Kecantikan Masa Kecil

“ If you carry your childhood with you, you never become older,” –Tom Stoppard.

             Saya sedang merindukan segala macam bentuk persahabatan dan masa kanak-kanak yang begitu lugu, ketika pada waktu yang sama saya melihat sekawanan anak sekolah dasar bercanda dan berjalan beriringan sembari bergandengan tangan. Saling menatap dan tertawa lepas. Pandangan yang tulus dan tanpa motif tersirat. Tak bisa saya pungkiri, saya begitu iri melihat kebebasan yang sudah tak bisa saya jumpai lagi dewasa ini.

        Sebenarnya, banyak hal yang dapat dipetik dari hal-hal yang pasti dialami setiap orang dalam kesehariannya. Jika kita benar-benar “membaca” apa yang sudah dan sedang terjadi. Untuk menjadikan apa-apa yang akan terjadi menjadi lebih baik. Untuk itulah mengapa manusia dituntut untuk berpikir bagaimana ke depan dan tidak menoleh lagi ke belakang.  Hari demi hari yang sudah terlewati diciptakan dengan alasan sakral untuk akhirnya dijadikan bahan perenungan bagi makhluk yang selalu berusaha untuk berfikir, berevaluasi, introspeksi dan ekstrospeksi diri.

     Sejatinya, kita mampu menjumput pelajaran dengan mengamati lalu merenungi. Bahwa segala aspek yang kasat mata dapat menjadi guru yang tidak butuh informan dan komunikan agar diperhatikan.  Bahwa guru tidaklah harus yang memiliki “lebih” dari apa yang sudah atau belum kita miliki. Dan bahwa segala isi di dunia ini hadir bersama-sama untuk saling melengkapi, bukan untuk berdiri sendiri-sendiri. Seperti contoh, kita tidak bisa tahu bahwa hitam itu pekat jika tidak ada putih, sama halnya seperti tidak akan mengenal apa itu adulthood jika tidak ada satu masa bernama childhood.

             Tidak bisa ditawar lagi, masa kanak-kanak adalah sebuah cermin tempat kita, sebagian besar para remaja dan orang dewasa kembali memandang pantulan diri yang telah terbentuk sampai detik ini, sekaligus jadi tempat persinggahan bagi alam bawah sadar untuk mengenang. Dan yang secara otomatis mengajarkan pada semua orang bahwa dengan bertambahnya usia, kematangan diri, wawasan, dan lain sebagainya, bukanlah hal yang member jaminan akan terbebasnya diri dari asumsi yang mematikan, subjektifitas yang membumbung tinggikan ego dan kecongkakan yang makin naik jabatan. Dan hal-hal lain yang sudah tentu tidak akan terjadi pada memori para residen di masa kanak-kanak.

       Dalam persepsi mereka, hanya ada dunia yang luas dan indah, persabatan dan harapan yang abadi dan menilai segala hal dengan kemurnian objektifitas yang tak dapat terjamah pada para mature pada umumnya. Dan bukanlah hal yang tidak mungkin jika kita belajar dan menjumput sisi positif dari masa kanak-kanak yang begitu lugu dan tulus. Memandang dunia adalah indah tanpa ada makna tersirat dan motif yang tersembunyi disana.

   Sambil terus mengamati mereka yang terus berjalan sampai menjumpai pertigaan dan berbelok, saya berdoa dalam hati agar masa kanak-kanak yang saya rindukan akan kembali lagi hadir. Tentunya dengan versi yang berbeda. :)

(HAS)

  




By : LISA AMALIA ARTISTRY RAMADHANI

Posted on November 20, 2015 read:66

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter