Sepercik Api dalam Kegelapan

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, salah satu sekolah kedinasan terbaik negeri ini di bawah Kementrian Keuangan. Kampus yang menyimpan banyak keunikan tersendiri di berbagai sudut kehidupan perkuliahan. Kampus yang mirip seperti perpaduan antara Universitas dan Sekolah Kedinasan sesungguhnya. Kampus yang berbeda dengan Sekolah Kedinasan lainnya. Perkumpulan dari seluruh perwakilan terbaik daerah di seluruh pelosok Indonesia, menjadikannya satu dan menyatu di kampus Ali Wardhana. Calon putra putri punggawa keuangan Negara.

            Para mahasiswa menginjakkan kaki di sini dengan berbagai latar belakang. Kendala ekonomi keluarga, impian, keinginan orang tua, ambisi dan juga karena hanya inilah kesempatan sisa yang dipunya setelah ditolak di berbagai instansi pendidikan.

            Tidak sedikit dari mereka yang sudah memberikan banyak pengorbanan untuk kampus ini hanya untuk menjadi bagian dari STAN. Meninggalkan Universitas terbaik di negeri ini, memendam seluruh impiannya untuk pengabdian orang tua, merelakan satu atau dua tahun pendidikan di universitas sebelumnya begitu saja demi STAN, melupakan passion-nya atau bahkan menahan sesak saat merelakan kasihnya yang tak sanggup melawan jarak dan waktu.

            Kampus yang digambarkan sebagai miniatur negeri ini, dengan berbagai masalah, kisah dan kebanggaan yang dimilikinya. Kampus yang dikenal berada di kota Metropolitan, walau tak begitu juga nyatanya. Kampus yang dirasa sarat akan kebiasaan dan kehidupan ibu kota, walau tak begitu juga aslinya. Kampus yang juga penuh dengan kebanggaan atau pemberontakan hati di balik senyumnya.

            Lucu jika kami disamakan dengan anak rantau yang menempuh pendidikan di Ibu Kota. Tinggal di lingkungan masyarakat yang masih sarat akan nilai jaman dahulu. Jauh dari kata hedon dan pergaulan kekinian. Kampus kami setara dengan universitas terbaik negeri, tapi cara berpakaian, gaya hidup dan pergaulan, tidak. Kami berbeda. Berbeda jalan, berbeda kelas, berbeda kebiasaan.

Terkadang kehidupan kampus ini layaknya pipa aliran air. Terkungkung didalam lorong, dibatasi oleh dinding waktu, kesempatan, kebiasaan dan tempat. Sarat akan peraturan disetiap langkah untuk berjalan. Semuanya telah diatur sedemikian rupa. Kami hanya tinggal menerima, jalani. Seperti layaknya bersekolah, bukan berkuliah.

Tapi inilah zona nyaman. Sebagian besar mahasiswanya merasa dibuat nyaman dalam lingkungan ini, berkutat dengan kehidupan sekitar,  mengalir seperti air di dalam pipa, sudah ditata, jalani, ikuti, hanya tinggal menunggu kemana akan dialirkan. Tak perlu susah-susah bergolak, pada saatnya nanti pasti akan mendapatkan wadahnya sendiri.

            Hanya sedikit dari air itu yang bergejolak dan keluar dari zona nyamannya. Membuat rute perjalanan alirannya sendiri, mendapatkan pengalaman dan kisah yang membuatnya semakin kuat untuk mengalir. Saat ia sudah mendapatkan wadahnya sendiri, dia lah yang akan muncul kepermukaan. Dialah yang dipandang karena perbedaannya. Tetapi itu layaknya seperti percikan air. Hanya sedikit dari para mahasiswa STAN yang berani keluar zona nyaman ini dan sadar akan angka bukanlah yang utama.

            Hunger game, kehidupan di sini layaknya sebuah kompetisi yang saling membunuh dan penuh strategi. Akan selalu ada yang tereliminasi disetiap waktunya. Kosakata seperti Psy Trap mungkin hanya ada di kampus ini. Sosok yang diam-diam menghanyutkan, selalu menunjukkan wajah polos dan keluguannya, lalu tiba-tiba muncul sebagai peroleh angka terbesar. Menjadi sebuah budaya dan hal biasa dalam kompetisi perkuliahan, itulah mahasiswa STAN.

            Drop Out adalah sebuah gema yang selalu terngiang dalam kehidupan setiap mahasiswanya yang tanpa sadar merasuk dalam dirinya, menguasai otaknya bahkan membawanya dalam alam mimpi lalu merubah karakter dirinya. Hal yang sering didengar, entah sebagai ancaman atau peringatan, ditelinga kami itu sama saja. Membuat mahasiswa di dalamnya mengejar akan sebuah angka. Pencapaian nilai yang diukur dengan peringkat dan ditulis di selembar kertas.

            Hampir seluruh mahasiswanya tertunduk takut dengan dua huruf, DO, yang selalu menyapanya hampir diseluruh waktunya di kampus ini. Membuatnya apatis dan tak peduli lingkungan sekitar, tak peduli jeritan kebutuhan batin dan skill lainnya, tak peduli kawan dan memakai topeng disetiap senyum atau wajah polosnya.

            Inilah kami, mahasiswa yang harus tunduk pada birokrasi dan system, berjuang menjauhi ancaman DO, berusaha keras mengakali waktu untuk kami yang ingin melawan arus demi peningkatan skill dan pengembangan diri serta mengikhlaskan waktu tidur agar mampu bertahan ditengah derasnya kompetisi mengejar sebuah angka.

            Terdengar miris saat mengetahui bahwa di mata masyarakat luas, mahasiswa STAN tidak pernah peduli dengan kegiatan aktifis dan social di luar kampus, mahasiswa STAN tidak pernah bergerak dan berekspresi seperti mahasiswa kampus lain pada umumnya yang mampu mengukir revolusi di berbagai bidang, serta mahasiswa STAN dikenal sebagai mahasiswa apatis, hanya cerdas karena buku dan tidak ada kemampuan di luar kemampuan akademik. Benarkah?

            Tidak jarang penyelenggara acara atau panitia lomba yang kami ikuti heran dengan asal instansi kami yaitu STAN karena mereka jarang menemukan anak STAN yang bersedia dan mau mengikuti kegiatan di luar seperti itu kecuali lomba olimpiade yang bersifat akademik. Sebegitu kah minimnya mahasiswa STAN yang berani keluar zona nyaman? Sebesar itukah mahasiswa STAN yang apatis dan terobsesi dengan angka dan nilai?

            Disekolahkan oleh Negara, menuntut kami untuk belajar, belajar dan belajar. Jadilah pintar, mampu bertahan dengan kompetisi, meraih score tinggi, menjadi pegawai yang baik, penurut dan cerdas. Begitulah alurnya. Seperti sebuah adat yang diwariskan turun temurun. Dan itulah yang selalu ditanamkan dalam otak kami terus-menerus. Apakah harus selalu begitu? Jika terus selalu begitu kapan negeri ini akan berubah?

            Habis gelap terbitlah terang. Generasi Matahari muncul di ufuk Timur memberi secercah cahaya akan perubahan. Layaknya botol harapan tanpa nama, kami menampung segala harapan perubahan untuk kampus ini. Inilah generasi perubahan. Permata harapan negeri.

            Tetap menjaga budaya luhur, menghilangkan budaya negative dan memberikan inovasi adalah hal yang sedang kami lakukan untuk kampus ini. Integritas dan kedisiplinan selalu kami pertahankan, sikap apatis dalam proses kami hilangkan, prestasi di segala bidang dan perubahan sedang kami rancang.

            Kini semakin banyak mahasiswa yang mampu muncul ke permukaan, menunjukkan kebanggaan atas kampus ini pada dunia, keluar dari zona nyaman dan memberikan perubahan bahkan di luar lingkungan kebiasaannya. Menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya pada negeri. Kami tidak lagi anak apatis yang hanya terobsesi dengan angka dan nilai. Kami punya kelas dan kami punya prestasi.

            Kami adalah calon punggawa keuangan Negara. Kami adalah calon PNS yang penuh dengan kreatifitas dan inovasi, yang mampu think out of the box, yang akan memberikan perubahan besar untuk negeri ini. Karena kami adalah calon aparatur Negara yang akan menjalankan laju negeri ini. Jika hanya begitu saja jalan yang ditempuh, kapan negeri ini mampu berubah?

            Kami adalah perwakilan terbaik daerah kami dari seluruh pelosok negeri ini. Kami punya kemampuan yang lebih, tidak hanya untuk sekedar mengejar angka di atas kertas. Dan kami mampu mengharumkan kampus ini diseluruh segi kemampuan. Dan kami akan segera buktikan hal itu.

            Biarkan masyarakat terheran-heran dan kebingungan, biarkan mahasiswa kampus lain melirik sinis kepada kami, tetapi kamilah generasi perubahan kampus tercinta kami, STAN. Kami mampu menjadi pesaing kuat prestasi kampus lain. Kami mampu memberikan berjuta prestasi untuk kebanggaan kampus ini dan kami mau berusaha untuk itu.

            Kami hanya butuhkan sebuah kesempatan dan tempat untuk berekspresi dan berkreasi di dunia luar. Kami butuhkan dukungan untuk berprestasi. Hanya sebuah kesempatan dan dukungan. Dan biarkan kami besarkan percikan api ini dalam kegelapan untuk berikan sinarnya menerangi kampus ini dan kobarannya membesarkan nama kampus ini.

            Semangat ini masih membara. Keinginan ini masih begitu kuat. Keyakinan kami masih belum kalah dengan kata menyerah. Kami ingin tunjukkan bahwa kami ke kampus ini karena ingin maju, mengembangkan diri dan inilah tempat yang tepat untuk kami. Tidak ingin lagi ada kata terpaksa dan pemberontakan dalam hati seluruh mahasiswa STAN.

            Kami inginkan pengorbanan yang sudah kami berikan untuk kampus ini ada harganya, ada nilainya dan setara dengan apa yang akan kami dapatkan. Bukan hanya sekedar mengejar sebuah angka, nilai, peringkat dan materi. Dan yang ingin kami dapatkan adalah penghargaan, kesempatan, wadah dan prestasi yang juga secara otomatis mengharumkan nama kampus ini.

            Kami ingin tunjukkan bahwa inilah Indonesia seharusnya. Beragam, berbeda-beda, tetapi tetap satu. Perbedaan itu menjadi kekuatan dan kebanggaan. Prestasi yang ingin kami ukir adalah prestasi yang menggambarkan inilah yang layak negeri ini dapatkan.

            Walaupun kami harus tunduk pada birokrasi dan system tetapi bukan berarti tidak ada hal yang bisa kami lakukan untuk mengharumkan kampus ini. Walau berbagai jeratan batasan dan ancaman harus kami hadapi sehari-hari tetapi bukan berarti kami tak mampu berprestasi. Karena kamilah perwakilan terbaik dan orang-orang terpilih, maka berikan kami kesempatan untuk menujukkan siapa kami sesungguhnya, bagaimana kelas kami seharusnya, memberikan yang terbaik untuk kampus ini dan menjadi yang terbaik membawa kampus ini di mata Nasional maupun Internasional.

            Karena STAN adalah miniatur Indonesia, berikan kami tempat untuk membanggakan negeri ini dengan kemampuan kami melalui kampus tercinta kami, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Didedikasikan untuk transformasi Politeknik Keuangan Negara STAN

Oleh :

Lisa Amalia Artistry Ramadhani

  




By : LISA AMALIA ARTISTRY RAMADHANI

Posted on August 12, 2015 read:122

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter