TAK PUNYA ETIKA

 

 

Why so serious?

Beberapa hari lalu, saya makan malam bersama ketiga teman. Mencoba antimainstream, kami tak makan di resto, tetapi di sebuah kamar kos kecil yang penuh diisi oleh kami berempat. Menu yang menggugah selera makan kami malam itu adalah nasi goreng pedas favorit. Kami gelar “menu spesial” tanpa embel-embel appetizer maupun dessert. Kami melahapnya seperti belum makan seminggu. Sesekali tawa dan candaan ala anak muda mewarnai makan malam tersebut. Kami menikmati makan malam tersebut. Meski sederhana, kami tetap bahagia dan kadang bertingkah konyol.

Ada hal menarik saat itu, ketika salah satu teman saya kentut selama proses makan malam berlangsung. Tak hanya sekali, dia mengeluarkan bunyi khas dan bau tak sedap dari bagian belakang tubuhnya itu berkali-kali. Tak ayal, kami bertiga mengumpat dan menyebut dia tak punya etika. Memang selama kuliah, kami tak diajarkan bagaimana berlaku baik ketika makan, table-manner tak ada di mata kuliah kami karena kami bukan mahasiswa jurusan perhotelan. Namun, kami belajar tentang etika dalam bisnis, yang dasarnya adalah teori tentang etika.

Etika, dapat diartikan sebagai sesuatu yang dianggap baik dan luhur, berhubungan dengan sopan santun, yang berlaku secara umum. Lebih mengerucut, ada yang dinamakan etiket. Istilah ini bermakna etika yang lebih sempit karena berlaku di tempat-tempat tertentu. Masing-masing daerah memiliki etiket sendiri. Suku Jawa memiliki etiket berbeda dengan Suku Batak, misalnya. Namun, keduanya tetap berbicara tentang kepantasan yang sudah mendarah daging.

Nah, mungkin beberapa orang menganggap perilaku teman saya tadi adalah sebuah bentuk pelanggaran etika. Di sisi lain, sebagian lagi menganggap hal tersebut wajar karena dilakukan oleh sesama teman, yang hanya bermaksud bercanda. Tentu, candaan tersebut tak kami masukkan ke hati. Kami slow saja. Disini, saya tak akan membahas apakah tindakan tersebut menyalahi etika atau tidak.

Menurut saya, selama orang lain yang disampingnya tidak merasa keberatan dan bahkan menganggap itu lelucon yang menghibur, sah-sah saja. Namun, ketika orang di kelilingnya merasa dirugikan, maka disini etika dilanggar. Ketika etika dipermainkan, maka kekuatan sebuah etika yang notabene aturan tak tertulis menjadi lemah. Adanya etika membuat kita cenderung serius memandang sesuatu.

Misal, ketika kita melihat beberapa anak muda memakai tindik di telinganya, kita memandang mereka sebagai makhluk tak berpendidikan, seenaknya, berandalan, dan aneka cap negatif lainnya, begitupula ketika kita memandang lelaki yang memiliki rambut gondrong. Etika (atau etiket) yang berlaku memang yang membentuk kita “asing” terhadap hal-hal seperti itu. Padahal dalam dunia seni, semua itu dipandang biasa.

Menjadi serius dalam memandang sesuatu adalah sebuah hal yang penting, di beberapa tempat dan waktu. Kita perlu memahami kapan kita harus serius (dan beretika), dan kapan kita “sembarangan”. Terlalu serius membuat kita terserang banyak penyakit, begitu kata dokter. Stress karena berbagai permasalahan duniawi membuat kita menjadi sosok yang mudah marah. So, why so serious?

Secara umum, pembahasan tentang etika ini adalah pembahasan tentang perilaku manusia (attitude). Banyak yang bilang, banyak orang sukses memiliki perilaku yang baik. Ini adalah pendapat yang relatif, bisa benar, bisa juga salah. Etika yang berlaku perlu dijunjung tinggi demi mencapai masyarakat yang teratur. Namun, adakalanya kita butuh intermezzo dengan tidak melulu berada di kubangan formalitas, di waktu-waktu tertentu.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador Batch 5

Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Mari berdiskusi di @azulfiyan

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on April 03, 2015 read:131

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter