Personal Branding as our Identity

 

Ternyata, tak hanya produk berupa barang dan jasa yang memiliki brand. Kita semua, saya dan kamu, memiliki brand yang menjadi identititas diri, named personal branding. Sesuai dengan namanya, “personal” merujuk kepada masing-masing individu. It means, semua manusia memiliki brand masing-masing yang berbeda dan unik.

Seperti halnya produk, brand diri kadang dirasa belum maksimal. Coba kita lihat diri masing-masing. Apakah kita sudah memiliki personal branding yang baik? Hal tersebut sangat relatif jika yang melihat adalah diri sendiri. Namun, kita harus sadar bahwa personal branding tak hanya tentang kita, tetapi juga orang lain. Bagaimana orang lain mengenal kita. Lalu, bagaimana membangun personal branding yang baik?

Saya percaya bahwa personal branding akan “ngena” ketika kita menjadi diri sendiri. Kita tak perlu menjadi orang A yang notabene adalah idola kita. Demi membangun brand sebaik dia, kita rela meniru gaya idola tersebut yang sebenarnya bukan kita banget. Hal itu menyebabkan pesan diri tak sampai kepada orang lain. Jadilah diri sendiri.

Sebenarnya, personal branding adalah interseksi dari passion, talenta, keahlian, dan nilai diri. Ketika kita (merasa) memiliki banyak keahlian dan banyak passion, apakah kita yakin semuanya akan outstanding atau bahkan hanya rata-rata? Passion memegang peran penting dalam pencarian personal branding. Kita perlu mencari jati diri kita. Dari semua hal yang kita kira adalah passion kita, manakah yang paling unggul? Itu yang harus kita maksimalkan menjadi brand.

Seperti yang saya jelaskan di atas, personal branding tercipta dari hal yang ingin kita tonjolkan. Agnez Mo dikenal sebagai penyanyi. Taufik Hidayat dikenal sebagai pemain bulutangkis dengan prestasi internasional, Anies Baswedan dengan nama besarnya di bidang pendidikan. Lalu, kita ingin dikenal sebagai siapa? Semuanya memiliki branding yang kuat.

Coba kita lihat Steve Jobs. Ketika kita berbicara tentang produk Apple, kita akan ingat dengan Steve Jobs. Personal branding Jobs adalah produk yang ia ciptakan. Kita juga akan mengenal Young On Top dengan Billy Boen. Nama Billy amat melekat dengan Young On Top, jadilah itu salah satu personal branding.

Digitalisasi kehidupan perlu dimanfaatkan untuk membangun personal branding. Sekarang, ada CV Online dan media sosial yang menjadi branding kita di dunia online. Kita perlu memerhatikan penggunaan online personal branding media tersebut sebijaksana mungkin. Ingat, media online tak ditulis dengan pensil yang mudah untuk dihapus.

Personal branding penting dibangun tak hanya semata demi karir yang cemerlang. Lebih dari itu, ini menyangkut hubungan antarindividu dalam berkehidupan. Ketika kita ingin membangun jaringan perkenalan, orang lain perlu mengenal kita terlebih dahulu. Tak ada kata terlambat dalam membangun brand. Jika nama kita sudah terlanjur “jelek”, kita masih bisa mere-branding diri sebagaimana yang kita mau.

Ahmad Zulfiyan, YOTCA UNJ

@azulfiyan

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on April 28, 2015 read:205

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter