Pergeseran

 

Tadi sore (9/4), Ibu kos saya bercerita bahwa beberapa “alumni” kos yang sudah pindah ke tempat lain sedang tidak dalam hubungan yang harmonis. Ceritanya, si A, B, dan C dulu pernah kos bersama di tempat kos saya saat ini. Karena beberapa hal, mereka bertiga memutuskan untuk mengontrak sebuah hunian bersama. Belum sampai satu tahun menghuni tempat yang sama, si A memutuskan untuk mencari hunian lain karena merasa kurang nyaman melihat si B sering membawa teman-teman lain ke kos.

Setelah itu, kontrakan tersebut diisi B dan C. Karena, si B tetap membawa banyak teman ke kontrakan, lama-lama si C jengah juga. Ia juga merasa risih dengan kegaduhan teman si B tersebut. C-pun curhat kepada si A terkait perilaku si B tersebut. Ia sebenarnya ingin pindah. Namun, karena sebentar lagi ia lulus, akhirnya dengan terpaksa, ia memutuskan bertahan disana sampai lulus.

Mendengar cerita tersebut, saya teringat dengan perkataan rekan seorganisasi. Dia pernah bilang bahwa setiap ada pergerakan, pasti ada pergeseran. Melihat kasus ketiga “alumni” kos saya tersebut, mereka melakukan sebuah pergerakan, dalam hal ini keputusan pindah hunian. Konsekuensinya, harus ada pergeseran yang terjadi. Bagaimanapun juga, tiga kepala memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda, yang membuat pergeseran mencuat.

Dalam sebuah tim kerja, pergeseran merupakan sebuah hal yang biasa. Meski tim tersebut memiliki tujuan yang sama, dalam implementasi kadang ada hambatan yang membentang. Tim tersebut bergerak (mengeksekusi program) bersama sesuai pekerjaan yang sudah ditentukan, namun, sekali lagi, pasti ada pergeseran yang dapat menghalangi jalannya sebuah tim pencapai tujuan bersama.

Pemimpin, sebagai pihak yang berwenang mengambil keputusan perlu melakukan langkah efektif untuk mengurangi dampak pergeseran tersebut. Meski saya bukanlah seorang pemimpin di perusahaan besar, namun saya pernah merasakan menjadi pemimpin sekaligus mengalami pergeseran tersebut. Menurut saya, kurangnya kordinasi dan komunikasi efektif membuat hal itu terjadi, begitupula dengan kepentingan pribadi. Makanya, pemimpin perlu menegaskan bahwa kepentingan tim lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.

Kembali kepada cerita Ibu kos tadi, pergeseran tersebut akan menjadi masalah besar ketika tak ada yang berpikir dan mulai melakukan perbaikan. Akhirnya, si A dan C sama-sama “membenci” B karena perilakunya yang sering membawa teman-teman ke hunian bersama. Mungkin, B tak menganggap bahwa hal itu dapat mengganggu. Namun, asumsi bukanlah kenyataan. Asumsi harus dibuktikan agar kenyataan dapat diketahui. Jika semua hanya berdiam menunggu sampai (mereka kira) masalah tersebut selesai, bukankah tidak mengatasi masalah?

 

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador Batch 5

Universitas Negeri Jakarta

 

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on April 13, 2015 read:133

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter