Teman Tukang Minyak Wangipun Kecipratan Wangi

Beberapa hari lalu sambil menunggu dosen datang, saya dan salah satu teman sekelas berbincang santai di salah satu tempat nongkrong di sudut gedung perkuliahan. Seperti biasa, kami ngobrol segala hal yang bisa dijadikan bahan obrolan seperti kegiatan terkini sampai masalah percintaan. Di sela-sela sesi obrolan kami, teman saya bilang, “Tahu nggak, temen penjual parfum pasti kecipratan wangi. Makanya gue deket sama lo biar ketularan pintarnya.” Awalnya saya hanya menganggap ocehan dia sebagai angin lalu. Namun, jika dipikir lebih lanjut, omongan teman saya tersebut banyak benarnya.

Kebenarannya bukan terdapat pada kata ‘pintar’ ya, I am still nothing! Namun, lingkungan teman sepermainan kita dapat mendefinisikan bagaimana kita sebenarnya. Dalam ilmu sosiologi, terdapat istilah sosialisasi yang berarti penanaman kebiasaan dari pihak satu ke pihak lainnya dalam sebuah kelompok tertentu. Nah, salah satu agen sosialisasi adalah teman sebaya. Banyak orang percaya bahwa pengaruh teman sepermainan dalam pembentukan personal attitude sangat besar. Pandangan tersebut masuk akal.

Coba kita lihat segerombolan preman bertatto di sebuah daerah. Bisa jadi, beberapa dari preman-preman sangar tersebut awalnya tak memiliki kualifikasi sebagai preman. Namun, karena pengaruh teman sepermainan, akhirnya mereka menjadi ‘preman beneran’ karena kebiasaan yang muncul ketika bersama-sama. Pun, meski beberapa diantaranya ada yang ‘baik’, masyarakat tetap melihat mereka sebagai segerombolan preman.

Contoh lain, ketika musim ujian sudah dekat, banyak inisiatif untuk membuat projek belajar kelompok. Murid yang belum sepandai teman-temannya dan memutuskan ikut, tentu akan mengalami proses belajar bersama teman-temannya yang lebih menguasai pelajaran. Jika dilakukan secara masif, tentu akan membuat kebiasaan baru; belajar bersama, yang akhirnya akan memeroleh pehamanan ihwal pelajaran yang sebelumnya dirasa susah.

Panutan Agung umat Islam, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Permisalah teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau mendapat bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Secara pribadi, saya tidak berkampanye untuk mengotak-kotakkan antara teman baik untuk didekati dan teman buruk yang harus dijauhi. Lebih dari itu, mereka semua adalah teman kita. Namun, alangkah baiknya ketika kita dapat menempatkan diri ketika bergaul. Semakin banyak teman baik di sekeliling kita, saya yakin pengaruhnya akan semakin baik, begitupula sebaliknya. Tetapi, kadang batas antara baik dan buruk memang tipis. Tergantung bagaimana kita menyikapi sesuatu, dan teguh berpegang pada prinsip hidup yang kita percayai.

Ahmad Zulfiyan

YOT Campus Ambassador

Universitas Negeri Jakarta

Meet me at azulfiyan27@gmail.com

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on September 04, 2015 read:140

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter