Passion Saya............... (Repost)

Saat ini saya adalah seorang mahasiswa tingkat awal di sebuah perguruan tinggi di Jakarta yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sejak dilahirkan ke dunia 18 tahun silam, SD sampai SMA di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sampai sekarang berstatus sebagai mahasiswa UNJ, saya mengalami pasang surut pencarian jati diri. Berbagai hal saya coba dengan harapan menemukan apa yang cocok untuk saya lakukan. Minat dan bakat. Dua kata yang menjurus kepada satu makna, passion. Kata passion bisa dimaknai sebagai sebuah nafsu. Nafsu disini berarti sebuah ambisi yang didasarkan atas dasar minat dan bakat. Setidaknya itu yang saya pahami mengeni satu kata dari bahasa Inggris ini. Sampai sekarang, saya yakin bahwa passion saya adalah di dunia yang tak jauh-jauh dengan kegiatan tulis menulis. Saya yakini benar hal tersebut.

Di akhir masa SMP, SMA, dan awal di UNJ, saya selalu melibatkan diri di dunia kepenulisan, terkhusus di lembaga pers (maha)siswa. Ketika SMA saya merupakan pengurus di ekstrakurikuler Jurnalistik di MAN 2 Tulungagung. Begitu pula saat ini. Saya juga melibatkan diri di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika yang bernaung di bawah kampus UNJ. Saya senang menulis. I mean, menulis dalam arti yang luas. Disini, perlu dimaknai menulis bukan hanya menulis cerita fiksi dan nonfiksi, artikel, novel, paper, dan sebagainya. Melainkan menulis segala hal. menulis materi perkuliahan, bercerita dengan buku diary, misalnya. Yang jelas menulis. Saya menyukainya.

Salah satu alasan saya suka menulis adalah, dengan menulis, kita bisa lebih mudah memahami sesuatu. Misalkan ketika kita sedang menerima penjelasan yang penting dari orang lain. Ketika kita menulis apa yang dia katakan, maka tingkat pemahaman dan ingatan kita akan lebih tinggi dan kuat. Berbeda dengan hanya mendengar saja. Menulis adalah suatu proses untuk melawan lupa. Dan alasan saya diatas bukanlah alasan wahid. Banyak alasan lain yang membuat saya begitu tertarik dengan dunia kepenulisan ini.

Sekali lagi, saya suka menulis. Saya beberapa kali menulis cerita, baik fiksi maupun nonfiksi, yang salah satu cerpen saya dimuat di salah satu koran lokal di Kabupaten Tulungagung kala saya duduk di kelas 12 bangku SMA. Dari situ motivasi saya untuk terus menelurkan karya-karya yang lebih bagus semakin membara layaknya api yang mendapat suntikan semangat untuk tetap menyala dari beberapa tetes minyak tanah. Saya juga beberapa kali mencoba melebarkan sayap untuk menulis buku. Namun, apa daya. Kadang kemalasan lebih tangguh dari sekedar semangat. Sudah setengah jalan, buku tersebut tak bisa terselesaikan karena kemalasan. Ya, itu yang sampai saat ini belum bisa saya lawan. Dan saya berharap, di YOTCA ini saya bisa menghilangkan bad habits itu, atau minimal menguranginya. Semoga.

Menulis, bagi saya, begitu mengasyikkan. Apalagi menulis sebuah cerita ataupun opini. Kita bisa mengutak atik “dunia” kita sendiri tanpa takut terintervensi oleh pihak lain. Namun, bukan berarti kecintaan saya terhadap tulisan-tulisan tersebut menandakan bahwa saya anti tulisan ilmiah yang sudah ada “jalurnya”. Saya suka keduanya. Tetapi, jika disuruh memilih, menulis bebas adalah yang paling mengasyikkan.

Menulis tidak dimulai ketika kita menduduki bangku perkuliahan. Sejak taman kanak-kanak –bahkan ada yang sebelum itu– menulis sudah kita terapkan. Itu mengindikasikan betapa pentingnya menulis bagi kehidupan manusia. Terlebih bagi orang-orang yang ingin kariernya cemerlang. Lebih dari itu, menulis adalah sebuah seni. Seni mengolah kata demi kata menjadi sesuatu yang membentuk informasi yang dikemas secara memesona sehingga dapat memikat si pembaca. Seni merangkai kata untuk menciptakan dunia sendiri. Seni terapi yang sesekali sangat manjur mengusir stres. Writing is an art. Ya, dan seni tak ada kata salah. Begitu pula dengan menulis. Tak ada yang salah dalam menulis. Kecuali untuk beberapa hal akademis yang masih menjunjung tinggi ‘formalitas” dalam kepenulisan.

Saya sangat cinta menulis. Tapi, ada beberapa bidang yang menurut saya juga tak bisa dihilangkan dari dunia saya. Beberapa di antaranya diskusi dan menyanyi (bermusik). Sejak saya menjadi mahasiswa, saya akui, saya merasakan begitu banyak perbedaan yang didapatkan. Di kampus, apalagi dengan bergabungnya saya ke dalam keluarga besar Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ, saya memperoleh pencerahan bahwa mahasiswa itu harus punya makna, baik di kampus maupun di masyarakat. Melalui diskusi-diskusi santai tapi tak menghilangkan unsur substansial pembahasan, saya semakin kecanduan untuk tetap dalam lingkaran diskusi-diskusi tersebut.

Dengan diskusi-diskusi yang rutin dilakukan itu, banyak sekali pelajaran dan informasi baru yang saya dapatkan. Hal tersebut sangat membantu saya untuk memiliki pengetahuan baru yang tak bisa didapatkan di kelas yang cenderung memakai sistem “Empat Dinding” dengan dosen sebagai orang yang didewakan dan pusat informasi, dosensentris.

Menyanyi. Kegiatan satu ini sangat penting bagi hidup saya. Ya, sangat vital. Everyday is singing. Nowhere without singing. Kata orang, menyanyi itu seni untuk membunuh stress dan galau. Yups, saya setuju. Tapi tak 100% setuju. Seringkali menyanyi saya gunakan untuk melawan kegalauan yang melanda.  Ya, manjur. Tapi, untuk beberapa kejadian, kegalauan saya bertambah parah ketika saya menyanyi. Mungkin yang saya nyanyikan lagu galau juga ya? Haha.

Tapi, menyanyi itu begitu mengasyikkan. Sangat mengasyikkan. Genre musik Jazz adalah yang paling saya gandrungi. Jazz will make you leave your sadnesses. Meski setiap bait lagu bukanlah karangan kita, namun ketika bernyanyi, saya sering larut dalam lirik lagu itu dan berkawin dengan lagu tersebut. Makanya, sering saya merasa galau ketika menyanyikan lagu galau. Begitupun ketika melantunkan lagu yang nge-beat. Pasti ingin untuk selalu menggoyangkan badan. Ahayy.

Tapi, tetap saja menulis adalah hal yang paling mengasyikkan. Yeah, writing is my passion. I believe that. Setidaknya sampai saat ini hal tersebut yang saya yakini. Mimpi saya adalah bisa menulis buku yang bermanfaat bagi orang yang membacanya. Buku apapun itu. Fiction atau non-fiction. Saya ingin menerbitkannya sehingga bisa dibaca banyak orang.

Di YOTCA ini, saya ingin belajar banyak. Belajar tentang banyak hal baru. Lebih banyak melibatkan diri dalam kegiatan mentoring YOTCA dengan harapan menjadi insan yang  lebih baik. Apalagi, saya melihat banyak kegiatan yang melibatkan kepenulisan disini, seperti posting di web, pembuatan CV, dan sebagainya. Ya, saya suka. Terlebih, di YOTCA ini juga akan dibimbing untuk menemukan passion. Dan para mentornya pun begitu hebat menurut saya. Saya sangat tertarik. Apa benar menulis adalah passion saya? Semoga di YOTCA saya menemukan kebenarannya.

 

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on May 19, 2014 read:265

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter