MENULIS; MELAWAN LUPA

“Menulis adalah bekerja untuk keabadadian – Pramoedia Ananta Toer”

            Kata-kata Pram ini patut kita renungkan, apalagi dengan status kita sebagai pelajar dan mahasiswa. Menulis adalah mengabadikan sejarah. Dengan menulis, terdapat banyak sekali hal yang bisa kita tujukan untuk masa depan. Maksudnya, kita menulis sekarang, kita masih bisa ‘menikmatinya’ di masa depan. Itulah yang dimaksud bekerja untuk keabadian.

            Di ranah pendidikan, menulis juga merupakan satu dari sekian banyak esensi penting dalam memeroleh ilmu. Tentu, menulis adalah pekerjaan wajib para pelajar selain membaca, diskusi, penelitian, dan presentasi. Saking pentingnya, menulis diajarkan sejak awal bersekolah, bahkan tak sedikit orang tua yang sudah mengajarkan anaknya menulis sebelum terjun ke dunia pendidikan formal.

            Menulis, juga menjadi sebuah cara untuk melawan lupa. Dengan menulis, kertas yang sudah kita nodai dengan kata-kata akan menjadi reminder bagi kita. Jika lupa akan sesuatu, kita menengok kembali tulisan ‘lama’ kita dan, voilaa, ingatan kita kembali. Makanya, kita sering mendengar petuah guru (yang baik) terhadap anak didiknya, “jangan hanya mendengar, menulislah.”

            Di awal tulisan, saya membatasi tulisan ini hanya untuk pelajar dan mahasiswa. Namun, sebenarnya pekerjaan melawan lupa ini tak hanya berguna untuk mereka. Semua kalangan, yang ingin menambah ilmu pengetahuan butuh pekerjaan ini. Coba tengok, mayoritas orang sukses senang menggores tinta di papan datar.

            Di era sekarang, kita amat dipermudah untuk ‘menulis’. Sekarang buku bertebaran dimana-mana. Bagaimana jika kita lahir di jaman prasejarah? Sekarang, banyak wahana yang mewadahi tulisan kita seperti majalah di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) atau Jurnalistik sekolah, serta Majalah Dinding (mading) yang ada di setiap sudut sekolah. Tak hanya itu, media nasional juga banyak yang menyilahkan kita untuk menulis di ‘tempat’ mereka, seperti KompasKampus di harian Kompas dan notes di website Young On Top. (www.youngontop.com)

            Dari situ akan menghubungkan kita dengan yang namanya berkontribusi. Memang, kontribusi tak hanya dilakukan dengan menulis. Tapi, jangan lupa, menulis adalah cara ampuh untuk menjadi pengaruh. Saat ini banyak quotes motivasi yang kata-katanya begitu ‘menggairahkan’. Kita semua pernah terpengaruh kata-kata mutiara, bukan?

            Terimakasih kepada orang tua yang mengenalkan kami kepada kegiatan tulis menulis, dan/atau, terimakasih kepada orang tua yang telah memasukkan kami ke dalam dunia pendidikan, dunia penuh dengan tulisan. Terimakasih kepada guru-guru kami yang, dengan amanah orang tua, membimbing kami pandai menulis sehingga triliunan ilmu dapat kami serap. Terimakasih Tuhan yang telah menganugerahkan segala nikmat kepada kami sehingga kami tak lagi seorang bodoh yang tak bisa menulis. Kami yakin, menulis adalah jalan yang Engkau tunjukkan kepada kami untuk mencapai kesuksesan tertinggi.

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan)

YOT CA Batch 5 Jakarta State University (UNJ)

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on September 09, 2014 read:160

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter