Nomophobia, Penyakit 'Kekinian'

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir memiliki dampak yang cukup signifikan. Teknologi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan terjadinya perubahan pola perilaku serta pola pikir masyarakat secara umum. Dapat kita lihat bahwa masyarakat zaman sekarang banyak yang sibuk dan terpaku pada gadget mereka masing-masing, seolah-olah tidak ada kehidupan bersosial secara langsung dengan orang yang tepat berada di sebelahnya. Pemandangan ini bukanlah pemandangan langka. Kita akan dengan mudah menjumpainya di stasiun kereta, di dalam commuterline, busway, angkot, bahkan ketika sekelompok individu sedang berkumpul bersama. Fenomena ini menyebabkan timbulnya sebuah istilah ‘generasi menunduk’.

            Apakah kamu merasa takut ketika lupa atau tidak membawa ponsel pada saat beraktivitas di luar? Apakah kamu merasa cemas ketika tidak berada dekat dengan ponsel? Jika jawabannya adalah “iya”, maka kamu merupakan seseorang yang sedang mengidap “nomophobia”. Apa itu nomophobia? Nomophobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia yaitu suatu keadaan di mana individu merasa ketakutan dan kekhawatiran ketika sedang tidak membawa ponsel atau berada jauh dari ponselnya. Perasaan ini muncul akibat ketergantungan yang dialami oleh individu terhadap ponsel karena pada zaman sekarang ponsel merupakan hasil konvergensi dari berbagai media. Ponsel sudah menjadi perangkat all in one seperti social media, kamera, video, catatan penting, information source, maps, dsb . Hal ini menyebabkan pengidap nomophobia merasa ada hal penting yang hilang sehingga membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan mengalami kecemasan.

            Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Secure Envoy, sebuah lembaga yang bergerak di dunia digital, seperti yang dilansir oleh infotips.com mengatakan bahwa dari 1000 orang yang disurvei di Inggris ditemukan bahwa 66% di antaranya adalah nomophobia. Hasil survei tersebut menemukan bahwa perempuan memiliki ketakutan yang lebih besar dari laki-laki yaitu persentase perempuan sebesar 70% sementara laki-laki sebesar 61%. Penyebabnya adalah karena kaum pria biasanya memiliki lebih dari satu ponsel (banyak ponsel), sehingga tingkat ketakutannya pun menjadi berkurang. Survey ini juga pernah dilakukan empat tahun silam. Dari hasil studi tersebut ditemukan hasil sekitar 53% orang mengalami nomophobia, dengan prosentase kaum laki-laki yang mengalami nomophobia lebih tinggi daripada kaum perempuan, yaitu dengan perbandingan 58% dan 48%. Fakta lainnya adalah orang nomophobia tidak pernah mematika (switch off) ponselnya karena ketergantungan yang berlebihan.

            Wajar gak sih? Jika dilihat secara keseluruhan, nomophobia merupakan sindrom yang masuk ke dalam batas wajar karena era digital sangat mempengaruhi seseorang untuk terjangkit penyakit ini. Namun, apabila kekhawatiran atau ketakutan yang dialami oleh si penderita sudah sangat berlebihan dan melewati batas normal, maka hal ini pun perlu penanganan lebih lanjut. Biasanya, penyembuhan bisa dilakukan secara bertahap dengan metode terapi.

 

Posted by: Mory Wulandari

19 September 2015. 11:57 WIB

 

 

Referensi: http://informasitips.com/nomophobia-sindrom-takut-kehilangan-ponsel

  




By : Mory Wulandari

Posted on September 19, 2015 read:165

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter