Leukemia (2), Mengenal Lebih dalam Leukemia

Leukemia (2)

Mengenal Lebih dalam Leukimia

            Halo Yoters. Sudah baca Leukemia (1)? Sekarang saya akan melanjutkan lebih dalam mengenai Leukimia. Sebelumnya saya akan me-refresh kembali apa itu leukemia. Leukemia adalah bentuk kanker yang menargetkan darah. Seperti yang diketahui bahwa darah mengandung berbagai jenis sel seperti sel darah merah, sel darah putih (leukosit), dan trombosit. Siklus hidup normal sel-sel ini (pembentukan, pertumbuhan, fungsi dan kematian) dikendalikan sebagian oleh sumsum tulang. Dalam banyak kasus, jika kontrol atas siklus hidup leukosit terganggu, maka terjadilah leukemia. Jumlah leukosit akan lebih tinggi dari sel-sel darah lainnya, mereka akan berhenti mati seperti pada normalnya/umumnya dan mereka tidak akan melaksanakan fungsinya dalam tubuh, seperti melawan infeksi dan penyembuhan luka.

Faktor Risiko

Ada sebab, ada akibat. Setiap penyakit pasti memiliki faktor risiko yang dapat menyebabkan pernyakit tersebut. Pada leukemia, keadaan kanker leukemia dimulai ketika DNA dari satu atau lebih sel darah putih rusak atau bermutasi. Dalam banyak kasus, hasil kerusakan DNA dalam aktivasi onkogen (gen kanker-promosi) dan deaktivasi gen supresor tumor (gen kanker-pencegah). DNA yang abnormal disalin dan diteruskan ke beberapa generasi sel, yang bukannya jatuh tempo dan mati, namun cenderung berkembang biak dan menumpuk didalam tubuh  sehingga menyebabkan komplikasi leukemia. Kerusakan DNA mungkin disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan paparan kerentanan lingkungan:

1.      Umur.

2.      Bahan kimia dan radiasi

Individu yang terpapar bahan kimia berbahaya (benzena) atau radiasi memiliki risiko semakin meningkatnya leukemia akut.

3.      Merokok

Berdasarkan laporan bahwa banyak kasus dewasa dengan leukemia adalah perokok.

4.      Virus

Human T-Cell Leukemia Viruses I (HTLV-I) menyebabkan leukemia/limfositik akut (ALL). Demikian pula dengan jenis leukemia lain telah dilaporkan bahwa terjadi pada pekerja yang terpapar virus hewan.

5.      Genetik

Risiko Leukemia meningkat 15 kali lipat antara anak-anak dengan sindrom Down. Penyakit warisan lain juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena leukemia seperti: anemia Fanconi (kelainan darah yang berhubungan dengan kerusakan kromosom), sindrom Bloom (penyakit keterbelakangan pertumbuhan berhubungan dengan peningkatan kerusakan kromosom), ataksia telangiectasia (gangguan sistem saraf pusat), neurofibromatosis dan sindrom Li-Fraumeni (penyakit kanker yang diwariskan), sindrom Wiskott-Aldrich (penyakit kekurangan imun yang diwariskan), penyerapan lemak dan nutrisi lain karena perkembangan abnormal dari pankreas dan fungsi yang tidak tepat dari sumsum tulang.

Tanda dan Gejala

Ada beberapa tanda-tanda atau gejala leukemia mirip dengan penyakit umum dan kurang parah lainnya. Tes darah tertentu dan tes sumsum tulang diperlukan untuk membuat diagnosis.

Tanda dan gejala leukemia bervariasi berdasarkan jenis leukemianya. Untuk leukemia akut, tanda dan gelajanya, yaitu:

1.      Kelelahan atau tidak ada energi.

2.      Sesak napas selama melakukan aktivitas fisik.

3.      Kulit tampak pucat.

4.      Demam ringan atau berkeringgat pada malam hari.

5.      Lambat dalam penyembuhan luka dan terjadi pendarahan.

6.      Terlihat hitam-dan-biru (memar) tanpa alasan yang jelas.

7.      Terdapat ukuran bintik-bintik merah di bawah kulit.

8.      Nyeri di tulang atau sendi (misalnya, lutut, pinggul atau bahu).

9.      Rendahnya jumlah sel darah putih, terutama monosit atau neutrofil.

Orang dengan CLL atau CML mungkin tidak memiliki gejala apapun. Kadang-kadang, orang dengan CLL mungkin terlihat ada pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher, ketiak atau pangkal paha. Penderita mungkin merasa lelah atau sesak napas (anemia) atau sering terjadi infeksi jika CLL dalam keadaan yang lebih parah. Dalam kasus ini, tes darah dapat menunjukkan peningkatan jumlah limfosit.

Tanda dan gejala CML cenderung berkembang secara perlahan. Orang dengan CML mungkin merasa lelah dan sesak napas saat melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka juga mungkin memiliki pembesaran limpa, berkeringat pada malam hari dan terjadi penurunan berat badan.

Treatment

Pengobatan yang tepat untuk penderita leukemia terutama tergantung pada jenis leukemia, usia, dan kesehatan umum pasien.

Pilihan pengobatan yang tepat, yaitu:

1.      Menunggu waspada

2.      Kemoterapi

3.      Terapi yang ditargetkan

4.      Terapi radiasi

5.      Transplantasi sel induk

Jika orang memiliki leukemia kronis tanpa gejala, orang tersebut bisa saja tidak memerlukan pengobatan segera. Pilihan ini disebut menunggu waspada. Ketika penyakit memburuk, pengobatan sering dapat mengendalikan penyakit dan gejalanya. Setelah pengobatan untuk mengontrol leukemia, pasien mungkin menerima terapi yang dikenal sebagai terapi pemeliharaan, yang membantu menjaga leukemia agar tidak datang kembali.

Namun, para pasien dengan leukemia akut perlu dirawat segera. Tujuan pengobatan adalah untuk menghancurkan tanda-tanda leukemia dalam tubuh dan membuat gejala-gejala menghilang. Terapi pemeliharaan dapat diberikan setelah tanda-tanda leukemia hilang. Setiap saat, perawatan tersedia untuk meringankan efek samping pengobatan dan untuk mengontrol rasa sakit dan gejala lainnya. Misalnya, antibiotik diberikan untuk infeksi, dan transfusi darah, trombosit, atau granulosit diberikan untuk perdarahan dan masalah darah lainnya.

Nah, Yoters. Sudah cukup jelas kan tentang leukemia. Semoga kita selalu tetap dalam keadaan sehat. Apakah kalian ingin membantu meringkankan beban mereka, para penderita leukemia? Caranya mudah, cukup datang aja di Main Event Love Donation 2016 dan jangan lupa mendonorkan darahmu.

Jangan lupa baca Leukemia (1) juga agar lebih paham.

 

 

Qonitah Azzahra

Gizi – Universitas Indonesia

  




By : Qonitah Azzahra

Posted on November 21, 2015 read:297

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter