Menabur Benih di Tanah Basah

 

Ketika kita menabur, ada beberapa benih yang mengenai batu dan tanah kering. Namun ada juga yang jatuh di tanah basah – Valencia Mieke Randa

Beberapa hari lalu, Komunitas Blood For Life Indonesia (BFL) melaksanakan rapat tahunan yang diikuti beberapa anggota komunitas, termasuk saya sebagai sukarelawan serta Valencia Mieke Randa (Mbak Silly), founder BFL. Namanya juga rapat, selalu diisi dengan laporan dari masing-masing divisi yang kadang membosankan. Namun, ada satu hal yang membuat rapat tersebut tidak kaku. Selain diselingi canda, sebelum memasuki kegiatan inti, Mbak Silly berkenan sharing tentang bagaimana jatuh bangunnya Mbak Silly mengembangkan BFL sampai seperti saat ini. Bagi saya, paparan Mbak Silly sangat inspiratif.

Saya mendengarkan sampai selesai cerita Mbak Silly. Namun, yang paling membekas adalah penggalan kalimat yang luar biasa dari dia. “Ketika kita menabur, ada beberapa benih yang menganai batu dan tanah kering. Namun, ada juga yang jatuh di tanah subur”, ucapnya kira-kira seperti itu. Apa maksudnya? Sebenarnya sederhana; tidak semua setuju dan mau bergerak bersama kita.

Mbak Silly menganalogikan ‘menabur benih’ sebagai sebuah kegiatan persuasi untuk mengajak orang lain bergerak bersama-sama, dalam hal ini di komunitas. Respons yang kita dapat tak selamanya membuat kita senang. Bahkan, seringkali membuat down. Benih-benih yang kita tanam tersebut ada yang jatuh di bebatuan. Nah, ‘batu’ ini maksudnya adalah orang-orang yang hanya manggut-manggut namun tak bergerak seolah bekata, “Apaan sih. Apa gunanya!”

Kedua, benih tersebut bisa jadi jatuh di tanah kering. Maksud analogi ini adalah untuk mereka yang bersedia bergabung, namun setelah itu hilang tanpa jejak dan alasan yang jelas. They have already started thing without finish it. Terakhir, benih yang ditabur pasti ada yang jatuh di tanah subur. Nah, orang-orang seperti ini yang mau bergerak bersama untuk mencapai tujuan sebuah komunitas.

Komunitas adalah sebuah entitas yang memiliki ciri gerakan. Jika tak ada yang mendukung, lambat laun komunitas mengalami degradasi nilai yang berujung pada kepunahan. Sebagai seorang pemimpin (penggerak) komunitas, perlu memahami keberadaan orang-orang di sekelilingnya. Namun, tak perlu resah jika banyak yang memandang negatif. Kata Mas Billy Boen, jika kita memiliki niat yang baik, maka pasti ada yang membantu. Tak perlu pusing dengan benih-benih yang terlanjur bertaburan di batu dan tanah kering jika benih yang ditabur di atas tanah basah bisa menghasilkan produk yang bagus.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on November 29, 2015 read:213

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter