Kota Petir

Indonesia terletak pada 7°LU – 12°LS dan 94°BT – 142°BT yang merupakan daerah khatulistiwa atau daerah tropis dengan tingkat pemanasan dan kelembaban tinggi. Kondisi ini mengakibatkan potensi kejadian petir menjadi sangat tinggi dibanding daerah sub tropis (Tjasyono, 2005).  Kejadian petir yang terjadi di wilayah Indonesia pada umumnya dapat dikategorikan memiliki frekuensi yang sangat tinggi dimana hari guruhnya mencapai 300 hari petir per tahun. Badai petir (thunderstorm) merupakan salah satu fenomena atmosfer yang terjadi akibat adanya aktivitas awan Cumulunimbus (Cb) yang mengandung muatan listrik. Besar medan listrik minimal yang dihasilkan oleh petir bisa mencapai 1 mega volt per meter.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di daerah Depok pada tahun 2002 diketahui daerah Depok memiliki sambaran petir yang terjadi hampir sepanjang tahun. Yang tertinggi pada bulan Maret, April, dan Mei, atau pada musim hujan. Sedangkan sambaran agak mereda di bulan Februari. Khusus di Kecamatan Sawangan dan Cinere memiliki sambaran petir yang cukup besar dibandingkan dengan kecamatan yang lainnya, dimana diketahui arus petir yang sangat tinggi bahkan tertinggi di dunia dengan arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA. Dengan kekuatan arus sebesar itu, petir mampu meratakan bangunan yang terbuat dari beton sekalipun. (Reynaldo Zoro, 2002).

Kondisi geografis Kota Depok yang dialiri oleh sungai-sungai besar yaitu Sungai Ciliwung dan Angke serta 13 sub Satuan Wilayah Aliran Sungai. Berdasarkan atas elevasi atau ketinggian garis kontur, maka bentang alam daerah Depok dari elatan ke Utara merupakan daerah dataran rendah – perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50-140 meter di atas permukaan laut. Wilayah Depok juga merupakan wilayah yang dipengaruhi angin regional dan angin lokal. Yakni angin dari lembah dan angin pegunungan dari wilayah selatan Depok, serta angin lokal yaitu angin darat dan angin laut dari wilayah utara Depok. Karena itulah wilayah Depok banyak ditemui pembentukan awan konvektif yang kemudian turun hujan orografis yang disertai gejala-gejala yang bersangkutan dengan itu, seperti guntur. (Sandy, 1978)

  




By : Galih Sang Surya Buana

Posted on December 09, 2015 read:109

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter