MIMPIMU KAU JUAL BERAPA?

 

 

The only way to get authority is by taking responsibility, then to take responsibility is by contributing – Steven Kosasih (Direktur Utama PT Transjakarta)

Setiap mentoring time bersama para mentor-mentor Young On Top (YOT) selalu bermakna. Ada banyak hal baru yang bisa dipelajari, at least bagi saya. Namun, mungkin YOT Monthly Meeting (MM) bulan Februari kemarin menjadi salah satu MM paling luar biasa bagi saya. Kenapa? Yeah, ada Mystery Guest-nya! Eits, emang sih YOT MM tidak hanya sekali ini saja mendatangkan MG, tapi, MG Februari kemarin adalah petingginya PT Transjakarta, Bapak Steven Kosasih!

Ada yang spesial? YES! Saya adalah pengguna Transjakarta. Kemanapun ingin pergi, moda angkutan pertama yang menjadi pilihan saya adalah busway Transjakarta. Alasannya murah, lebih nyaman dan aman daripada angkutan umum lain, dan lebih terintegrasi karena ada halte transit. Namun, Transjakarta tak bebas dari keluhan. Masih banyak yang harus diperbaiki oleh pengurus Transjakarta. Tapi saya tak akan berpanjang lebar membahas hal itu disini.

Sebagai pengguna busway, mungkin menunggu adalah hal yang “biasa” dilakukan di halte. Menunggunya bukan sembarangan; menunggu berjam-jam! Saya pernah merasakannya. Pada situasi seperti itu, saya ingin sekali complain langsung kepada petingginya ihwal pelayanan yang kadang membuat gerah.

Namun, ketika bertemu di YOT MM kemarin, saya lupa untuk menyampaikan keluhan dan bahkan belajar banyak dari kisah perjalanan karirnya yang sangat menginspirasi. Pak Kosasih ini pernah bekerja di OrangTua Group, Nestle, pernah menjabat CEO PT Bahana (BUMN), CItiBank, CFO PT Perhutani (BUMN), dan saat ini PT Transjakarta. Hebat bukan?

Begitu banyak posisi tinggi yang pernah ia duduki, namun yang paling membuat saya terinspirasi adalah perkataannya yang menyebut mimpi-mimpi kita tidak untuk dijual! Pak Kosasih meyakini bahwa uang bukan segalanya, meski tak memungkiri bahwa hidup juga perlu uang. Namun, semakin kita berkontribusi, semakin banyak yang akan kita dapat. Yeah!

Balik lagi kepada poin yang ingin saya bahas; your dream is not for sale. Menyontoh Pak Kosasih, dulu saat bekerja untuk PT A, gajinya lumayan besar. Namun, karena ia menganggap di PT B ia bisa mewujudkan mimpinya untuk berkeliling dunia, ia rela meninggalkan PT A beserta gaji tingginya. Bahkan, ketika ia pamit kepada pemimpin di PT A untuk megundurkan diri, ia ditawari gaji yang berlipat-lipat. Namun, karena ia percaya bahwa mimpi tak bisa dibeli, ia tetap menolak dan memutuskan untuk bergabung dengan PT B.

Begitu idealisnya Pak Kosasih sampai gaji besarpun ia tolak demi mewujudkan mimpinya. Ia berpikir bahwa keyakinan bisa hancur gara-gara uang. Makanya ia memilih memelihara mimpinya dan tetap mengobarkannya. Dan voilaa, di PT B, ia benar-benar bisa berkeliling dunia.

Jika dihubungkan dengan kisah hidup kita,  kalimat “your dream is not for sale” ini bisa jadi menonjok kita. Ketika banyak orang yang menganggap sukses itu berarti memiliki banyak uang, ketika banyak orang berusaha demi uang belaka dan menggeser mimpinya ke urutan kesekian, itu sudah bisa diartikan sebagai menjual mimpi.

Pernahkah kita berpikir kemana kita setelah lulus kuliah? Apa sih esensi kuliah bagi kita? Apakah kuliah kita anggap (hanya) sebagai batu loncatan untuk mendapat gelar sarjana, dan pada akhirnya bisa berharap mendapat pekerjaan yang layak, yang tentu mendapat gaji luar biasa? Sesempit itukah maknanya bagi kehidupan kita?

Kadang, kita lebih memilih pekerjaan dengan gaji tinggi, padahal kita tak menyukainya. Lalu, kita cenderung mengabaikan sesuatu hal yang sebenarnya mimpi terpendam kita, hanya demi uang. Pernah melakukannya? I think so! Pernah berpikir, we often sacrifice our dreams only to get much money?

Pak Kosasih, bisa banget memilih tawaran gaji berkali-kali lipat (bahkan jauh lebih besar dari gaji orang tuanya yang seorang PNS), daripada pindah ke perusahaan yang ia anggap bisa mewujudkan mimpinya berkeliling dunia. Jika pikiran kita hanya terpaku kepada uang, uang, dan uang, apakah kita rela meninggalkan mimpi kita?

Jika ada pernyataan, “Lo bisa ngomong gitu karena lo banyak duit. Gue butuh duit, men! Jelas lah gue milih gaji besar.” Mari kita berpikir sejenak, apakah kita pikir mimpi kita tak bisa menghasilkan uang? Apakah ketika kita mengikuti mimpi kita lalu kita mati karena kehabisan uang? Apakah kehidupan akan bahagia ketika kita banyak uang? So relative.

Namun, satu hal yang perlu diingat adalah, Tuhan tak pernah berkhianat. Ketika kita memiliki niat baik, berusaha, dan selalu berdoa, maka hajat kita akan diijabah. Missal, kita punya mimpi untuk membangun sekolah di daerah tertinggal, apakah kita akan mati kelaparan? Tuhan akan memberi lebih banyak nikmat ketika kita tak segan untuk memberi dan berkontribusi.

Jadi, masalah uang sebenarnya bukan masalah utama. Menjadi sukses adalah menjadi diri sendiri dan mengikuti kata hati. Jika kita ingin A, meski saat ini belum terlihat menjanjikan, mungkin suatu saat hal itu bisa menyejahterakan kita. Jangan takut dengan mimpi-mimpi yang terlihat semu. Tuhan bisa melakukan segalanya. Kita juga bisa berusaha, bukan? Jangan menggadaikan mimpimu (hanya) demi uang!

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador Batch 5

Economics and Administration Department, FE Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

@azulfiyan / azulfiyan27@gmail.com

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on March 12, 2015 read:108

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter