Karena saya baru mendapatkan satu sudut pandang atas ‘insiden’ tersebut. Nah, sekarang saya sudah mendengar sudut pandang dari si public figure tersebut, saya sudah bisa mengambil sikap.

Masih tentang ‘insiden’ ini, kalau memang teman-teman sudah mendapatkan kedua sudut pandang dari penulis blog dan si public figure, teman-teman sudah bebas untuk mengambil sikap. Tidak harus setuju dengan si public figure kalau memang kalian merasa si penulis blog memiliki nilai-nilai yang sama dengan kamu. Sekali lagi, bebas… ini karena kalian sudah mendapatkan ‘cerita yang lengkap’.

Di dalam dunia kerja,

… hal ini seringkali terjadi. Sebagai seorang pemimpin, kita diharapkan untuk bisa mengambil sikap dan keputusan sebijaksana mungkin. Sikap dan keputusan seorang pemimpin bisa mempengaruhi kinerja tim, bahkan kinerja perusahaan. Jadi, memang seorang pemimpin harus berhati-hati dalam mengambil sikap dan keputusan.

Tidak sedikit orang yang berusaha menjilat atasannya. Pernah tahu sistem ‘katak’ yang ada di dunia kerja? Sistem ‘katak’ adalah tindakan menendang kiri dan kanan, untuk bisa maju. Mereka yang menjalankan sistem ‘katak’ akan selalu berusaha untuk menjatuhkan rekan kerja dengan menjelek-jelekkan rekan kerjanya ke si Boss.

Bahayanya, kalau si Boss tidak menyadari hal ini, si Boss malah akan menyukai orang itu. Si Boss akan berpikir, “Dia telah memberitahukan hal-hal yang saya tidak tahu. Dia karyawan yang baik.” Namun sesungguhnya, si Boss tidak sadar bahwa orang tersebut adalah ‘penjilat’. Kalau si orang tersebut bukan ‘penjilat’, dia tidak akan melaporkan tapi langsung memberikan input atau menegur si rekan kerjanya supaya memperbaiki sikap/kinerjanya, bukan melaporkannya ke si Boss. Kalau kemudian rekan kerjanya tidak memperbaiki sikap/kinerjanya, barulah hal tersebut menjadi wajib untuk dilaporkan ke si Boss.

Itu yang selalu saya lakukan dalam bekerja, sejak saya bekerja di Nike, hingga memimpin di Oakley, MRA, dan sekarang di JIM maupun Rolling Stone Cafe. Menurut saya, bentuk ‘carmuk’ (baca: cari muka) yang dilakukan hanya oleh orang-orang tipe ‘penjilat’, tidak akan membuat kinerja tim menjadi lebih baik, malah sebaliknya.

Jadi, sebagai seorang pemimpin, mesti gimana? Ya itu tadi, kalau dapat laporan dari timnya, jangan langsung mengambil sikap, jangan langsung mengambil keputusan, dan jangan langsung marah-marah. Tapi, coba cari tahu dari sudut pandang si terlapor (sudut pandang ‘satunya lagi’). Cari tahu, dengarkan sudut-sudut pandang yang lain. Sehingga, apa yang menjadi sikapnya, keputusannya, adalah hal yang terbijaksana yang dia ambil.

Kalau kamu sebagai pemimpin bisa melakukan hal ini, kamu telah menunjukkan wibawa kamu. Kamu akan dianggap oleh timmu bahwa kamu memang pantas untuk menjadi pemimpin mereka. Kamu pun akan mendapatkan respect dari timmu. Jangan kaget kalau timmu akan semakin setia untuk melakukan yang terbaik, dan ini semua semata hanya karena kebijaksanaanmu.

Cheers!

Billy Boen

Twitter: @Billyboen
Facebook: BillyboenYOT

  




By : Billy Boen

Posted on January 23, 2011 read:5,987

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter