Tak Sekadar Hitam di Atas Putih

Karena kita yang dapat menghargai proses yang kita laluilah yang akan memiliki sukses yang paling bermakna – Andri Wongso

Apakah YOTers setuju jika saya berkata bahwa masih banyak orang yang berpikir pragmatis? Bahkan, mungkin kita adalah bagian dari mereka. Satu pertanyaan ini mungkin bisa menggambarkan kepragmatisan kita; benarkah sekolah hanya untuk memeroleh ijazah agar mempermudah kita mendapat pekerjaan yang layak atau untuk hal lain yang lebih ‘bermakna’?

Pragmatis dapat diartikan sebagai keyakinan akan suatu keberhasilan (kebenaran) yang diperoleh secara praktis dan menghasilkan manfaat yang praktis pula. Pragmatis berasal dari istilah Yunani, pragma yang berarti tindakan yang kemudian diimbuhi kata isme yang berarti sebuah paham. Intinya, pragmatisme berlandaskan perbuatan yang nantinya dianggap bermanfaat.

Pada mulanya di Amerika, pragmatisme dimaksudkan sebagai solusi manusia untuk menghadapi masalah-malasah kehidupan. Namun, nyatanya sifat pragmatis membuat manusia cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai keberhasilan yang dianggap sebuah kebenaran. Misalnya, dalam bersekolah sebenarnya kita mau ijazahnya apa ilmunya?

Pandangan pragmatis cenderung membuat banyak siswa bersekolah untuk mendapatkan ijazah yang nantinya dapat mempermudah jalan untuk mendapat pekerjaan yang memiliki prestise. Padahal, menurut Ki Hajar Dewantoro, tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia yang artinya menjadikan manusia menjadi semakin terampil ‘mengendalikan diri’ untuk bersikap. Jika berpikir pragmatis, maka pendidikan hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mencapai pekerjaan yang layak, bukan pengembangan potensi.

Padahal, ada banyak hal yang bisa dilakukan sebagai manusia yang sudah menjadi ‘manusia’ melalui proses pendidikan, bukan sekadar agar dapat mencari uang sebesar-besarnya melalui pekerjaan layak dari ijazah yang didapat dari sekolah. Tan Malaka pernah berkata bahwa pendidikan berperan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Seharusnya, sekolah membuat kita peka terhadap kebutuhan sekitar, bukan kebutuhan pragmatis semata.

Kita bisa bermanfaat bagi orang lain melalui banyak cara seperti menjadi pengajar sukarela di daerah pedalaman yang kesulitan mengakses pendidikan, kita juga bisa menyumbang ide kita untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat sehingga waktu kita untuk bersekolah tinggi tidak hanya untuk sebuah ijazah, namun ada hal yang lebih besar dan bermakna yang bisa dikakukan.

Tak hanya tentang ijazah, segala hal dilakukan secara praktis bisa jadi tidak baik untuk kita. Semua pasti setuju makanan cepat saji (junk food) kurang baik bagi kesehatan. Masih lebih baik makan sayur bayam yang hasil panen dari kebun sebelah. Bagi saya, kehidupan adalah tentang menghargai proses, bukan hanya hasil yang akan diperoleh. Jika prosesnya baik, saya yakin hasilnya pun tidak akan menghianati.

Jika sebuah dokumen hitam di atas putih lebih penting dari sebuah kenyataan bahwa ilmu kita bisa dimanfaatkan untuk make a better life, lalu kenapa kita hanya memilih hitam di atas putihnya saja? Toh, banyak orang yang bisa mendapat si hitam di atas putih tersebut tanpa melalui proses belajar, tapi proses pembelian yang praktis.  Meaning-nya nggak dapet, bro!

Ahmad Zulfiyan @azulfiyan

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on December 10, 2015 read:138

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter