Tak Sosial

Semenjak media sosial mengalami perkembangan, manusia menjadi makhluk bertempat tinggal ganda. Mereka tak hanya mendiami “kehidupan nyata”, namun juga kehidupan maya. Manusia dengan mudah berpindah dari kehidupan fisiknya menuju kehidupan maya hanya dengan memencet tombol tertentu dari gadgetnya. Tak hanya ke toko kelontong, museum, atau kantor berita, manusia amat mudah berkunjung ke Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya. Mereka tak perlu bertemu langsung jika ingin berkomunikasi. Social media eases people’s business. Bahkan, berbelanjapun sudah dapat dilakukan secara maya. Pelaku modernitas “menciptakan” media sosial untuk memudahkan kegiatan manusia. Bentuk kemudahan tersebut bermacam-macam, seperti pemerolehan dan penyebarluasan informasi terkini, publikasi artikel, foto, pemenuhan kebutuhan hidup, dan sebagainya. Secara umum, adanya media sosial menggunting jarak antarmanusia. Manusia hanya perlu memencet tombol tertentu untuk berkomunikasi dengan rekan nan jauh disana. Namun, kadang kita lupa dengan fungsi media sosial tersebut. Saya sering menjumpai beberapa orang yang sedang berkumpul di suatu tempat. Namun, mereka Nampak lebih nyaman bersama gadget di tangannya daripada berbincang dengan manusia disampingnya. Padahal, saya yakin mereka sudah memiliki rencana untuk berkumpul disitu sebelumnya. Apakah mereka berkumpul menjadi satu untuk melihat orang lain memainkan gadgetnya saja? Jika menengok ke belakang, tentu kejadiannya tak seperti itu. Coba tanyakan kepada orang tua, atau kakek-nenek kita, apa yang terjadi ketika beberapa orang sedang berkumpul, ketika belum ada gadget di kehidupan mereka? Yang terjadi adalah, mereka berbincang untuk membahas sesuatu. Misalnya, ketika ada kumpul keluarga, silaturahim lebih terasa ketika semua berbincang satu sama lain, tanpa menggunakan gadgetnya. Kenapa harus memainkan gadget? Toh sudah bertemu muka? Ketika dalam pertemuan, masih ada yang memainkan gadgetnya, untuk alasan tertentu, hal itu menunjukkan respek kecil terhadap orang lain. Kita lebih menghargai gadget di tangan daripada orang yang sedang berada di samping kita. Padahal, mereka memiliki keperluan dengan kita. Jika gadget lebih berharga, kenapa harus bertemu? Hal kecil seperti ini dapat menjadi masalah besar ketika gadget menjadi maharaja. Bermain gadget ketika bertemu sapa dengan orang lain menjadi kebiasaan. Respekpun menjadi hal yang langka. Memang, gadget memudahkan manusia dalam kehidupannya. Namun, gadget diciptakan bukan untuk membatasi kehidupan nyata kita dengan orang lain. Azulfiyan, YOT CA UNJ

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on April 28, 2015 read:164

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter