RELATIVITAS KENYAMANAN

 

            Beberapa hari lalu, saya mendapat omelan dari salah satu penjaga perpustakaan kampus saya. Alasannya sepele, saya membaca koran di lantai (baca; ubin), bukan di bangku yang sudah disiapkan dengan nyaman. Saya sengaja duduk di lantai karena merasa lebih nyaman. Selain itu, berhubung saat itu smartphone dan laptop butuh pengisian daya, makanya saya memilih duduk di lantai yang dekat dengan colokan meskipun ada beberapa spot colokan lain di ruangan tersebut. Intinya, saya duduk di lantai dengan sadar dan tanpa paksaan.

            Saya mengerti niat baik si Ibu penjaga tersebut menegur demi kenyamanan saya sebagai pengunjung perpustakaan. Kenyamanan, saya kira menjadi kebijakan yang harus dipenuhi oleh kalangan pengurus perpustakaan untuk melayani para pengunjungnya. Apa yang dilakukan oleh Ibu penjaga tersebut sudah sesuai dengan rambu-rambu yang diisyaratkan oleh pimpinan pengurus perusahaan. Ibu tersebut, saya kira, berusaha untuk membuat pengunjungnya merasa nyaman berlama di tempat baca itu.

            Namun, saya berpikir, bukankah kenyamanan bersifat relatif? Setiap manusia memiliki karakteristik rasa nyaman yang berbeda. Anda mungkin lebih nyaman menggunakan payung demi melindungi kulit dari sengatan matahari. Sebaliknya, saya akan merasa amat risih menenteng payung ketika tidak turun hujan, misalnya seperti itu. Rasa nyaman terkotak-kotakkan secara personal, tidak bisa digeneralisasi.

            Di dalam dunia bisnis, saya kira tidak jauh berbeda. Perilaku konsumen jelas berbeda-beda tergantung beberapa faktor seperti sosio-kultural, kepercayaan, lingkungan geografis, ekonomi, politik dan sebagainya. Maka dari itu segmentasi pasar menjadi penting untuk dimasukkan dalam serangkaian kegiatan bisnis. Ibaratnya, menjalankan pemasaran dan penjualan tanpa melampaui tahap segmentasi pasar seperti mandi tanpa menggunakan sabun.

            Di buku Philip Kotler dan Kevin Lane Keller berjudul Marketing Management, Thirteenth Edition, kedua penulis tersebut menyebut segmentasi sebagai sebuah hal yang penting untuk memutuskan segmen mana yang memberikan peluang terbesar bagi perusahaan untuk memeroleh laba. Dari segmentasi tersebut, perusahaan akan mendapat data segmen mana yang harus lebih diprioritaskan.

            Kembali ke pengalaman saya di perpustakaan, meskipun saya tahu apa yang dilakukan oleh Ibu penjaga perpustakaan tersebut baik dan benar, namun saya meyakini bahwa ada hal yang “kurang tepat” dilihat dari segi service. Sekali lagi, rasa nyaman itu relatif. Bisa jadi ada orang yang lebih nyaman duduk di lantai untuk membaca buku. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang “jijik” duduk di lantai dan lebih memilih membaca buku di bangku nyaman yang sudah disediakan.

            Contoh sederhananya, ketika kita sudah nyaman di suatu tempat namun ada “pengganggu” datang, apa perasaan kita? Tentu kenyamanan yang sudah kita rasakan lenyap seketika berubah menjadi negasinya. Mengambil contoh dari pengalaman di perpustakaan, ketika saya sudah nyaman lesehan di lantai dan si Ibu penjaga menegur saya dengan nada “mendekati marah”, you know what I was feelin at that time.

            Menurut saya, harusnya setiap perusahaan (termasuk perpustakaan) tidak menggeneralisasi definisi nyaman. perilaku manusia bersifat unik, tidak ada yang sama. Jika perusahaan menerapkan peraturan yang generalis, misalkan perpustakaan melarang pengunjung duduk di lantai dengan alasan etik, nampaknya harus dikaji ulang. Pun, saya pikir sekadar duduk di lantai merupakan sesuatu yang tidak menyalahi etika manapun.

            Saya teringat bagaimana sistem kerja yang dibangun oleh perusahaan sekaliber Google. Salah satu filosofi perusahaan tersebut adalah, Anda tidak harus memakai jas untuk menjadi serius. Apakah tidak memakai jas dalam bekerja menyalahi etika? Saya kira tidak. Hal itu sengaja dilakukan agar karyawannya merasa nyaman. berpikir out of the mind kadang diperlukan dalam rangka meningkatkan produktivitas perusahaan. It probably will be epic when the campus library do the same thing, because comfortable is relative.

Oleh: Ahmad Zulfiyan, YOT Campus Ambassador

Sedang berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

@azulfiyan

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on December 28, 2014 read:149

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter