The Power of Listening

Every good conversation starts with good listening - Unknown

Ketika saya iseng scroll timeline akun LINE, saya menemukan quote dari salah satu komedian tersohor di Indonesia, Raditya Dika. Dalam gambar foto Dika tersebut, dibawahnya tertulis ‘Tidak banyak laki-laki tahu, ketika perempuan marah dia hanya ingin didengarkan’. Benarkah? Jika kamu adalah perempuan, mungkin kamu tahu jawabannya.

Saya mencoba mencari fokus dari pesan yang Dika utarakan tersebut. Fokusnya adalah the power of listening. Dalam banyak pertemuan yang membahas tentang komunikasi, banyak yang terpaku hanya pada bagaimana berbicara luwes di depan publik. Padahal, ada yang lebih penting daripada itu. Sirly W Nasir, dalam kesempatannya menjadi moderator YOT Monthly Meeting beberapa bulan lalu menjelaskan bahwa dalam komunikasi, hal yang penting sebenarnya adalah pada saat kita mendengar.

Dalam berkomunikasi, ketika kita tak bisa menjadi pendengar yang baik, maka hal tersebut dapat mengurangi pemahaman kita dalam menerima pesan dari lawan bicara. Pun, listening adalah bentuk kita menghargai lawan bicara. Bayangkan kalau kita berbicara dengan orang yang sibuk main gadget sendiri? Kalau kata anak gaul sekarang, mungkin perasaannya jadi KZL (baca: Kesel). Sayangnya, gaul sama alay sekarang beda tipis.

Sudahlah, mari kembali ke cerita Dika tadi. Benarkah perempuan seperti itu? Tak hanya perempuan, semua orang juga pasti merasa kesal dan marah jika ‘tidak didengarkan’. Seorang guru yang ‘dikacangin’ muridnya pasti naik pitam. Begitupula dengan orang tua yang nasihatnya tidak diindahkan oleh anaknya. Tentu mereka juga merasa marah dan tak dihargai. Eh, kamu juga begitu kan?

Hal ini sesuai dengan Teori Kebutuhan yang pernah dicetuskan oleh Abraham Maslow. Dalam lima hierarki kebutuhan manusia yang ia buat, ada salah satu tingkatan yang menjelaskan bahwa manusia membutuhkan penghargaan. Manusia butuh untuk dihargai (needs of esteem). Nah, bentuk penghargaan tersebut bisa melalui proses mendengarkan.

The power of listening is real. Jika kamu tahu, pernah terjadi kecelakaan pesawat di India pada November 1996 diakibatkan oleh salah komunikasi antarpilot. Bisa jadi, hal tersebut disebabkan karena ‘salah dengar’. Kalau sudah salah seperti itu bisa fatal akibatnya. So, once again, the power of listening is real.

Dewi Lestari pernah berkata bahwa ketika menjadi pendengar baik, kita bisa menjadi penglibur lara bagi orang lain. Kita bisa menjadi ‘bermakna’ bagi mereka yang merasa sudah tidak bermakna. Sebenarnya, semua orang perlu menjadi pendengar yang baik. Dengan begitu, komunikasi juga akan berjalan lancar.  Jadi, bukan hanya perempuan saja toh yang perlu didengarkan?

Ahmad Zulfiyan, azulfiyan27@gmail.com

  




By : Ahmad Zulfiyan

Posted on January 09, 2016 read:111

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter