MUNGKIN MEREKA LELAH

Beberapa waktu lalu, nurani saya tersentil oleh perkataan dosen mata kuliah Etika Bisnis. Ibu dosen tersebut mengatakan, semakin banyak orang malu untuk berbuat hal yang benar. Dosen ini memberi contoh, ketika berhenti di traffic light, kecenderungan pengguna jalan raya untuk berhenti di belakang garis putih (garis pembatas) sedikit. Apalagi di Jakarta, banyak pengguna motor/mobil  yang berhenti melewati garis pembatas itu. Parahnya, pengguna yang berhenti sebelum garis pembatas merasa malu karena ‘rekannya’ menerobos garis dan menghalangi pengguna jalan dari arah lain yang ingin lewat, entah malu dibilang sok tertib atau yang lainnya.

Lontaran kalimat dari dosen saya ini patut direnungkan. Apa benar seperti ini fenomenanya? Benarkah kita sudah malu untuk melakukan hal sesuai peraturan? Apa kita sudah bosan dengan hal-hal mainstream seperti itu? Atau, apa kita ingin melakukan perubahan yang ‘nyeleneh’ sehingga bangga disebut revolusioner jika melakukan semua itu?

Mungkin saja dosen saya ini benar, menggeneralisasi perilaku manusia yang sudah merasa malu untuk berbuat hal sesuai pakem, dengan memberi contoh kasus di traffic light tadi. Disaat mayoritas orang berbuat hal yang salah, hal itu menjadi kebiasaan dan membuat pihak minoritas merasa benar-benar asing. Mau tak mau, hal yang salah ini dilakukan agar tak dianggap minoritas. Apalagi tak ada teguran yang perlu ditakuti. Makanya muncul anekdot, Pengguna jalan raya hanya akan patuh ketika polisi siaga.

Contoh lain, ketika kita datang dua jam lebih awal dari jadwal kegiatan, masih ada orang yang, saya tak tahu ini pujian atau sindirian, berkata, “Sok rajin banget sih baru juga jam segini.” Padahal on time adalah cara kita menghargai orang yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Bisa bayangin dong, kita mengundang orang, dan mereka telat gimana rasanya?

Hal tersebut menunjukkan bahwa lontaran kata dosen saya tersebut ada benarnya. Mungkin, orang sudah lelah dengan rutinitas kehidupan yang seakan menggerakkan kita. Ibaratnya, kehidupan adalah majikannya, kita adalah robotnya. Makanya, muncul perilaku yang menyimpang dari aturan.

Salah satu cara terbaik untuk memecahkan masalah tersebut adalah kembali ke peraturan. Maksudnya, kita harus sadar, peraturan dibuat bukan untuk dilanggar, namun untuk ditaati. Saya yakin, peraturan yang dibuat berproses dari musyawarah yang alot dari para pembuatnya, yang akhirnya tetap berfaedah bagi kita semua.

Kita tak malu untuk memeluk pacar di depan umum. Kita tak malu merokok disamping anak-anak dan kakek-nenek yang sakit-sakitan. Kita tak malu untuk meminta uang kepada orangtua untuk ngajak temen makan di restoran mahal. Lalu, kenapa kita malu untuk berbuat baik?

Ahmad Zulfiyan (@azulfiyan)

Ca Batch 5 Jakarta State University (UNJ)

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on September 13, 2014 read:186

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter