Ngapain Sedekah?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Halo guys, lagi pada ngapain? Semoga apapun yang sedang kalian lakukan dapat selesai dengan hasil yang terbaik sesuai kehendak Tuhan yah.

Nah, seperti yang udah kalian baca judulnya, kali ini saya mau bahas tentang sedekah. Mungkin kedengerannya materi ini berat. Iya kan? Jujur deh. Padahal, kalau kalian sadar, kalian lagi baca loh dan nggak denger apa-apa. Jadi nggak ada yang kedengerannya berat kan. *garing*

Mungkin tulisan ini akan saya bungkus dengan visualisasi yang berbeda karena saya berani berbeda. Eaaa. Jadi, jangan serius-serius yaa, ntar jadian. Terus kalian baru sadar udah menghabiskan beberapa menit buat baca tulisan ga jelas. Jadi, saatnya kalian tentukan sekarang, mau lanjut baca atau nggak. Hehe ga deng, bercanda. Serius banget, kayak lagi SBMPTN. *lagi terobsesi jadi penulis blog gaul*

 

Saya bukan pakar atau orang ahli. Jadi, sama sekali saya nggak menggurui. Saya cuma bocah (bau kencur) yang mau berbagi sedikit inspirasi kepada teman-teman melalui tulisan ini. Di sini juga saya akan bahas dengan sudut pandang universal.

Kenapa di awal saya bertanya bahasan ini berat atau tidak? Karena kalau berat nanti ban motornya kempes. Hmm bukan itu. Karena di beberapa kejadian yang saya temukan, jika membicarakan tentang sedekah, maka anak muda jaman sekarang tidak tertarik atau kurang begitu antusias. Mungkin mereka lebih tertarik dengan tugas-tugas kuliahnya yang telah merenggut kebebasannya. Ada beberapa tipe orang yang acuh tak acuh terhadap sedekah dengan alasan yang mereka lontarkan masing-masing, diantaranya:

“Sedekah mah nanti aja kalau kita udah sukses banyak uang.” Kata si Matre. Si Matre ini menganggap kesuksesan adalah segalanya tentang uang.

“Kita buat makan sehari-sehari aja susah, gimana mau sedekah.” Kata si Ankos, Anak Kos.

“Ngapain sedekah, nanti duit kita abis.” Kata si Pelit. Si Pelit ini duitnya banyak, tapi ya namanya juga anak-anak.

“Lagi nabung mau beli ip**h*on*ne (((sensor))) 10s nih, jadi ntar aja sedekahnya.” Kata si Ambisius. Ambisius ini kebelet gaul di lingkungannya.

Kira-kira teman-teman masuk ke kriteria yang mana? Saya yakin, teman-teman semua nggak ada yang masuk kriteria tersebut. Cieee.

Saya merasa yang dikatakan mereka ialah hal yang keliru. Sedekah bukannya sesuatu yang hanya dilakukan ketika kita sedang banyak uang.  Karena, sedekah bukan hanya tentang uang. Dan sedekah butuh strategi. Selagi nggak punya uang, tapi, masih ada cara lain yang bisa dilakukan. Berbuat baik kepada orang lain juga merupakan sedekah. Misalnya gunain keahlian kita buat sedekah. Kayak ngajar, membantu orang, dll. Kalau belum punya keahlian (ga mungkin sih), paling minimal ialah tersenyumlah kepada orang lain. Mau dong disenyumin kamu.

Kemudian, apakah sedekah membuat harta kita berkurang dan lama-lama akan habis? Jawabannya nggak. Sedekah itu sama sekali nggak membuat uang kita habis, justru malah bertambah. Lalu ada yang bertanya, saya udah sering sedekah tapi kok masih gini-gini aja? Oh kalo gitu sukurin wkwk canda. Kalau menurut saya, kurang ikhlas berarti. Kalau bahas ikhlas nanti lebih panjang lagi. Oke, intinya ikhlas itu seperti surat al-ikhlas, tidak satupun ada kata i-k-h-l-a-s di dalamnya. Atau gampangnya, ikhlas itu analogi sederhananya seperti buang air besar. Dikeluarin begitu saja dan nggak pernah dipikirin lagi. Iya. Jangan seperti mantan yang selalu dipikirin ya.

Nah balik lagi, jadi ketika sedekah, uang kita bertambah dari mana? Tambahannya itu dapat dibalas sama Tuhan secara tunai ataupun kredit. Tergantung dari kapabilitas diri kita apakah sudah pantas dan butuh untuk menerima balasannya atau belum. Jika kita dirasa pantas dan butuh, maka secara tunai Tuhan akan membalasnya. Dan jika dirasa belum, maka Tuhan dapat membalasnya dengan cara yang tidak kita duga-duga, dapat diberikan secara bertahap ataupun tunai tapi nanti. Hal ini karena Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, melainkan memberi apa yang kita butuhkan. Saya sendiri telah merasakan betapa nikmatnya jika kita melakukan sedekah. Uang yang kita keluarkan untuk sedekah sering kembali ke kantong kita dengan berlipat ganda.

Logika sederhananya gini:

Uang milik siapa? Uang siapa yang ngasih? Sesungguhnya harta yang rasanya kita miliki saat ini adalah titipan dari Tuhan, setuju? Iya. *jawab sendiri* Nah, uang itu miliki Tuhan, terus kalau kita bersedekah (membelanjakan di jalan Tuhan), Tuhan senang gak? Pasti akan senang. Terus kalau Tuhan senang, bakal dikasih lagi gak? Iyalah jelas.

 

Mas Ippho Santosa pernah membuat simulasi matematika sedekah. Aturannya kayak gini, jika kita ngasih 1, maka kita akan mendapat 10. Di versi matematika sedekah, 1 dikurang 1 bukan 0, tetapi 10. Karena setiap kita ngasih 1 maka akan mendapat 10 kali lipat. Jadi, 10-1=19. 10-2=28, dst. Coba jawab ini. Kalau kita punya uang 100rb, kemudian kita sedekahin 50rb. Maka uang kita jadi berapa? Jawabannya bukan jadi tinggal 50rb, tetapi (100-50)+(50x10)=550rb. Jadi tambah banyak deh. Tapi jangan pakai ini di UAS kalkulus ya, ntar nggak lulus.

 

Tambahan rezeki yang Tuhan kasih sebenarnya ialah ujian dari Tuhan. Tuhan bilang, waktu saya kasih rezeki dia segini, dia sedekah. Ah coba saya kasih lebih, orang ini akan tetap bersedekah atau nggak ya. Apa jangan-jangan justru nggak sedekah setelah rezekinya banyak. Jadi, hati-hati dengan tambahan rezeki yang Tuhan kasih, bisa jadi itu ujian buat kita.

 

Sedekah juga bisa untuk membersihkan rezeki kita. Karena sejatinya, setiap rezeki yang kita terima, terdapat hak orang lain di dalamnya. Jika kita nggak mau mengeluarkannya, yaa gimana yaa, kita makan hak orang lain jadinya. Maka, sering ditemukan kasus orang yang sakit dirawat di rumah sakit mengeluarkan biaya besar, bisa jadi karena kurang bersedekah. Karena, bersihnya rezeki kita dapat menolak bala dan bencana bagi diri kita. Ditambah lagi, sifat uang adalah semakin kita simpan, semakin mendesak untuk dikeluarkan. Jadi, jika tidak kita keluarkan untuk bersedekah, maka ia akan mendesak dikeluarkan untuk hal yang lain. Gitu deh jadinya.

 

Dulu ada seorang teman SMA saya, dia hidup di keluarga dokter. Ayahnya dokter, ibunya dokter, kakaknya dokter, sampai pembantunya dokter. Ye kali wkwk. Kalau dokter mah nggak jadi pembantu. Waktu di SMA, hobinya berbeda dengan teman-teman lain, yaitu bersedekah. Ia loyal dan dermawan kepada siapa saja, termasuk teman-temannya yang jadi objek sedekahnya (sering nraktir). Sekarang ia kuliah di Kedokteran UNAIR dan merasa bisa masuk kesana karena sedekahnya.

 

Satu lagi teman saya, hidupnya pas-pasan. Di sekolah hidup dengan berjualan roti. Tapi, ia sangat gemar bersedekah. Ia ramah kepada setiap orang. Tersenyum dan menyapa semua warga sekolah adalah hobinya. Ketika SMA, akademisnya biasa-biasa aja. Namun, ketika SBMPTN, ia mengisi lembar jawaban komputer dengan jawaban A semua. Jadi lucu gitu buletan di LJK nya lurus doang wkwk. (don’t try this at home). Tapi nyatanya, ia diterima di Teknik Kimia ITS. Ia mengaku kekuatan sedekahlah yang menolongnya.

Nah, itu yang saya katakan bahwa Tuhan bisa membalasnya dengan cara yang tidak kita duga-duga.

 

Itulah sedikit dari kisah yang semoga bisa menginspirasi teman-teman. Tapi kisah di atas jangan ditiru ya, karena kalian punya sidik jari kemenangannya masing-masing. Cobalah ukir jejak kalian sendiri. Sekarang saya tantang kalian, yuk kita berlomba-lomba dalam bersedekah. Bersedekahlah yang terbaik dengan harta yang paling disayangi, insya Allah, harta kita nggak akan habis, dan justru malah bertambah. Ditunggu kisah inspiratif bersedekah ala kalian masing-masing. Jangan buat nunggu terlalu lama ya, saya ga suka digantungin.

Maafinnya kalau banyak salah. Karena saya cuma manusia (penuh dosa). Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah dari diri saya pribadi.

Have a nice day all!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Ibni Ikhsan R

Mahaiswa Teknik Industri Universitas Indonesia

Young On Top Depok

 

  




By : Young On Top Depok

Posted on December 01, 2015 read:749

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter