MENGGUGAT METODE CERAMAH

Pernah mengikuti pembelajaran di kelas, seminar, atau ceramah keagamaan yang membuat ngantuk? I do swear, kalian pernah merasakannya. Eh salah, kita ding, bukan kalian doang. Metode ceramah adalah metode penyampaian pesan yang amat umum dilakukan di seluruh dunia. Metode ini sudah turun temurun dilestarikan di sekolah-sekolah, ceramah keagamaan, bahkan seminar. Ceramah adalah metode tradisional dimana penyampaian pesan dilakukan oleh satu pihak kepada pihak lain (yang dinamai audience).

            Saya ambil contoh pembelajaran di sekolah. Curhat nih, saya, sejak Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi korban metode pembelajaran ini. Saya sering sekali dilingkupi rasa kantuk ketika mendengar guru berceloteh di depan kelas. Maksud saya, hanya berceloteh seakan sayang melepas barang sedetik untuk memberi kesempatan siswa berargumen. Yaudah, kalau seperti itu, kantukpun menghampiri. Saya sekarang sudah menjadi mahasiswa. Meski pembelajaran di kelas sudah mulai dinamis dengan adanya diskusi interaktif, masih saja ada pendidik (baca; dosen) yang betah berceloteh di depan kelas.

            Mungkin kita bisa sedikit bernapas lega dengan isi Kurikulum 2013 yang baru saja diimplementasikan di sistem pendidikan kita. Di kurikulum baru ini, siswa diberikan lebih banyak kesempatan untuk berargumen dan peran guru berbicara dikurangi menjadi fasilitator bagi siswa untuk berdiskusi.

            Berbicara secara umum, harusnya semua kegiatan yang berhubungan dengan penyampaian pesan dilakukan bukan lagi dengan sekadar berceramah saja. Harus ada metode baru yang mengakomodasi interaksi dua arah, bukan hanya searah seperti ceramah. Misalnya, di dalam seminar, harusnya narasumber bukan menjadi pembicara, tapi mengajak peserta seminar (awam disebut audience) untuk lebih berkawin dengan topik yang diseminarkan. Begitupula dengan ceramah-ceramah lainnya.

            Saya pribadi menggugat metode ceramah. Maksud saya, bukan anti 100 persen dengan metode ini. Bagaimanapun guru, narasumber dan yang lainnya masih sangat perlu berbicara di depan forum. Namun, nampaknya banyak metode lain yang jauh lebih efektif untuk penyampaian pesan, seperti tanya jawab, diskusi, sosiodrama dan sebagainya. Yah, tulisan ini bukan sebuah doktrin. Tulisan ini hanya sebuah harapan agar penyampaian pesan lebih efektif, dimanapun itu. see you on top.

 

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan)

YOT Campus Ambassador Batch 5

Faculty of Economics, UNJ

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on November 04, 2014 read:160

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter