The Untold Stories

Sudah terlalu banyak keluh kesah yang terungkap dari masyarakat Indonesia atas kinerja dan fasilitas pemerintah yang kurang memuaskan. Baik dari segi pelayanan dan fasilitas prasarana tak pernah luput dari berbagai kritik dan koreksi masyarakat yang kecewa. Sejauh ini, jalan yang ditempuh hanya sekedar luapan hati pada surat pembaca maupun opini yang ditulis di media sosial. Belum ada tindakan nyata  untuk  memberikan  solusi  konkrit  atas  masalah  tersebut.  Kebanyakan  dari  masyarakat  hanya mengeluh dan berharap kinerja pemerintah yang lebih baik sebagai abdi negara yang bertugas melayani rakyat. Mahasiswa tak bosan-bosannya turun ke jalan, menuntut keadilan dan kinerja yang membaik. Dengan idealisme yang menggebu, mahasiswa baik negeri maupun swasta dengan lantang menyuarakan aspirasinya sebagai pemuda penerus bangsa.

 

Atas nama mahasiswa, ada sebagian mahasiswa yang juga ingin bersuara tapi terdiam. Mahasiswa yang mungkin  menjadi kunci perbaikan kualitas pemerintah. Mahasiswa yang telah mempertaruhkan mimpinya, masa mudanya yang “terbeli” dengan uang rakyat dengan niat tulus mengabdi untuk negara. Mahasiswa yang terlupakan dan terabaikan tapi mengemban tuntutan amanah publik yang begitu besar. Untuk seluruh masyarakat Indonesia, lupakah kalian bahwa  Indonesia tidak hanya memiliki Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta sebagai wadah pendidikan generasi muda, tapi juga memiliki Perguruan Tinggi Kedinasan yang kalian biayai melalui dana APBN tapi diabaikan begitu saja bahkan dipandang sebelah mata. Itulah kami dengan senyum manis dan keteguhan hati, mahasiswa kedinasan Indonesia.

 

Kami  diseleksi  dengan  begitu  ketat,  baik  secara  akademik, fisik  dan  personality.  Mahasiswa kedinasan  bukanlah  mahasiswa  yang  sekedarnya,  tapi  mahasiswa  berkualitas  yang  melewati  seleksi berlapis-lapis dengan persaingan yang kompetitif. Sayang sekali, berlian indah tersebut dibiarkan begitu saja dalam peti emas yang nyaman dan  terbatas. Kualitas pendidikan kedinasan pun tak luput seperti layaknya prasarana lain yang diadakan pemerintah, tidak begitu baik. Sistem dan pendidikan karakter yang ditanamkan jauh dari kata berkualitas. Jika pun mahasiswa kedinasan ada yang bagus, dapat dikatakan karena hanya individunya berkualitas.

 

Seperti layaknya sistem pemerintahan, kami terbelit dengan adanya birokrasi. Peraturan yang begitu rumit adalah belenggu yang membatasi. Wadah kami untuk berkembang dan berprestasi dipersulit. Kami dididik untuk hanya fokus pada akademik, nilai dan IP. Menghafalkan teori dan semua pelajaran yang ada agar dapat menjadi “prajurit” atau pegawai yang nanti dapat bekerja. Mari kita menengok ke sudut pandang lain, dengan zaman yang semakin modern dan persaingan yang begitu ketat, semua pihak menyadari bahwa kualitas bekerja dan kinerja tidak hanya sekedar dapat diukur dari angka Indeks Prestasi (IP) semata, tetapi juga softskill dan pengalaman dalam bekerja, baik dalam organisasi, volunteering, kompetisi, konferensi, workshop, magang dan kepanitiaan. Dengan sistem pendidikan yang hanya terkotak dan berkutat di dalam


kampus saja, dapat dibayangkan betapa kurangnya wadah kami untuk berkembang. Beberapa mahasiswa kedinasan yang berani keluar dari zona nyamannya, mencari kegiatan di luar, mengikuti kompetisi maupun konferensi dan berusaha mengembangkan diri, sekelompok yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Mungkin karena pengorbanan yang  diberikan  dari waktu dan tenaga memang lebih extra mile untuk melakukan  hal  tersebut  maka  tak  heran  hanya  sangat  sedikit  mahasiswa  yang  mau  melakukannya. Sayangnya, pihak-pihak tersebut mulai kelelahan dalam berjuang sendirian.

 

By :
Lisa Amalia Artistry Ramadhani

  




By : LISA AMALIA ARTISTRY RAMADHANI

Posted on August 12, 2015 read:84

  • YOT New Edition + T-Shirt

    IDR 149,500




  • rss 
  • youtube 
  • instagram 
  • facebook 
  • twitter