Sang Sarjana

Saya sering tergelitik ketika ditanya, “Kapan nikah?”. Ada dua alasan utama kenapa saya merasa tergelitik. Pertama, saya masih berada di awal tahun ketiga kuliah strata 1. Kedua, saya tak berpikir akan nikah persis setelah lulus dari perguruan tinggi (insyaallah) dua tahun mendatang. Toh, saya juga merasa masih terlalu unyu untuk menikah, hehe. Saya pikir akan lebih baik ketika saya menjawab hanya dengan senyuman karena sudah pasti akan muncul perbincangan lebih panjang tentang hal ini ketika saya menjawab dengan beberapa alasan diatas.

Menikah benar-benar bukan tujuan jangka pendek saya secara pribadi, at least setelah lulus dari universitas. Saya berpikir, sarjana, apalagi laki-laki terlalu prematur ketika memutuskan menikah pas setelah lulus dari perguruan tinggi. Menikah, tentu sebuah tujuan setiap lelaki. Namun, ada hal lain yang perlu ‘sarjana baru’ lakukan setelah lulus dan sebelum menikah, karena sarjana merupakan titel yang mahal.

Kenapa mahal? Karena tak semua anak muda yang ingin bergelar sarjana bisa merasakannya. Mungkin, hanya satu dari 10 orang yang bisa bergelar sarjana karena semakin sulitnya akses menuju kesana. Singkatnya, para sarjana telah diberkati Tuhan untuk bisa merasakan empat tahun menjadi mahasiswa dan akhirnya bergelar sarjana.

Menurut saya, ‘sarjana baru’ sedang berada dalam pintu kehidupan yang sebenarnya setelah ia lulus. Bagaimana tidak, empat tahun (atau lebih) berkutat dengan penugasan dari dosen yang diwarnai oleh tawa, tangis, perjuangan, bahkan pengeluaran yang luar biasa hanya sebagai ‘latihan’ untuk hidup di ‘kehidupan nyata’, yaitu setelah gelar sarjana melekat pada diri.

Lalu apa yang harus dilakukan para sarjana setelah lulus? Apakah hanya sebagai penambah jumlah pengangguran di Indonesia? Apakah hanya untuk mendapatkan pekerjaan layak di perusahaan terkenal? Apakah hanya sebagai beban bagi bangsa Indonesia? Mungkin, jawabannya tidak dari tiga pilihan tersebut.

Pada hakikatnya, menjadi sarjana adalah menjadi penanggungjawab terhadap sebuah kesempatan. Tuhan tak memberikan kesempatan tersebut kepada semua orang. Hanya orang-orang terpilih yang bisa bertitel sarjana. Maka dari itu, posisi sarjana selalu dianggap ‘penting’ oleh masyarakat. Mereka memiliki ekspektasi tinggi kepada sarjana yang sudah melalui proses panjang di kampus.

Satu-satunya cara untuk bertanggungjawab adalah dengan berkontribusi. Contoh kecilnya, sang sarjana tersebut tak akan bisa menjadi sarjana jika tak ada sokongan keluarga. Pun, dengan sarjana yang survive karena beasiswa, let’s say, BidikMisi. Merekapun sebenarnya punya hutang kepada rakyat karena uang tersebut juga berasal dari rakyat.

Maka, kontribusi perlu dilakukan sekecil apapun, asal dapat dirasakan manfaatnya. Jika belum bisa berkontribusi untuk negara, bukankah masih bisa untuk lingkungan sekitar? Jika belum bisa untuk lingkungan sekitar, bukankah masih bisa untuk keluarga besar? Jika tetap tidak bisa, bukankah untuk orang tua bisa?

Last but not least, artikel ini bukan bermaksud menggurui karena toh saya juga belum merasakan menjadi sarjana itu seperti apa. Namun, saya berharap artikel ini bisa menjadi reminder untuk kita semua calon sarjana dan sang sarjana seluruh Indonesia agar tak lupa bahwa sarjana tercipta bukan untuk berleha-leha, namun sarjana ada untuk mengabdi.

Semoga sang sarjana tak hanya menganggap sarjana sebagai titel tak bermakna. Pun, semoga artikel ini tak menghambat sang sarjana untuk menikah setelah lulus dari strata 1. Toh, kontribusi bisa dilakukan kapanpun. Kalau mau menikah, monggo. Asal kontribusi tetap jalan, sang sarjana!

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on September 04, 2015 read:138

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter