Mau Kaya (MK)

Saya bukan pengamat politik. Saya tergolong awam kalau di politik, jadi dalam tulisan ini pun, saya tidak akan membahas tentang isu yang sedang hangat dibicarakan, baik di Tv, radio, maupun di sosial media.. tentang tertangkapnya Ketua Makamah Konstitusi hari Rabu malam kemarin.

Terinspirasi dari sebuah celotehan di twitter, di mana salah seorang follower saya (@billyboen) bilang bahwa MK itu singkatan dari “Mau Kaya”, lahirlah ide saya untuk menulis ini.

Menurut akal sehat saya, ketika seseorang ingin masuk ke politik, seharusnya karena mereka ingin berada di sisi pembuat kebijakan. Seharusnya lagi, ini disebabkan karena kekecewaan mereka kepada sebuah kebijakan yang menurut mereka merugikan masyarakat, atau setidaknya karena perkembangan zaman, kebijakan tersebut sudah out dated alias ‘kuno’ dan harus diperbaiki.

Masih menurut akal sehat saya, tidak seharusnya seseorang masuk ke politik dengan tujuan untuk mencari kekayaan. Mereka digaji oleh rakyat, mereka seharusnya menjadi pelayan bagi rakyat. Mereka seharusnye memperjuangkan kebutuhan rakyat. Mereka dipilih oleh rakyat secara langsung maupun tidak langsung.

Lantas, kenapa ada ratusan pejabat publik yang tertangkap, berstatus terperiksa, tersangka, terdakwa, dan berada di penjara saat ini karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi? Apakah mereka tadinya adalah penjahat sebelum masuk ke politik? Saya rasa tidak. Pada umumnya, mereka aktif ketika kuliah, berpendidikan tinggi, dan ‘beragama’. Nah, tapi kenapa mereka korupsi? Kenapa mereka masuk ke politik?

Apakah saya yang mungkin bodoh karena akal sehat saya ‘belum nyampe’ bahwa mungkin sekarang ini adalah zamannya: kalau mau kaya yuk masuk politik?

Saya tidak keberatan untuk dianggap bodoh kalau ternyata akal sehat saya masih belum bisa menerima ‘kenyataan’ ini.

Salah satu passion saya adalah berbagi ke anak-anak muda Indonesia. Berbagi apa? Berbagi nilai-nilai yang saya harap bisa berkontribusi bagi kesuksesan mereka. Saya selalu bilang, “Kalau milih masuk politik, jangan untuk kaya, tapi untuk menjadi pelayan publik. Berbakti.” Saya juga sering bilang, “Kalau mau kaya, jangan masuk politik. Kalau mau kaya, jadi pengusaha aja.”

Mau kaya? Jangan jadi Ketua Makamah Konstitusi (MK). Jadilah pengusaha, atau kerja sungguh-sungguh supaya terus dipromosikan jabatannya hingga jadi CEO, kemudian investasikan gaji dan bonusnya di properti, saham, dan sebagainya.

Oke, saya akan stop bicara soal isu korupsi. Kayaknya yang lebih seru dibahas adalah prinsip hidup: Mau Kaya?

Mungkin sebagian dari Anda berkata dalam hati, “Ah kaya bukan tujuan hidup saya.” Apa pendapat saya? Ya sah-sah saja. Tapi kalau saya berpendapat, kita hidup cuma satu kali, masa milih hidup biasa-biasa aja?

Banyak yang beranggapan, kalau orang kaya itu pasti berdosa. Kata siapa? Banyak kok orang kaya yang jadi kaya karena berbisnis dengan integritas! Jangan terpengaruh karena banyaknya koruptor di negeri ini yang memang tujuannya untuk menjadi kaya, lantas malu kalau punya keinginan untuk menjadi orang kaya. Kenapa mesti malu?

Memang benar bahwa tidak harus kaya untuk bisa berbagi karena berbagi dengan orang lain itu tidak selalu harus hanya berbagi uang. Berbagi tenaga, waktu, ide juga bisa. Jadi dalam prinsip berbagi, Anda tidak harus menunggu jadi orang kaya baru bisa berbagi. Tapi..

Kalau dari yang saya cermati, semakin kaya seseorang, semakin banyak yang dia bisa bagikan. Anggaplah si A adalah orang biasa yang berhati emas. Dia memilih untuk hidup biasa saja. Dia ingin selalu berbagi dengan sesama, ditengah keterbatasannya. Dia menyisihkan Rp. 100,000,- setiap bulan untuk disumbangkan ke panti asuhan. Dia pun menyisihkan waktunya setiap hari Sabtu untuk mendatangi panti jompo untuk membantu. Di lain tempat, ada si B. Dia adalah orang yang kaya raya (karena berbisnis dengan integritas). Dia juga berhati emas. Yang dia lakukan adalah menyumbangkan Rp. 100,000,000,- setiap bulan ke panti asuhan. Dia juga mengajak 100 orang karyawannya untuk mengunjungi panti jompo untuk membantu, setiap hari Sabtu. Anda pilih menjadi yang mana, si A atau si B? Siapa yang lebih banyak terbantu oleh si A, siapa yang lebih banyak terbantu oleh si B?

Saya ingat betul sebuah interview Oprah Winfrey di CNN yang bilang bahwa dia bangga kalau dia terkenal sebagai salah satu wanita terkaya di dunia. Ketika ditanya Piers Morgan, sang interviewer, “Kenapa?” Oprah pun bilang, “Kalau tidak ada orang yang tau saya kaya, saya tidak menginspirasi siapapun. Saya kaya. Saya menginspirasi banyak orang. Saya berharap banyak orang yang ingin mengikuti jejak saya.” Dalam interview itu juga dia bilang bahwa tidak ada salahnya untuk menjadi orang kaya, atau ingin menjadi kaya, selama punya purpose yang jelas. Apa itu? Ingin menjadi orang kaya, supaya bisa berbagi ke lebih banyak orang lagi.

Interview Piers Morgan dengan Oprah Winfrey itu betul-betul membekas di hati saya. Kekayaan bukan untuk disombongkan. Kekayaan itu untuk disyukuri dan dibagi. Ingat, bukan berarti kita harus kaya dulu baru bisa berbagi ya. Tapi, semakin banyak orang yang akan bisa kita tolong, kalau kita kaya. Mungkin ini bisa dijadikan tujuan kenapa kita harus kerja keras setiap hari. Untuk supaya menjadi orang yang berhasil, kaya, dan supaya kita bisa berbagi ke lebih banyak orang lagi.

Tapi ingat, percuma berbagi ke banyak orang, kalau uang yang kita miliki dari tindakan yang tidak berintegritas.

Saya sendiri merasa saya belum kaya. Entah apakah karena ini sifat manusia yang selalu merasa kurang? Saya sih tidak merasa kurang. Tapi saya merasa belum puas dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya bersyukur. Ingat, tidak puas sama tidak bersyukur itu beda ya. Saya bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang, tapi saya belum puas dengan pencapaian saya sekarang ini.

Saya masih ingin menjadi orang yang lebih sukses dari hari ini, saya masih ingin menjadi orang yang lebih kaya dari hari ini. Supaya, semakin banyak yang bisa saya lakukan untuk anak-anak muda Indonesia. Salah satu cita-cita saya adalah untuk keliling Indonesia, bertemu dengan jutaan anak-anak muda Indonesia. Sesuai dengan misi dalam hidup saya: To reach and inspire more Indonesian youth, to be successful at their young age.

Balik ke inti tulisan saya hari ini: Mau Kaya? Jangan masuk politik. Jadi pengusaha aja. Malu untuk mau jadi orang kaya? Kenapa mesti malu untuk jadi orang kaya yang berkeinginan untuk supaya bisa berbagi ke lebih banyak orang lagi?

Kalau bisa menjadi manfaat bagi lebih banyak orang lagi, kenapa mesti puas jadi orang biasa-biasa saja?

See you ON TOP!

Billy Boen

Twitter: @billyboen

Facebook.com/billyboenYOT          

www.youngontop.com

(SUMBER: "Semangat Baru with Young On Top" di Koran Sindo tanggal 4 Oktober 2013)

  




By : Billy Boen

Posted on October 05, 2013 read:3,547

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter