Ngaret membawa bencana

Helo YOTers! Budaya ngaret atau jam karet memang diidentikan dengan orang Indonesia. Memang sulit dipungkiri bahwa kalimat diatas adalah benar. Tidak usah jauh-jauh YOTers, saya akan bercerita tentang pengalaman saya. Mmm… mungkin lebih tepatnya disebut curhat. Saya adalah orang yang sulit sekali on time. Faktor lingkungan menjadi salah satu penyebabnya. Orang tua saya, jujur saja juga tidak bisa menghargai waktu. Teman-teman saya juga begitu. Pokoknya orang ngaret ada dimana-mana. Tidak ada orang yang bisa menjadi panutan saya untuk belajar on time. Kalau YOTers bersedia untuk membaca tulisan saya tentang pengalaman ngaret, berikut saya ceritakan:

Pada hari Kamis, saya mempunyai jadwal ujian jam setengah satu. Saat itu, kampus saya sedang berlangsung minggu UAS. Jarak rumah saya dengan kampus juga tidak jauh. Bisa ditempuh dalam waktu 15 menit jika lancar. Saya ke kampus biasanya sama Ayah saya. Jam 12 lewat saya baru jalan bersama Ayah saya naik mobil. Waktu yang diperkirakan cukup sampai dikampus ketika ujian dimulai. Mepet memang, well that’s me. Sampai di perempatan lampu merah ke arah kampus saya, ternyata lampu merahnya mati! Jelas disana sangat macet. Dari segala arah semua kendaraan ingin ‘nyerobot’ tapi alhasil malah gabisa jalan sama sekali. Waktu ujian saya pukul 12:30 wib dan saat itu sudah lewat dari jam segitu! Pukul 12:42 wib salah satu teman saya memberi tahu lewat bbm bahwa pengawas sudah datang! Panik mulai melanda…

Kemudian Ayah saya memutuskan untuk putar balik dan lewat jalan yang mungkin rada memutar tapi diperkirakan tidak macet. Saya sempat ragu dan BANG! Benar saja ternyata lebih macet. Malah macetnya lebih panjang. Saya ingat betul saat berada disana sekitar pukul 12:54 / 12:56 wib. Yang artinya saya sudah telat sekitar 24/26 menit. Waktu ujian saya 90 menit yang artinya saya sudah melewatkan hampir setengah jam yang seharusnya saya sedang mengerjakan ujian dengan tenang. Kemudian beberapa menit berlalu sampailah saya beberapa ratus meter dari kampus. Saya melihat waktu sudah menunjukan pukul 13:05 dan saya akhirnya memutuskan untuk jalan kaki. Sampai dikampus, saya langsung bergegas ke lantai 4. Disana saya sedikit lega karena ternyata teman saya banyak yang masih diluar. Teman saya yang bbm saya tadi duduk didepan ruang ujian. Ketika dia melihat saya, dia langsung teriak “EH CEPETAN MASUK!!! UDAH MAU SELESAI!!!”

Astahfirullah! Ternyata teman saya berada diluar karena mereka sudah selesai dan tinggal pulang! Saya langsung masuk kelas dan melihat tinggal beberapa teman saya yang masih mengerjakan ujian. Saya langsung ambil peralatan tulis dan kartu ujian saya dan ketika saya ingin ambil lembar soal, “Sudah jam berapa ini? Udah telat” Kata pengawas ujian. Memang, didalam peraturan ujian, keterlambatan maksimal adalah 30 menit. Selebihnya, peserta tidak diizinkan untuk mengikuti ujian. Saya tidak terima, kemudian saya berdebat dengan pengawas. Ingat ketika teman saya bbm memberi tahu bahwa pengawas baru saja masuk? Saat itu pukul 12:42! Pengawas juga telat 12 menit. Artinya saya juga belum telat 30 menit jika dihitung sejak pengawas masuk ruangan. Itulah sebabnya saya protes. Tapi pengawas tetap tidak peduli dan tidak mau tahu walaupun saya sudah bilang kalau si pengawas juga telat. Jika pengawas memberikan toleransi kepada saya, bagaimana untuk kedepannya? Banyak mahasiswa lain akan seperti saya, meminta toleransi. Itu yang di antisipasi oleh pengawas, makanya pengawas tidak memperbolehkan saya. Cukup lama saya berdebat dan jawaban dari pengawas juga tidak berubah. Saya juga membuat kegaduhan karena beberapa teman saya masih ada yang mengerjakan ujian. Mungkin teman saya kasian dan atas nama solidaritas sebagai sesama mahasiswa, ada salah satu teman saya yang tiba-tiba bilang “Udah Mas, kasih aja. Waktunya juga masih lama”….

Kemudian teman-teman saya yang lain yang masih di ruangan akhirnya berseru dan mengatakan yang sama. Ya… saya dibantu teman-teman saya hahaha tapi jawaban si pengawas tetap saja. Katanya itu sebagai pelajaran untuk saya. Akhirnya teman saya membantu saya untuk mencari dosen mata kuliah yang sedang di ujikan. Semuanya saya ceritakan kepada dosen tersebut. Dosen saya berkata tidak apa-apa dan saya diperbolehkan untuk mengikuti ujian dengan syarat apabila waktu ujian habis sesuai dengan yang ditentukan, saya juga harus berhenti mengerjakan. Saya menyanggupi sayarat tersebut dengan sisa-sisa waktu yang ada. Saya kembali ke ruang ujian dan bilang ke pengawas bahwa dosen mata kuliah tersebut memperbolehkans aya mengikuti ujian. Lalu si pengawas justru meminta saya untuk memanggil dosen tersebut ke ruang ujian. Oke.. saat itu saya mulai kesal. Saya kembali lagi ke ruang sekre dan meminta dosen tersebut datang ke ruangan dan bicara kepada pengawas. Dosen tersebut akhirnya memenuhi permintaan saya dan mengulangi kata-katanya bahwa saya boleh mengikuti ujian. Kemudian dosen itu pergi. Tapi, pengawas tersebut tetap dengan jawaban awalnya dan lebih parahnya lagi, dia berkata “Kalau saja tadi dosen itu memaksa, saya akan mencatat di laporan acara” Saya makin lemes……..

Saat itu saya sudah cape, saya duduk diruang ujian sementara teman saya masih tetap membantu saya berdebat dengan pengawas. Semua teman saya yang ada diruangan itu. Mereka tidak akan mengumpulkan lembar jawaban jika saya belum diberi kesempatan untuk mengerjakan ujian. Waktu ujian tinggal beberapa menit lagi dan teman-teman saya masih terus berdebat dengan pengawas sedangkan saya sudah diam. Kemudian tidak lama si pengawas berkata “Memang saya telat berapa menit?”, “12 menit Mas”, “ Masa?”, “Iya Mas, orang temen saya bbm saya pas Mas baru dating terus saya liat waktunya udah 12:42” Saya menjelaskan dengan jengkel. “Coba mana saya liat buktinya” sontak teman-teman saya menyuruh saya menunjukkan isi bbm saya dengan teman saya itu. Lalu dengan rasa pesimis saya maju kedepan dan memberikan handphone saya. Lalu si pengawas berkata:

 “Bisa kan ngerjain 10 menit?”

Teman-teman saya langsung teriak “Horeee… cepetan, cepetan!!”

Saya langsung mengerjakan sekilat mungkin dan saat selesai, saya mengucapkan terima kasih kepada pengawas tersebut walaupun saya sempat kesal. Setidaknya saya tidak harus mengulang mata kuliah tersebut di semester depan.

Well YOTers.. dari pengalaman yang bagi saya menegangkan tersebut, akhirnya saya sadar dan menyesal. Betapa berharganya waktu. Coba kalau waktu bisa diulang dan saya datang tepat yaa setidaknya beberapa menit sebelum ujian dimulai. Saya bisa saja belajar dan mendiskusikan apa yang tidak saya mengerti dengan teman-teman saya. Lalu ketika pengawas datang, saya langsung mengerjakan ujian dengan tenang tanpa rasa panic dan buru-buru. Banyak waktu yang disediakan sehingga saya bisa betul-betul mengoreksi jawaban saya. Saya tidak perlu mengganggu teman-teman saya yang sedang mengerjakan ujian karena saya tidak telat. Dan saya tidak perlu membuat masalah dengan dosen dan pengawas. Semua berjalan dengan lancar. Tapi lihatkan YOTers apa yang menimpa saya? Mungkin kejadian ini bukan hanya terjadi pada saya. Banyak kok yang mengalami hal serupa. Tapi mungkin akan berbeda nasib. Saya masih beruntung diberikan toleransi, tetapi dihari berikutnya ketika saya mendapati ruang ujian saya diawasi oleh pengawas yang sama, ada senior saya yang mengalami hal serupa tapi sayangnya dia tidak diperbolehkan. Si pengawas sudah mengantisipasi kejaidian yang sama. Dia datang telat 2 menit dan menulis di papan tulis “Waktu ujian 12:32-14:02” Well, saya tidak bisa membela senior tersebut karena dia telat lebih dari 30 menit. Lalu di hari berikutnya ada lagi korbannya… Dari kejadian tersebut saya berusaha untuk tidak ngaret. Susah memang, tapi harus dibiasakan. Kita bisa karena terbiasa, kalimat ini yang menjadi pegangan saya untuk on time. Semua butuh proses, tidak serta merta langsung bisa on time. Jadikan pengalaman saya sebagai pencegahan untuk kita semua ya YOTersJ

See U on TOP!

Eriska Nugrahani

Universitas Al Azhar Indonesia

Young On Top Campus Ambassador

  




By : Eriska Nugrahani

Posted on August 18, 2014 read:146

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter