Let ‘Em Judge, Be You

Noone can see your life the way you see it” – David Archuleta

Suatu hari, seperti biasa saya berjalan menuju ruang kelas yang berada di pojok sekolah. Terlihat beberapa anak sedang memandang saya sembari berbincang, seolah membicarakan saya. Sontak saya berpikir dalam hati, kenapa mereka memandang saya seperti itu? Bukankah saya sudah berlaku sewajarnya? apa ada yang tidak beres dengan diri saya?

Hari yang lain memiliki kisah berbeda. Ada sekelompok siswa di sekolah saya yang sedang berbincang. Bukan tentang pelajaran atau pembahasan yang berhubungan dengan pendidikan, namun mereka sedang membicarakan seorang teman yang mereka anggap telah memilih sebuah jalan yang salah. Teman yang mereka obrolkan tersebut memilih merantau ke sebuah daerah yang bahkan keamanannya tak terjamin. Tentu, perbincangan tersebut tak diketahui oleh teman yang memilih merantau tadi.

Kedua kisah diatas pernah terjadi pada diri saya. Cerita pertama benar-benar saya alami, bahkan terlalu sering. Kisah kedua merupakan sebuah kesaksian saya di suatu senja menggembirakan menunggu bel pulang sekolah, beberapa tahun yang lalu. Keduanya menjurus pada satu hal yang amat sering terjadi di kehidupan siapapun, judgement.

Satu istilah dalam Bahasa Inggris ini saya artikan sebagai sebuah tindakan menilai seseorang secara membabi buta yang didasarkan pada pandangan pribadi. Terlalu sulit? Intinya, judgement disini saya maksud sebagai penilaian subjektif orang lain terhadap sesuatu hal, bisa manusia, bisa hewan, bahkan benda lainnya. Menurut saya, judgement ini masuk dalam salah satu ciri manusia sebagai makhluk sosial.

Kedua cerita nyata yang sengaja saya paparkan diatas berhubungan dengan istilah ini. Meski cerita pertama cenderung menjelaskan bahwa saya terlalu bawa perasaan (baper), namun perlakuan orang lain yang membicarakan kita seolah mereka paling benar di seantero jagad adalah salah satu bentuk judgement. Cerita kedua pun demikian. Bagaimana bisa mereka menganggap keputusan orang lain benar atau salah ketika mereka tak mengetahui exactly kehidupan orang tersebut?

Makanya, saya sengaja membuka artikel ini dengan salah satu quote dari seorang penyanyi muda jebolan American Idol, David Archuleta, bahwa tak ada seorangpun bisa melihat kehidupan kita dengan cara yang sama dengan kita melihat kehidupan kita sendiri. Contoh kecil, seorang remaja laki-laki membawa sebuah keranjang berisi bunga-bunga indah. Lalu, banyak orang menilai bahwa dia adalah seorang lelaki feminim. Padahal, lelaki tersebut sedang membawakan dagangan ibunya yang seorang penjual bunga hias di pasar.

Kehidupan setiap orang ditakdirkan Tuhan berbeda. Hanya Tuhan dan diri kita saja yang tahu bagaimana kehidupan kita dengan segala warna-warninya. Ketika orang lain menilai kehidupan kita dengan pandangan mereka, bukankah yang mereka tahu hanya yang terlihat? Bagaimana dengan ‘yang di dalam’? Ibarat sebuah air di dalam gelas berwarna keruh, mereka hanya melihat keruhnya saja tanpa mengetahui apa isi dalam gelas tersebut.

 Sekali lagi, hanya Tuhan dan kita yang tahu. Makanya saya berani memanggil mereka yang senang men-judge sebagai orang paling sok tahu di dunia. CMIIW. Rasa baper memang selalu ada. Namun, ketika kita tidak percaya dengan diri kita sendiri, kita akan terombang-ambing oleh opini orang lain yang berbeda-beda. Kita perlu memastikan bahwa kita tahu tujuan hidup kita dan berani menanggung konsekuensi terhadap setiap keputusan yang kita ambil. If judgers still judge, let them waste their time for our businesses.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin membagi sebuah kalimat yang pernah dilontarkan George Bernard Shaw ‘‘The reasonable man adapts himself to the world. The unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.’’ Seharusnya dunia yang mengikuti kita, bukan kita yang mengikuti alur dunia. Be you!

 

Ahmad Zulfiyan @azulfiyan

YOT Campus Ambassador 6

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on July 10, 2015 read:181

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter