Kampus Plat Merah

Sebuah titipan kisah dari anak negara, kampus berplat merah.

Tiada kata yang indah selain mengucap syukur ketika kita dapat menginjakkan kaki di kampus punggawa keuangan negara ini dengan status mahasiswa baru. Status itu telah saya dapat sekitar 2 tahun lalu dengan penuh kebanggaan dan rasa bahagia, walaupun sebelumnya saya telah menjalani kuliah 2 semester di perguruan tinggi lain. Beda memang ketika kita membandingkan kesan awal akan kampus ber plat merah ini dibandingkan kampus non plat merah lainnya. Kesan kaku, monoton, disiplin dengan aturan yang ketat masih melekat jelas di ingatan saya pada waktu itu. Ya, tidak heran karena sebelumnya saya telah menjalani perkuliahan yang bisa dibilang cukup bebas dalam berbagai hal, khususnya dalam hal bermusik. Alih-alih mendapat kesenangan, terbesit pula perasaan khawatir karena mungkin saya harus memendam jauh hobi saya itu karena telah masuk ke dalam kampus ber plat merah ini.
 
Saya yakin saya bukan satu-satunya yang merasakan hal ini saat pertama kali masuk ke kampus ini. Banyak cerita dari teman-teman yang saya dengar dan tentunya saya alami sendiri sehingga saya bisa dengan yakin bercerita mengenai keadaan kampus ini yang sesungguhnya. Rasa penasaran akan kesan pertama yang saya dapatkan waktu itu membuat saya ingin bertanya-tanya “Apakah benar kampus ini “sedatar” itu?”. “Apakah benar kegiatan di dalam kampus ini, melulu soal kegiatan akademis?” Sekarang ini, saya bisa dengan yakin menjawab TIDAK. Kampus STAN yang telah bertransformasi menjadi PKN-STAN ini memang kampus kedinasan, tapi saya pribadi telah melalui sebuah proses pemikiran bahwa dimana atau apapun hal yang seakan-akan menghambat dalam pikiran, bisa dilalui asalkan ada niat dan kesungguhan dari dalam diri. 
 
Kembali lagi mengenai hobi yang saya cemaskan akan dikubur dalam-dalam. Pada awal tingkat perkuliahan saya mulai mencoba untuk mengembangkan hobi saya dengan tidak memerdulikan kesan pertama mengenai kampus ini. Ya, rasa penasaran saya yang lagi-lagi mendorong saya untuk tetap menjalani hobi saya yaitu bermusik. Dan ternyata, banyak wadah di kampus kita ini yang dapat 
menjadi jalan untuk menyalurkan minat dan bakat kita, yaitu melalui UKM atau Elkam. Pandangan saya akan kampus ini mulai berubah sejenak dengan masuknya saya ke dalam salah satu Elkam di bidang musik. Dari sanalah awal saya mempunyai kepercayaan diri lagi untuk tetap menjalani hobi saya. 
 
Bayangan dan keingingan untuk dapat perform dari panggung acara satu ke acara lainnya masih melekat jelas di ingatan saya waktu itu, ya mungkin karena masih bernostalgia dengan kehidupan kampus yang dulu. Ingin rasanya di kampus PKN-STAN ini dapat kembali menyalurkan hobi tersebut. 
 
Dan lagi, hal tersebut tidak se mustahil anggapan awal saya terhadap kampus ini. Bermula dari ajang perlombaan pembuatan jingle untuk suatu acara kampus, dari sanalah mulai muncul tawaran-tawaran  untuk membantu mengisi acara di setiap kegiatan di kampus ini. Ya, lagi-lagi anggapan awal saya terpecah, karena ternyata banyak sekali acara non-akademik yang dihadirkan di kampus berplat merah ini. Dari situlah saya mulai yakin bahwa kaum-kaum yang gemar bermusik di kampus inipun masih bisa dikembangkan.
 
Tidak cukup sampai disitu, bayangan saya akan kampus lama yang pernah saya ‘singgahi’ pun masih melekat di pikiran saya. Terceletuk kembali pertanyaan di dalam hati saya “Apakah mungkin di kampus kedinasan seperti ini bisa menyelenggarakan acara yang mendatangkan artis-artis seperti layaknya kampus-kampus non kedinasan lainnya?”. Pertanyaan itulah yang sejatinya membuat rasa penasaran dan membuat saya tergerak hati untuk mencoba memberikan sedikit hiburan yang lebih di dalam kampus ini. Tidak ada yang tidak mungkin, itulah jua yang mendorong saya masuk ke dalam salah satu himpunan yang ada di kampus ini untuk mencoba membuat program kerja yang 
harapannya dapat mendatangkan artis seperti pandangan saya dahulu. Dan benar saja, disinilah puncak anggapan awal saya akan kampus ini terpecah. Bahkan di kampus kedinasan pun kita semua masih dapat menikmati dan membuat acara musik sebesar itu, terbukti dengan datangnya Alexa, 
 
Payung Teduh, Adera, Bondan Prakoso, dan masih banyak lagi acara yang mendatangkan sosok ternama di negeri ini. Tak ada lagi anggapan bahwa kampus dengan plat merah ini kaku, banyak aturan, tidak bebas, dan monoton. Ya memang jika dibandingkan dengan kampus non kedinasan, sudah wajar jika kampus kita tercinta ini lebih banyak menegakkan aturan, namun dalam masalah kehidupan sehari-hari saya rasa tidak terlalu membosankan dan kaku seperti anggapan-anggapan orang di luar sana. Dalam hal bermusik, di kampus ini kita masih bisa “manggung” dari satu acara ke acara lain, masih bisa “ngeband” dengan teman-teman, bahkan masih bisa “nonton konser’ di dalam kampus. Pun, jika teman-teman yang mempunyai hobi musik dan ingin tetap fokus dalam hal itu juga masih bisa. Tidak ada aturan yang melarang kita semua untuk manggung di cafe-cafe, membuat album serta mengomersilkannya, dan bahkan tidak ada yang melarang kita semua untuk menjadi artis sekalipun. Pilihannya ada di tangan kita sendiri yang tentunya dengan berbagai resiko masing-masing. Bagi saya, sekedar membantu mengisi acara teman-teman di kampus dan menyalurkan hobi lewat bermusik saja sudah cukup. Karena saya sadar bahwa kampus ini telah membayar sebagian dari kesuksesan hidup kita dan menuntut kita untuk memberikan feedback yang maksimal selayaknya sebagai calon punggawa keuangan negara. Status kita yang sejatinya sudah ‘dibeli’ 
negara pun mari kita balas dengan memberikan kontribusi yang sebaik-baiknya dengan tidak melanggar satupun kode etik yang akan mencoreng nama almamater.
 
Kesimpulan yang ingin saya bagikan ke teman-teman adalah walaupun PKN-STAN merupakan kampus kedinasan, namun tidak menjadikan setiap kegiatan perkuliahannya menjadi sekaku itu. 
 
Banyak hal yang bisa diikuti dan dirasakan dari setiap kegiatan non akademis yang ada di kampus ini. 
Di dalam hal seni dan musik, berbagai macam acara dikemas apik dengan tidak sedikit mengeluarkan dana  untuk memuaskan penontonnya. Kreatifitas yang disuguhkan dari setiap acarapun ternyata memunculkan kembali tuntutan hiburan yang diinginkan oleh para mahasiswanya. Ide dan gagasan baru mengenai sebuah acara juga terbukti bisa diwujudkan di dalam kampus ini, terbukti dengan berbagai macam acara yang akhir-akhir ini telah kita lewati. Hanya memang, yang harus dibenahi adalah kurangnya partisipasi dari mahasiswa-mahasiswi kampus yang masih menganggap kegiatan akademis masih diatas segalanya. Sistem Drop Out memang masih menjadi momok di kampus ini, namun coba sejenak kita lihat dengan hadirnya petinggi-petinggi di kampus yang rata-rata juga memiliki kemampuan akademis yang luar biasa. Kehidupan mereka seakan-akan imbang antara 
akademis dan non-akademis.  Ini yang saya salutkan dari kehidupan di kampus ini. Jadi, hal apalagi yang masih akan dijadikan alasan untuk ikut berkontribusi aktif di setiap kegiatan kampus ini? 
 
Masihkan kita beralasan bahwa setiap kegiatan yang ada di dalam kampus ini begitu membosankan? 
Jawabannya ada di dalam diri dan pilihan hidup kita masing-masing.
  




By : LISA AMALIA ARTISTRY RAMADHANI

Posted on January 23, 2016 read:98

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter