Saya, Buku, dan Mimpi untuk Anak Bangsa

Lagi-lagi saya ingin mengulang pepatah yang sempat saya tuliskan di tulisan pertama saya, “Buku adalah jendela dunia”. Saya sangat sering mengingat kata-kata itu karena pernah ditulis dengan ukuran sangat besar di SD saya dulu. Sejak kecil saya sangat suka membaca. Mungkin karena dorongan orang tua saya juga yang telah membiasakan saya untuk membaca buku sejak kecil. Sejak bisa membaca pada usia sekitar 3-4 tahun, saya dibuat terbiasa untuk membaca berbagai hal, mulai ensiklopedia berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris, hingga berlangganan majalah anak, Bobo dan Donal Bebek.

Dengan kebiasaan membaca lumayan tinggi, saya punya banyak sekali buku yang saya suka. Tapi kalau disuruh memilih, saya memilih 3 buku tentang kreativitas : “Kreatif Sampai Mati” karya Wahyu Aditya, “Creative Junkies” dan “101 Creative Notes” karya Yoris Sebastian. Mengapa saya memilih 3 buku itu? Karena ketiga buku itu benar-benar datang di saat saya benar-benar membutuhkannya, dan benar-benar menyelesaikan banyak tantangan yang saya hadapi. Saya yang sejak dulu adalah orang yang sangat minder apabila berbicara tentang kreativitas, menjadi jauh lebih percaya diri dalam hal kreativitas, dengan membaca dan mempraktekkan apa yang ada di buku-buku tersebut.

Ngomong-ngomong, sejak kecil hingga memasuki perguruan tinggi, setiap ditanya hobi, saya selalu jawab “membaca” atau “bermain video game”. Namun baru-baru ini sempat ada yang bilang “bro kalo lo ditanya sama orang luar negeri hobi lo apa, kalo lo jawab baca bakal diketawain. Karena bagi mereka membaca itu wajib”. Entah benar atau tidak akan kejadian seperti itu, yang jelas memang kebiasaan membaca orang Indonesia sangat kurang. Hal ini diperparah dengan kekurangan kita dalam memanfaatkan teknologi yang sangat maju sekarang ini. Dibandingkan menggunakannya untuk mendapatkan jauh lebih banyak informasi, kebanyakan orang lebih banyak hanya menggunakannya untuk fitur-fitur media sosial, kamera, dan bermain. Ada suatu fakta, dari suatu video TEDx Jakarta saya tahu bahwa kecepatan rata-rata membaca orang Indonesia hanya setara kecepatan membaca anak SD, sangat jauh dibandingkan negara semacam Amerika. Saya yakin ini salah satu penghambat berkembangnya pemikiran warga Indonesia.

Oleh karena itu, melihat perkembangan teknologi, dan sesuai dengan passion saya dalam pengembangan manusia dan ide, ditambah minat saya tentang media, saya suatu saat ingin menulis buku tentang bagaimana teknologi mampu membuat bangsa Indonesia ini berkembang lebih pesat. Segmennya akan saya lihat tergantung perkembangan Indonesia saat itu. Misalkan untuk anak muda, karena sekarang organisasi atau komunitas yang bergerak dalam youth empowerment sudah sangat banyak, tentu nanti akan semakin berkembang bentuknya, jadi akan disesuaikan. Selain itu, karena saya juga sangat menyukai novel fantasi dan detektif, saya juga ingin membuat novel fantasi atau detektif yang mengangkat juga nilai-nilai dan budaya Indonesia.

  




By : Yuza Mulia

Posted on March 21, 2014 read:163

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter