Janganlah menjadi “Cocktail Entrepreneur”

Saya menemukan istilah ‘cocktail entrepreneur’ ketika menjadi pengajar mata kuliah Entrepreneurship Universitas Bakrie Swasta di Jakarta. Disinilah untungnya jadi pengajar, selalu mendapatkan kesempatan membaca buku-buku literatur terbaru.

Nah, apa pula arti dari ‘cocktail entrepreneur’ ?, istilah ini mengacu pada orang orang yang gemarnya membicarakan kehebatan orang lain menjadi entrepreneur, seolah-olah dirinya pun adalah seorang entrepreneur.

Bagi saya sebaiknya kita cukup mempelajari kesuksesan entrepreneur-entrepreneur yang ada dan langsung mempraktek-kan hal tersebut tanpa perlu berlama-lama membicarakannya sehingga kita tidak terjebak menjadi ‘cocktail entrepreneur’.  Masalah yang muncul berikutnya adalah yang sering membuat orang urung menjadi Entrepreneur adalah masalah RESIKO.  Takut mengambil resiko adalah yang umum terjadi jika kita ingin melangkah ke dunia entrepreneurship.

Saya pernah menjadi karyawan dan ‘by default’ alias tidak di-rencanakan jauh-jauh hari saya menjadi entrepreneur. Jika melihat pengalaman saya dan merefleksikan perjalanan karir yang ada maka saya dapat mengatakan bahwa baik menjadi karyawan maupun menjadi entrepreneur sama saja, dua-duanya memiliki resiko

Siapa bilang menjadi karyawan tidak ada resiko ? banyak ! resiko perusahaan bangkrut, resiko memiliki boss tidak menyenangkan, resiko dalam persaingan untuk meniti karir, resiko teman kerja tidak cocok dan banyak lagi. Namun demikian mengapa orang-orang memilih menjadi karyawan daripada menjadi entrepreneur ? Ada 2 hal besar yang dapat menjelaskan hal ini, : Point 1. ada karyawan yang dapat meminimalkan resiko ini dengan kerja keras (hard work), menambah ilmu dan bersikap positif sehingga karir mereka bagus dan terus menanjak. Point ke 2, ada karyawan yang sudah merasa nyaman dan hanya menjalankan tugasnya didalam perusahaan. Saya dapat mengatakan menjadi karyawan masih memiliki 2 pilihan : menjadi pilot bagi dirinya dalam berkarir atau menjadi penumpang bagi dirinya dalam perusahaan. Silahkan anda check diri anda, apakah anda pilot ataukah penumpang ?

Menjadi entrepreneur juga memiliki resiko, bahkan teramat banyak jika di list satu persatu, namun, seorang entrepreneur yakin dengan kecintaan (passion), kemampuan (skills), pengetahuan (knowledge), reputasi (reputation) dan jejaring (network), dia dapat meminimalkan resiko-resiko yang ada. Entrepreneur berusaha agar sebanyak mungkin faktor-faktor yang dapat mempengaruhi usaha-nya menjadi faktor yang dapat dia kontrol. Hal lain yang sangat penting adalah, dengan menjadi Entrepreneur kita hanya mempunyai satu peran yaitu menjadi pilot dari usaha kita, bukan penumpang.

Demikian sedikit sharing dari saya untuk YOTers, putuskan apa yang ingin anda lakukan apakah menjadi pilot ataukah jadi penumpang ? jika ingin menjadi pilot anda bisa menjadi pilot baik sebagai Karyawan ataupun Entrepreneur. Namun jika anda merasa cukup cakap untuk menjadi pilot dalam kapasitas sebagai entrepreneur, janganlah takut akan resiko, overcome it ! with your skills, knowledge, network and integrity. Stop menjadi ‘Cocktail Entrepreneur” karena itu hanya membuang waktu anda saja.

Agus Finardi-CEO Bafardi Group/YOT Academy Mentor

Follow me @agus_finardi

  




By : Agus Finardi

Posted on November 05, 2012 read:2,876

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter