Salah “Jurusan”? No way!

Hi YOTers semua di seluruh dunia. Kali ini aku mau sharing opini aku mengenai salah satu istilah salah “jurusan”. Bukan jurusan angkot atau metro mini ya hehehe (garing).

Ada fenomena menarik di kalangan masyrakat khususnya siswa/I SMA sederajat yang baru saja lulus sekolahnya. Bukan soal corat-coret seragam tapi soal jurusan/program studi yang mereka pilih sesuai dengan minat mereka. Kita semua tahu bahwa ada ribuan jurusan yang tersedia di seluruh sekolah tinggi dan sejenisnya yang bisa dipilih oleh calon-calon mahasiswa. But, tidak semua jurusan yang dipilih oleh calon-calon mahasiswa itu dapat mereka dapatkan. Kenapa? Salah satunya masalah persaingan. Terlebih jika jurusan yang YOTers pilih adalah jurusan favorit, di PTN favorit pula. Bukan main euy sulitnya mendapatkan jurusan yang YOTers mau itu. YOTers mesti kudu harus wajib bersaing dengan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu peserta seleksi dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar belakang dan tingkat kecerdasan.

Nah, bagaimana jika YOTers merupakan bagian dari orang-orang yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan jurusan pilihannya, dan harus puas mendapatkan jurusan yang mungkin kurang diminati/bahkan tidak tahu karena memang sama sekali tidak diminati. Well, guess what, kalian punya 2 pilihan, menerima nasib kalian untuk jurusan yang bukan pilihan YOTers, atau menunggu tahun depan untuk kembali ikut seleksi dalam memperebutkan jurusan pilihan YOTers.

Buat aku, yang merupakan golongan orang yang memilih pilihan pertama (salah jurusan) pertama-tama memang merasa kurang PD dengan jurusan yang bukan pilihan pertama aku. Terlebih lagi jurusannya tidak se-eksis seperti jurusan psikologi, hukum, manajemen dan lain-lain. Fyi, jurusan aku di kampus sekarang adalah Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Apa itu? Singkatnya, jurusan ini termasuk ke dalam jurusan kependidikan yang mempelajari bagaimana caranya belajar. Nah makin bingung ya? (sama). Akan tetapi, orang tua selalu berpesan, “Tidak masalah jurusan apa yang kamu pilih, yang penting kamu sungguh-sungguh Karena belajar itu bisa kapan saja, dimana saja, dan di jurusan apa saja.” Pernah juga mas Billy Boen “ngetweet” yang intinya, esensi dari kuliah itu adalah proses pendewasaan diri.

Lalu, untuk YOTers yang termasuk golongan yang memilih pilihan kedua (menunggu dan mencoba lagi), itu juga sama sekali tidak salah. Aku punya teman yang kondisinya memilih pilihan kedua dan so far, dia bahagia dengan pilihannya (semoga seterusnya juga demikian). Karena saat dia memutuskan untuk menunggu, dia tidak hanya menganggur tidak jelas tetapi justru mendalama passionnya selama setahun menunggu itu, which is good.

So, kesimpulannya adalah, tidak ada yang namanya salah “jurusan”, karena hakikatnya kuliah itu adalah proses pendewasaan diri untuk menghadapi level selanjutnya dari kehidupan. Tidak masalah juga YOTers memilih pilihan yang kesatu ataupun kedua, yang paling penting adalah pilihan YOTers sudah YOTers pertimbangkan dengan sangat matang dan YOTers juga komitmen dan bersungguh-sungguh dengan pilihannya.

“Because learning is a lifetime process”.

That’s all YOTers sharing opini aku, semoga bermanfaat.

See you on TOP!

 

Gibran Qadaranta - UNJ - @gibqar

  




By : Gibran Qadaranta

Posted on September 17, 2015 read:74

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter