Kutu Lewat : mental intern dan fresh graduate yang harus…

 

Kutu Lewat :  mental intern dan fresh graduate yang harus dihindari

Perusahaan start up atau kecil sulit untuk attract top graduate karena perusahaan start up atau kecil akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan mapan secara sistem dan bergengsi secara nama, belum lagi dengan gaji yang sering kali jauh lebih tinggi.

Perusahaan start up atau kecil sering kali menyiasati kebutuhan karyawan dengan merekrut intern atau karyawan diploma yang masih kuliah extension sarjana. Perusahaan kecil dapat melakukan ini karena lebih fleksibel untuk menerima intern yang hanya kerja 3-6 bulan dibandingkan perusahaan besar, juga hal-nya dengan karyawan yang masih kuliah, perusahaan kecil masih lebih fleksibel akan hal tersebut.

Namun yang cukup sering terjadi, para intern dan fresh graduate hanya memperlakukan perusahaan kecil sebagai tempat memenuhi syarat sekolah (intern) atau sambil menunggu selesai kuliah sarjana (calon fresh graduate) belaka, mereka jarang serius untuk berkarier di-perusahaan-perusahaan tersebut. Bagi saya, jika para intern dan fresh graduate memiliki rencana demikian harus disampaikan di-awal kerja dan harus menjaga etika dalam bisnis.

Saya menyebut anak-anak muda ini sebagai kutu lewat bukan kutu loncat karena mereka hanya ‘transit’ untuk mencapai tujuan lainnya. Bagi saya hal tersebut sah-sah saja jika mereka memiliki pandangan seperti itu namun hal ini menjadi masalah ketika perusahaan yang telah memberikan tempat ‘transit’ atau ‘lewat’ ini telah menyatakan ketertarikan untuk menawarkan pekerjaan tetap atau memberikan syarat untuk tetap bekerja setelah lulus secara ‘full time’ tapi mereka dengan tidak ber-etika menganggap penawaran dan syarat itu angin lalu saja.

Beberapa kasus yang saya ketahui memang cukup memberikan pelajaran yaitu ketika sebuah perusahaan start up menawarkan lowongan pekerjaan tetap pada seorang intern-nya dari universitas swasta terkenal yang kemudian tidak di-anggap sama sekali oleh intern tersebut, dibalas pun tidak. Kasus lain ketika sebuah perusahaan kecil mempekerjakan para diploma D-3 dari universitas negeri terkenal yang masih kuliah S-1 extension, namun segera setelah lulus dan di-wisuda tanpa basa basi mereka resign walaupun sudah pernah di-ingat-kan bahwa perusahaan akan menerima dengan catatan ada timbal balik yaitu perusahaan memberi waktu kerja yang fleksibel selama menyelesaikan kuliah namun perusahaan diberi waktu yang signifikan untuk mereka membalasnya dengan bekerja secara full time setelah lulus.

Ada 2 pihak yang harus belajar dari kasus kutu lewat ini yaitu para calon intern atau fresh graduate dan para perusahaan kecil yang menerima mereka.

Kepada para calon intern atau fresh graduate, langkah pertama kalian dalam mencari pengalaman bekerja adalah tahap penting untuk membentuk karakter, jangan pernah memulai untuk menggampangkan penawaran atau ketertarikan dari perusahaan tempat kalian bekerja pertama kali karena jika sekali saja kalian lakukan sikap menggampangkan maka akan menjadi kebiasaan yang akan berulang dalam karir kalian. Hal lain adalah, kalian membawa nama almamater sehingga akan memberikan pengalaman buruk pada perusahaan terhadap almamater kalian yang kelak membuat sulit bagi para junior kalian menjadi intern atau fresh graduate di banyak perusahaan.

Kepada para perusahaan kecil yang tertarik untuk menjadi tempat intern atau fresh graduate, harus dapat tegas akan perjanjian kerja diawal agar dapat benar-benar mendidik para intern atau fresh graduate bukan hanya soal kerja semata tetapi etika bekerja dan menghormati hubungan kerja.

Semoga tulisan ini dapat membantu para pihak untuk membentuk para anak muda yang siap masuk ke lapangan pekerjaan untuk tidak menjadi kutu lewat.

@Agus_Finardi – Bafardi CEO/Mentor YOT Entrepreneurship

  




By : Agus Finardi

Posted on December 03, 2012 read:1,894

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter